Skip to main content

#8 Jauh [Fiksi]

Kafe pinggir sungai tempat dulu Jenny dan Aditya sering menghabiskan makan malam sambil menulis laporan-laporan perjalanan menjadi pilihan Jenny untuk menghabiskan makan siang terakhirnya di Kota Semarang. Setelah ini dia akan bertolak ke Temanggung dan bertapa di sana. Jenny memesan pesanan standar, nasi goreng babat dan teh manis panas. Dia tersenyum tipis pada pelayan berseragam hitam putih yang sudah agak familiar dengan kehadiran Jenny.

Rasa lega dari perkataan Nadhira sudah mulai kehilangan efeknya. Dada Jenny kembali sesak demi melihat kursi dan pajangan yang dulu pernah mereka gunakan bersama. Aditya senang menjadikan pajangan-pajangan itu sebagai bahan lelucon, dan Jenny.. selalu tertawa pada apapun yang dia lontarkan. Bukan tawa yang dibuat-buat, tetapi tawa yang bahagia.

Jenny membuka galeri di ponselnya. Ini saatnya untuk menghapus semua kenangan itu. Foto-foto mereka berdua saat sedang bertugas, selfie di pesawa, selfie kelelahan, selfie berkeringat,. Tapi.. Jenny tertegun demi memandangi wajahnya sendiri. Satu demi satu gambar dia cermati, melihat betapa cantik dirinya di foto-foto itu. Senyum itu.. Jenny mengenali senyum itu sebagai senyum tulus yang bahagianya terpancar dari dalam. Dia pun ingat bagaimana caranya senyum itu bisa terbentuk, hanya jika Aditya sedang bersamanya, atau jika pun mereka tidak sedang bersama, Jenny sedang mengingatnya.

Dia beralih ke album foto pribadinya. Masih jelas diingatan, apa-apa saja yang menghantui pikirannya setiap gambar-gambar itu diambil. ‘Ini gue lagi mikirin deadline’ batin Jenny pada foto selfie yang dia ambil di optik kacamata, ‘ini gue lagi mikirin dia’ ujarnya lagi saat melihat dirinya tersenyum cemerlang mengenakan gaun hijau dan ceria, ‘karena hijau kan warna kesukaannya’ lanjutnya.

Jenny terus membuka galeri hingga tiba-tiba sepasang kaki terlihat mendekat. Jenny yang sedang menunduk awalnya tidak begitu peduli, kaki itu mengenakan sandal jepit dan huh bahkan sandal jepit saja mengingatkannya pada Aditya. Jenny mengangkat wajah, dengan maksud mengambil gelas teh manis panas yang sudah disodorkan pelayan saat jantungnya seperti ditikam palu godam.

Dentuman keras itu akibat sesosok pemuda tinggi jangkung, mengenakan celana pendek, kaos hijau army polos, sendal jepit dan bertopi, sedang berdiri menekuni buku menu tak jauh dari tempat duduk Jenny. Sekilas sosok itu terlihat mirip sekali dengan Aditya. Darah Jenny seakan berhenti mengalir, karena jika benar itu Aditya.. bagaimana dia bisa menemukannya? Bertanya mengapa dia resign pun tidak, bagaimana Aditya bisa tahu keberadaannya?

Jenny mematung memandang lekat sosok itu, ingin memanggil tapi dia terlalu salah tingkah. Sedetik kemudian sosok itu berbalik ke arah Jenny, mata mereka bertemu.
Oh.. batin Jenny. Salah orang. Perlahan aliran darahnya mulai mengalir normal lagi. Dia malu sendiri. Rasanya too good to be true sekali kalau Aditya sampai memberikan surprise yang begitu menyenangkan untuk Jenny. Jangankan memberi surprise, untuk membayangkan Aditya sebagai sosok yang nyata untuknya saja Jenny tidak berani.

‘Gue gak pernah minta untuk jatuh cinta sama lo!
Gue gak pernah berniat untuk sedalam ini punya perasaan sama lo!’

Lagi-lagi dia ingin menangis.
Melupakan adalah hal yang mustahil jika di setiap jengkal kehidupannya, bayangan Aditya selalu menghantui. Dia benar-benar ingin melenyapkan Aditya hingga ke akar. Jenny mengerang dalam hati.
Serumit ini masalah hati, padahal dia tahu, solusinya mudah saja tinggal diungkapkan. Perihal nanti Aditya menerima ungkapan hatinya, itu bonus. Tapi kalau tidak, berarti Jenny tahu bagaimana dia harus melanjutkan hidup.
Tapi Jenny tidak siap. Dia jatuh cinta bukan saja pada sosok Aditya, tapi pada kegamangan-kegamangan yang ditimbulkan. Percik-percik bahagia yang timbul akibat satu dua pembicaraan pendek, atau hanya sekedar mendapati Aditya melihat postingan insta storynya, apalagi sampai menyukai postingan instagramnya.. hal-hal kecil seperti itu yang menjadi candu bagi Jenny. 
Candu.. apapun itu, harus disembuhkan.
Jenny bertekad untuk sembuh, dan kali ini.. dia sungguh-sungguh.

***
Kupang, 9 Januari 2020
Ini awalnya mau kubikin si Jenny pindah ke Solo, kenapa jadi Temanggung ya.. mending Solo mending Temanggung ?

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …