Skip to main content

#7 Arah [Fiksi]

Jenny membuka mata dan menghembuskan napas lega. Untuk sepersekian detik dia merasakan aliran kelegaan yang luar biasa, kerongkongannya tadi tercekat namun sekarang seolah sumbatnya sudah lepas. Dia bisa bernapas dengan tenang tapi jadi bingung sendiri dengan apa yang barusan dia alami. Mungkinkah itu rasanya berdoa? Mungkinkah itu cara semesta berkomunikasi dengannya?

Ruang kuil kosong melompong. Perempuan berwajah oriental yang tadi diikutinya sudah pergi meninggalkan kuil tanpa jenny sadari. Buru-buru dia mengecek ponsel, dan segera beranjak meninggalkan kuil. Dia tidak sabar untuk menceritakan pengalamannya dengan satu dari tiga sahabatnya; Nadhira.

***

Nadhira termenung di depan layar laptop, nampak sekali berusaha keras untuk menuliskan sesuatu di atas kertas kosong yang dia tatap sejak lima belas menit lalu. Sedari tadi yang dia lakukan hanya mengetik satu baris, kemudian dihapus lagi berulang kali. Nadhira tahu dia tidak akan beranjak kemana-mana jika berdiam diri seperti ini. Karirnya sebagai seorang penulis juga tidak begitu melejit dan tidak ada satupun yang mengenal dirinya. Bukunya memang berhasil terbit dan terjual sebagian, namun tidak pernah sampai best seller, apalagi diangkat jadi film. Dia ingin menciptakan karya hebat, tapi karena pengalaman cintanya yang minim, novel-novelnya tidak pernah semanis penulis-penulis lain yang sudah berulang kali kawin-cerai. Nadhira sadar, bumbu termanis dalam sebuah novel adalah roman, dan untuk bisa menulis roman yang meyakinkan, setidaknya dia harus menjadi seorang petualang cinta.

Nadhira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pikirannya mulai bergerilya membandingkan kehidupannya dengan tiga sahabatnya, Rain yang menemukan cinta sejati dalam diri Biru.. Biru yang memiliki semua kriteria lelaki idaman; baik, penyayang, pendengar, setia, rajin, cerdas dan tampan.. Dee yang menemukan belahan jiwanya pada lelaki yang begitu mirip dengannya, sehingga mereka tidak perlu berbagi kata hanya untuk merasakan hal yang sama., dan Jenny...

Ah, ada sedikit rasa tenang yang diliputi rasa bersalah ketika dia mengingat Jenny. Setidaknya dalam kelompok mereka, dia bukan satu-satunya perempuan yang belum menemukan cinta sejatinya. Tapi Jenny sudah tahu siapa yang dia inginkan, hatinya telah terpaut oleh satu-satunya laki-laki yang belum pernah dia temui namun seperti sudah sangat mengenalnya. Lagi-lagi Nadhira lemas, setidaknya Jenny tahu lelaki siapa yang dia mau.. sedangkan dirinya..

Ponselnya berdering. Jenny memanggil dalam fitur video chat. Nadhira mengangkat telepon itu dengan lesu.

"Nadh! ajarin gue berdoa!" Jenny langsung menodong Jenny begitu video mereka tersambung. Nadhira mengernyitkan kening. Dia tahu sahabatnya ini belum menemukan agama, dan merasa baik-baik saja tanpa agama karena baginya kebaikan adalah jauh lebih penting daripada ritual yang membuat orang saling membanding-bandingkan.
Nadhira justru sebaliknya, seorang muslimah taat yang berjilbab, namun dia merasa tidak perlu repot-repot 'meluruskan' sahabatnya, karena dia tahu sebaik-baiknya dakwah adalah dengan memberi contoh. Dan terbukti, persahabatan mereka terjalin bertahun-tahun dengan damai tanpa perseteruan apapun terkait agama.

"Kamu di mana sekarang?" Nadhira tidak langsung menjawab pertanyaan Jenny,
"Semarang! dan sepertinya gue akan di sini lebih lama. Nadh, please ajarin gue caranya berdoa.."
"Sama siapa? Kamu kapan pulang ke Jakarta?" nadanya khawatir. Jenny mulai tidak sabar,
"Duuh, gue bisa jaga diri, oke.. Sekarang gue butuh lo untuk ajarin caranya berkomunikasi dengan Tuhan.."
"Hmmm.." Nadhira meletakkan ponsel di dudukan ponsel yang terbuat dari kayu "kenapa kok tiba-tiba.."
"Barusan gue ke kuil," Jenny memotong pertanyaan Nadhira tidak sabar "dan gue mencoba untuk berdoa dengan cara mereka. Terus gue merasakan sensasi yang berbeda. Seperti ada angin dingin yang menyentuh diri di dalam sini" Jenny menunjuk dadanya "dan gue gak tahu kenapa, tapi setelahnya gue merasa lega.. gue ingin perasaan ringan seperti ini. Gue pingin lupain Aditya, Nadh.." pintanya memelas.,

Nadhira mengangkat alis, jadi ini rupanya, pikirnya. Sebetulnya Nadhira sudah menduga, urusan Jenny ini tidak jauh-jauh dari Aditya. Tiba-tiba dia teringat Raja Namrud yang begitu berkekuatan besar dan berkuasa sampai mengaku Tuhan, tiba-tiba dikalahkan oleh seekor lalat. Hal paling kecil seperti inilah yang bisa menyita waktu dan pikiran seorang Jenny, jurnalis paling handal di kantor berita nasional ternama.

"Esensi dari berdoa," ujar Nadhira lembut "adalah untuk meminta ampun dan mengakui kesalahan. Tuhan selalu tahu kenapa kita berbuat kesalahan. Jika kita sepakat dengan entitas Tuhan yang sama, maka Tuhan kita adalah Yang Maha Mengetahui dan tidak ada sedikitpun hal yang luput dari-Nya. Dia tidak butuh penjelasan kenapa kita berbuat begini dan begitu, karena Dia tahu. Yang Dia mau hanyalah agar kita mengaku salah, dan menyerahkan diri sebagaimana seorang hamba menyerahkan diri pada Tuannya"

Jenny mendengar dengan sabar. Pikirannya berusaha menyambungkan kalimat Jenny dengan rasa yang tadi dia alami.

"Mungkin ini saatnya kamu berkomunikasi dengan dirimu sendiri. Tentang dosa-dosa masa lalu yang pernah kamu lakukan. Agar kamu belajar memaafkan dirimu, sambil meminta maaf pada Tuhanmu.. itu dulu." lanjut Nadhira pelan.

"Minta ampun? Itu saja? Gue ingin melupakan Aditya, bagaimana cara berdoa supaya dikabulkan.."

Hening.
Nadhira menatap sahabatnya lekat.
"Semua ada prosesnya, Jen. Ini bukan layanan customer service yang kamu meminta dan langsung diberi pelayanan. Itu adalah langkah pertama yang harus kamu ambil, to genuinely asking for forgiveness. Selanjutnya, ruh mu akan menemukan jalannya sendiri.. Insya Allah"

Jenny terdiam. Selama ini dia tidak pernah berdoa secara khusus, hanya terbersit permintaan-permintaan yang seringkali selalu sesuai dengan kenyataan. Jenny tidak pernah tahu apa itu artinya yang jelas hidupnya baik-baik saja tanpa doa dan konsep ketuhanan sebelum Aditya datang.

"Gue pingin ngelupain Aditya.." ujarnya lirih. Nadhira tertegun melihat sahabatnya yang kembali berkaca-kaca. Ingin rasanya dia datangi si Aditya ini membawakan kue tart manis dan lezat seperti yang Jenny pernah gambarkan sebaagai kue kesukaannya, dan melemparkan nampan kue itu ke wajahnya.

"Setiap kita pasti diuji, Jen. Dan ujian itu melelahkan. Ada yang lelah dengan ujian perasaan, keuangan, kesehatan., dan semua pasti pada porsinya masing-masing. Yang memberi ujian adalah Yang Maha Adil, porsinya sudah ditentukan dengan kekuatan kita. Kamu, aku, kita pasti bisa lewati ini semua. Kita hanya perlu ikuti prosedurnya, selangkah demi selangkah, sampai nanti Yang Maha Kuasa bilang sudah cukup, dan Dia buka keran hadiahnya sehingga mengalir tanpa henti."

"Lo yakin itu bakal terjadi?"
Nadhira mengangguk mantap,
"Tuhan ku tidak pernah berbohong"

Pembicaraan diakhiri dengan mereka saling menguatkan satu sama lain. Usia memang tidak bisa bohong, apalagi bagi perempuan yang masih hidup di tengah budaya ketimuran di mana menikah adalah status yang harus disandang perempuan se-awal mungkin.

Jenny menutup telepon dengan rasa sejuk yang berbeda. Hatinya kini merasakan hal yang baru lagi. Seperti dibasahi oleh embun, tapi tidak membuatnya berat karena basah. Dia menjalankan mobil dan mulai menyetir tanpa arah. Satu-satunya tujuan yang dia ingin datangi kini adalah toko buku, dia ingin membaca buku yang membuat hatinya tersiram embun dingin seperti kata-kata Nadhira tadi. Jenny terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang, masih menolak untuk menyalakan radio apalagi memutar playlist kesayangannya. Bagaimana bisa dia melupakan Aditya jika setiap lirik lagu mengingatkan padanya. Selalu saja ada yang membuat dia gagal lupa, jika itu tentang Aditya. Apalagi kota ini. Setiap bangkunya, setiap tikungannya, bahkan setiap pembicaraan selintas yang dia dengar dari orang-orang asing di sekitarnya, semua mengingatkan Jenny pada Aditya.

Sebuah ide terlintas dengan tiba-tiba. Dia harus pindah dari kota ini. Jika dia serius benar-benar ingin melenyapkan Aditya dari pikirannya hingga ke akar, maka dia tidak boleh lagi membuat dirinya terpapar hal-hal yang bisa membuatnya gagal berulang kali.

Jenny membalikkan arah mobil ke hotel. Dia tahu ke mana setelah ini dia harus pergi.

***
Bogor, January 8th 2020
Before am going to the trip to be alone with my God, and am getting so nervous that I over clean the house and over clean the stomach, and in two hours I will hit the road for real now.. I'm truly scared

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert