Skip to main content

#13 Pergi Kau! Dasar Setan! [Fiksi]

"Goddamnit!" Dee merutuki ponselnya yang tergelincir dari tangan saat mencoba mencari tiket pesawat dengan jadwal penerbangan paling pagi menuju Solo. Dee hanya mencuci muka sebisanya, mengganti piyama dengan kaos dan celana jeans, dan segera turun ke parkiran menuju bandara. Kepalanya masih pusing akibat panik dan baru tidur dua jam, sehingga dia memutuskan untuk naik taksi ketimbang menyetir sendiri. Dengan terburu-buru dia menekan tombol lift apartemen, tanpa melepaskan pandangan dari ponsel. Dee harus memesan taksi online, memastikan supirnya bisa datang dengan cepat, dan segera kembali ke aplikasi pencarian tiket pesawat.

Tiga puluh menit yang lalu Nadhira menelepon sambil menangis, dengan terbata dia menjelaskan bahwa Jenny mengalami kecelakaan parah di jalur Solo-Pacitan. Nadhira tidak menjelaskan bagaimana kondisinya, hanya saja dia bilang Rain dan Biru sudah menuju ke rumah sakit. Nadhira baru bisa terbang ke Solo lewat tengah hari, sebab dia sudah ada janji meeting penting dengan pihak editor dan marketing untuk briefing project nya yang baru. Suara tangis Nadhira tidak kunjung reda sampai Dee harus membentak Nadhira agar bisa mengontrol emosinya. Kalau tidak begitu, dia tidak akan bisa bergerak dan memesan tiket pesawat saat itu juga.

Jam menunjukkan pukul lima pagi, Dee mencoba memesan pesawat yang berangkat pukul enam lewat dua puluh menit. Gagal. Tapi masih ada harapan, dengan adanya calo-calo bandara yang suka menawarkan boarding pass yang tidak terpakai. Dee sudah menargetkan maskapai yang akan ditumpanginya, dengan mantap dia menyebutkan nomor terminal tujuan, dan meminta dengan sangat agar Pak Supir mengerahkan segenap kemampuannya menyetir dengan cepat dan aman.

"Rain, gimana?"
"Belum sadar, masih di ruang operasi" jawab Rain singkat "aku juga baru sampai, belum sempat bertemu..."
"God.. operasi? Apanya yang.."
"Belum tahu, Dee.. aku sedang mencoba menghubungi Ibu nya Jenny. Kamu punya nomor Ayahnya?" potong Rain cepat. Dee menghela napas dalam, tidak ada yang pernah tahu Ayah Jenny. Pun mereka bertiga baru pernah sekali bertemu, itupun saat wisuda.
"Tidak" jawab Dee sambil menggeleng, walau dia tahu Rain tidak bisa melihat ekspresinya.
"Kamu sudah menuju kesini? Pesawat jam berapa?"
"Jam 6.20, masih satu jam lagi,"
"Semoga terkejar. Kamu hati-hati ya.." ujar Rain bersungguh-sungguh. Dee mengangguk. Pikirannya kacau sekali,
"Okay, see you" 

Telepon ditutup. Di dalam kepala Dee saat ini adalah acara test food yang harus dia batalkan dan janji temu dengan pembuat gaun untuk fitting kedua. Dia meninggalkan pesan untuk Rommy, tunangannya, bahwa ada kondisi darurat dan dia dalam perjalanan menuju Solo sekarang. Dee yakin Rommy pasti mengerti.

Dee memegangi kepalanya yang masih pusing, dia baru tidur dua jam saat telepon berdering berulang kali. Bangun dengan paksa untuk mendapati berita yang membekukan darah, terburu-buru bangkit berdiri dan berganti baju, menyambar ransel dan memasukkan baju ganti, skincare, obat, dan dompet sebisanya, dan terburu-buru memesan taksi online, membuatnya merasa ini seperti mimpi.

Di dalam hati dia berulang kali berdoa, memohon agar Jenny selamat dan baik-baik saja.
'Jeen.. lo kenapa sih..' Dee menyesali Jenny yang agak pendiam akhir-akhir ini. Ada perasaan bersalah dalam hatinya, kenapa tidak rajin menghubungi Jenny dan malah membiarkannya tenggelam dengan pikirannya sendiri. Dee menyesal karena terlalu sibuk menyiapkan pesta pernikahan, sampai lupa bertanya kabar setelah sahabatnya ini mengajukan resign dari kantor berita yang dibanggakannya.

Ingatannya melayang kepada sesosok pemuda yang sering diceritakan oleh Jenny. Dee geram membayangkan, kalau sampai kecelakaan ini ada hubungannya dengan laki-laki itu, kalau sampai pelarian Jenny ini karena ingin melupakan dia.. seumur hidup Dee tidak akan memaafkannya. Dee sudah membenci Aditya bahkan sejak mereka belum pernah bertemu. Bagi Dee, Aditya itu tipikal laki-laki cari aman seperti yang sering dia temui. Tidak mau maju, tapi tidak mau mundur. Enggan maju karena merasa terlalu takut untuk ditolak atau merasa belum pantas atau mungkin sebenarnya tidak begitu yakin dengan perempuan ini, tapi tidak mau mundur karena belum ada pegangan yang lebih pantas lagi untuk dia pegang. Semacam menjadikan Jenny sebagai pemain cadangan yang bisa dihampiri kapanpun dia butuh, dan meninggalkan Jenny dengan alasan 'kan gue gak menjanjikan apa-apa' 

Dee bergidik jijik membayangkan laki-laki seperti itu. Sebelum Rommy, nyaris semua laki-laki yang mampir di hidup Dee mempunyai karakter yang sama seperti itu. Selalu ada, selalu sedia, memberikan perhatian lebih jika sedang bersama, membuat Dee merasa seperti dimengerti, tapi tidak pernah diberi status yang pasti. Nanti jika Dee memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan pamungkas seperti 'kita ini apa?' mereka akan gelagapan kemudian menghilang. Lantas tahu-tahu muncul dengan gandengan baru.

Air mata Dee mengalir bertepatan dengan sampainya mereka di pintu keberangkatan. Dengan cepat dia turun tanpa lupa berterimakasih pada pengemudi yang begitu sopan dan cekatan dalam menyetir. Setengah berlari menuju konter penjualan tiket, dan ternyata tiket resmi masih tersedia dan sudah langsung panggilan boarding. Tanpa pikir dua kali Dee langsung membeli one way ticket ke Solo, demi memastikan sahabatnya baik-baik saja.

***

I just wanna forget you,
I try,
I try hard..
Every night before I sleep
I pray,
If God is there, He must've hear me
To never again, put you in my dream
I don't want to see you, not even in my dream
I beg him,
To remove all these feelings away,

Jenny kembali berdiri di lorong gelap, lorong yang sama seperti yang dia lihat di kuil beberapa hari lalu. Dia mencari-cari cahaya. God? Are You there? 
Jenny berjalan dengan cepat, perlahan berlari. Dia takut. Lorong ini terlalu gelap.
Setan kau, Aditya! Apa maumu! Jika bukan saya yang kamu mau, kenapa tidak pergi saja sana! Pergi! Jangan pernah kembali!

***

Dengan langkah tergopoh Dee menelusuri lorong demi lorong, bertanya pada suster dan petugas di setiap pintu, memastikan ruangan tempat Jenny dirawat. Jantungnya berdegup semakin kencang saat akhirnya dia mengenali sosok yang sedang tersandar lemas di bangku panjang. Berdiri seorang laki-laki di sampingnya, mencoba menguatkan. Dengan langkah tergesa dia menghampiri Rain dan Biru. Nafasnya tersengal,

"How?" tanyanya tanpa basa-basi sambil berlutut di depan Rain, memegang tangannya. Wajah Rain basah oleh air mata, mukanya merah padam. Entah sudah dari jam berapa dia menangis.
Rain menggeleng, suaranya lemah dan hanya bisa memeluk Dee erat. Jantung Dee serasa berhenti saat itu juga.. jangan bilang...
"Dia cacat.." Biru yang membantu menjawab, tidak tega menatap wajah Dee yang semakin pucat. Matahari sudah mulai tinggi, pukul setengah sepuluh dan Dee baru berhasil sampai di rumah sakit tempat Jenny dirawat. Badannya mulai terasa lemas mendengar ucapan Biru barusan. Rain memeluknya makin erat, "kakinya lumpuh total, dokter bilang ada yang putus dari sambungan tulangnya, dan akan butuh waktu sangat lama atau mungkin mustahil untuk bisa berjalan kembali" lanjut Biru.

Dee menitikkan air mata. Setetes, dua tetes, lama-lama deras sederas hujan. Keduanya berpelukan erat kini, tidak tahu harus bertukar apalagi selain air mata.

"Ibunya..?" Dee mengelap wajahnya dengan tissue, mengambil posisi duduk di sebelah Rain.
"Masih di Dubai, rencana baru minggu depan akan pulang ke Indonesia. Tapi tadi setelah kuhubungi, katanya beliau akan pulang malam ini juga. Itupun kalau diijinkan.."

Rain kemudian memberi isyarat agar Dee masuk menjenguk Jenny ke dalam, namun Jenny belum siuman dan Dee pun rasanya masih terlalu pusing dan lemas untuk berdiri di samping sahabatnya yang terkulai tak berdaya itu. Rain kemudian bercerita secara singkat kronologinya berdasarkan cerita dari bapak-bapak yang membawa Jenny ke rumah sakit dan dengan sigap menelepon orang terakhir yang ditelepon oleh Jenny. Rupanya Nadhira yang berada di daftar teratas kontaknya. Selain tentu saja, pesan yang belum terbaca dari siapa lagi kalau bukan.. Aditya.

"Dia sudah tahu?" tanya Dee dengan rasa tidak suka. Rain menangkap nada itu dan tahu siapa yang dimaksud dengan Dia. 
Rain hanya bisa mengangkat bahu, "Bapak-bapak itu sih bilang mengirimi pesan ke pengirim pesan terakhir itu, tapi tidak ada balasan"
"Sampai sekarang?"
Rain menunjukkan ponsel Jenny yang kini dipegangnya. Dee semakin benci dengan orang bernama Aditya yang belum pernah ditemuinya itu. Pertanyaan yang dia kirim jelas menunjukkan dia peduli, tapi apakah dia tidak tahu sebesar apa perasaan Jenny padanya? Kenapa dia tega menggantungkan seorang perempuan sebegitu rupa?
"Gue butuh kopi. Kalau sampai si Aditya-Aditya itu datang kesini..." Dee geram membayangkannya "gue hajar tanpa ampun!"
"Biar aku saja," ujar Biru sigap "kalian duduk di sini, siapa tahu Jenny siuman. Dee kopi, kamu apa, Yang?" tanyanya pada Rain.
"Sama"
"Oke"

Dee menatap punggung Biru yang segera menghilang dibelokan koridor. Beruntung Rain mendapat laki-laki seperti Biru. Sigap tanpa cela. Tampan tanpa cela. Dee menghela napas dalam. Pernikahannya baru akan berlangsung dalam enam bulan, tapi dia sudah mulai menghitung langkah kalau-kalau akan ragu pada hari-H. Tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Yang penting sekarang, Jenny sadar, Jenny tahu kita ada di sini, peduli dan sayang padanya. Agar Jenny lupakan Aditya dan buang jauh-jauh perasaannya pada laki-laki setan itu. Dee terlalu membenci Aditya, sebesar dia membenci laki-laki yang dulu pernah mengisi ruang hatinya, tanpa pernah menyatakan perasaan apalagi menegaskan status mereka. Hal itu pernah juga terjadi padanya selama empat tahun. Selama itu juga Dee merasa yakin pada laki-laki itu, dan menginvestasikan seluruh waktunya untuk membantu karir si laki-laki itu. Mendorongnya agar menjadi versi terbaik dari dirinya, lebih percaya diri, lebih eksploratif, dan lebih bisa diandalkan sampai jadilah dia mendapatkan posisi terbaik yang pernah dia capai.

Namun kemudian dia menghilang. Sebulan, dua bulan tidak menghubungi, tiga bulan kemudian muncul undangan pernikahan. Sungguh hati Dee hancur berkeping-keping. Selama empat tahun dia menyangka semua hal manis yang dia bicarakan di media sosialnya adalah tentang Dee. Selama empat tahun dia menyangka, semua kalimat manis yang laki-laki itu lontarkan adalah benar dan jujur adanya. Ternyata hanya rayuan gombal biasa, yang bagi dia tidak ada artinya.

Sungguh,
Tuhan.. tolonglah.. saya tahu setan terlahir dengan beragam wujud. Tapi wujud satu ini.. bisakah disimpan untuk di neraka saja? Sebagai siksaan bagi perempuan-perempuan yang juga gemar melakukan hal yang sama pada laki-laki polos di luar sana?

Dee menyandarkan tubuhnya yang masih separuh melayang.
Setan, memang tidak pernah punya perasaan.

***
Bogor, 25 Januari 2020
Fun fact: Damn it juga suka dibaca sambung menjadi demit, yang artinya Setan kalau di Indonesia. Haha.,

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert