Skip to main content

#15 Nadhira [Fiksi]

Giliranku sekarang, bercerita tentang kisahku yang sebetulnya tidak beda jauh dengan Jenny. Tapi sebelum itu.. aku ingin tertawa. Tertawa terbahak-bahak dan sangat keras! Kenapa? Karena aku gagal terus!! Aku gagal!

Jenny punya Aditya di dalam hatinya, aku pun sama. Beda nya, Jenny memendam Aditya nya, di simpan dalam diam, sedangkan aku.. aku memilih untuk mengutarakannya. Iya! Haha.! Seperti cewek yang nembak cowok begitu ya, tapi tidak juga. Karena aku mengutarakan hanya semata-mata demi kewarasanku sendiri. Supaya tidak lagi menerka-nerka sikapnya padaku, kebaikannya selama ini, setelah dia tahu perasaanku lalu bagaimana reaksinya. Itu saja sudah cukup sebenarnya. Dan kau tahu apa? Dia diam saja! Hahahaha! Dia diam tidak membalas. Hanya mengangguk lalu di pergi. Rasanya aku ingin menangis dan tertawa sekaligus. Tapi aku tidak mau terlihat bodoh. Maka sejak hari itu.. aku putuskan untuk tetap melanjutkan hidup seperti biasa, hanya minus bayang-bayangnya saja.

Tapi Tuhan.. itu sungguh sulit sekali. SULIT sekali. Karena itu artinya aku harus mengambil jalan memutar, menghindari tempat-tempat yang pernah kita habiskan berdua. Aku juga harus berhenti menonton video-video yang mengandung karakternya di situ.. berhenti menonton televisi, karena ada iklan favorit dia yang pasti akan membuatku langsung teringat padanya. Oh betapa mudah segala hal mengingatkanku padanya. Jangankan gambar dan suara.. sebuah kata yang tercetus tak sengaja saja bisa membuatku teringat lagi padanya.

Padahal aku sudah bertekad untuk lupa. L.U.P.A! Sampai lelah aku dibuatnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Ya aku terima saja. Saat ada orang yang menyebut nama dia, ada sembilu yang menyayat ya ku nikmati saja tanpa ekspresi (padahal di dalam hati menangis meraung-raung). Setiap kali ada jokes lucu yang biasanya aku kirim ke dia, aku tahan. Bahwa kita sudah tidak bisa ber haha hihi lagi itu perih, tapi ya aku terima.

Namaku Nadhira, dan aku.. harus jadi gadis yang baik dan penyabar. Mungkin ini ujian sabar yang paling nyata buatku. Jadi.. aku terima. Mungkin ini yang membuatku berbeda dengan Jenny, aku tidak berkubang pada nelangsaku menjatuhkan hati pada lelaki dingin karena aku punya Tuhan yang hangat. Allah ku panggil-Nya. Dia yang selalu aku ajak berbincang setiap malam., termasuk membicarakan tentangnya. Tentang laki-laki yang tadi aku ceritakan. Toh aku juga tidak terlalu ngotot ingin bersama dengannya, dalam hatiku masih kusisakan ruang kemungkinan lain, yang jika Tuhanku menghendaki demikian, aku mau saja.

Makanya., jujur saja aku bahagia sekali sewaktu Jenny menelpon dan ingin belajar caranya berdoa. Karena doa lah satu-satunya yang menjadi peganganku saat ini. Hanya doa yang bisa menjadi perantara antara aku.. dan jodohku. Tapi.. Jenny memilih kembali ke kebiasaan lamanya.

Mungkin akupun akan seperti itu, tanpa doa dan keyakinan yang kuat bahwa doaku akan terkabul, aku pasti sudah hilang arah. Tapi Tuhanku selalu membuktikan diri-Nya. Dia selalu menjawab doaku, sesimpel saat aku lagi sering-seringnya bermimpi tentang dia, lalu aku terbangun setiap hari dengan selalu memikirkan dia, mencari nananya di antara ratusan viewer instagram storyku, sedih jika namanya belum ada di situ, dan bahagia jika dia dengan cepat menonton habis postinganku, sampai aku lelah sendiri dan aku berdoa.. ‘Ya Allah, aku tidak mau ada dia di mimpiku malam ini. Tolong jangan hadirkan dia, hadirkan mimpi yang lain saja dan bukan dia. Dan Ya Allah, tolong aku ingin solat subuh tepat waktu, aku selalu kesiangan, setidaknya aku ingin bangun jam lima.. tolong ya, Ya Allah.. aamiin”. Dan ta-da.. doaku terkabul seluruhnya. Sejak saat itu, setiap malam sebelum tidur aku selalu berbisik minta macam-macam,

Ya Allah, aku cinta dia. Boleh ya?
Ya Allah, jangan hadirkan dia di mimpiku malam ini ya?
Ya Allah, kok lama-lama aku rindu ya, tapi kan aku gak boleh rindu,. Maafkan ya Ya Allah, karena aku jatuh cinta..

Dan bisik-bisik lain serupa ‘Ya Allah, mudahkan urusannya ya.. tolong dia.. sayangi dia.. aku sayang hamba-Mu yang itu..’

Aku tahu itu terdengar bodoh. Makanya tidak pernah kubagi dengan siapapun. Kecuali di sini.

Tapi yang lucu adalah hari ini.
Semalam tadi aku berbicara pada Allah, aku berjanji pada-Nya bahwa mulai besok aku akan berubah. Aku akan tunjukkan bahwa aku serius dan sungguh-sungguh ingin merubah hidupku. Aku ingin menaikkan statusku dari seorang anak menjadi seorang istri. Bahwa aku siap mengemban tanggung jawab lebih, merawat manusia-manusia lain selain diriku sendiri.

Lalu aku bertekad, bahwa mulai besok, aku akan berhenti scrolling viewer insta story. Aku tidak akan lagi mencari tahu apakah dia melihat postinganku atau tidak. Aku juga akan mulai berlaku sebagaimana seorang perempuan bertanggung jawab, yang tidak tidur lagi sehabis subuh. Aku berjanji untuk tidak tidur lagi, aku akan masak untuk bekal makan siangku sendiri.

Jadilah pagi itu, aku bangun, tanpa melihat ig story —hal yang selalu aku lakukan pertama kali setiap pagi: mencari nama dia di viewer ig story— aku hanya mengecek ponsel sebentar untuk memastikan itu jam berapa, lalu bangun, berwudhu, dan solat subuh. Setelahnya aku lakukan ritual pagi seperti biasa.. dan bertekad untuk langsung mandi pagi.

Tapi.. ah.. kupikir sedikit perenggangan di kasur pagi-pagi tidak salah.
Aku tidak tidur, aku tidak tidur.. bisikku pada diri sendiri sampai pukul setengah tujuh. Lalu tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul tujuh lima belas dan aku.. tetap tertidur.
Dengan tergesa aku keluar kamar, menyeduh kopi, mengambil kue di kulkas untuk sarapan, dan menyantap sarapan sambil nonton youtube. Tidak sedikitpun menengok insta-story!! Bagiku itu sudah kemajuan. Aku agak sedikit berbangga pada Allah.. tuh kan, aku serius mau berubah, ucapku saat itu.

Lalu kusiapkan pakaian untuk meeting hari itu, baju, celana, kerudung, dalaman, dan.. umm.. rasanya aku mau tambahkan sedikit aksen ikat pinggang hari ini. Setelah semua beres, aku mandi, melakukan skin care dan bahagia sekali karena berhasil sedikitpun tidak mengecek berita tentangnya.

Hehe, kan aku bisa..

Pukul sembilan telepon berdering. Nomor tidak dikenal. Hmm, aku tetap jawab karena biasanya itu dari pengantar paket.
“Halo..” sapa suara disebrang. Aku menjawab singkat “bisa mints nomornya dia..” suara di sebrang itu menyebut namanya “aku lagi butuh dengannya tapi lupa menyimpan nomornya..”
Batinku menggeram. Aku menutup telpon sambil berjanji akan mengirim nomornya.

Sial! Sial! Sial!
Setiap kali aku hampir berhasil melupakanmu.. selalu ada saja hal yang.. arrggg!!!

Maka pagi itu.. lagi-lagi, usahaku melupakanmu.. gagal total!
Tapi tidak apa. Aku akan terus melanjutkan hidup, aku akan terus mencoba melupakanmu, walau gagal lagi gagal lagi. Karena cuma itu yang bisa kulakukan kini.
Suatu hari nanti, pasti aku akan berhasil. Karena hanya itu fokusku kini. Kamu! Eh salah.. melupakanmu! Tapi aku maunya sama kamu saja.. arg.. sudahlah! Terserah Dia saja!

***
Nadhira menutup laptop kecil yang selalu dia bawa. Jenny masih berbaring tak sadarkan diri di sebelahnya. Sudah hampir sore, sebentar lagi mungkin Ibunya akan tiba.. kalau bukan malam nanti. Nadhira berganti jaga dengan Rain dan Dee yang sedang pulang ke tempat Rain, mengambil perlengkapan menginap. This is gonna be a long day, pikir Nadhira. Matanya tak lepas dari Jenny yang tertidur pulas.

“Kami sayang sama kamu, tolong jangan sia-siakan hidupmu untuk orang yang sama sekali tidak pernah mencintaimu..”

***
Bogor, 31 Januari 2020
Miss Americana is premiere today, and I watch it with tears in my eyes. God it is so lonely up there.. I dont wanna be on mountain top.. I just wanna be.. together..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert