Skip to main content

#12 Tahu Diri [Fiksi]

Sebuah bis malam berkecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan. Jenny yang masih kaget dengan isi pesan Aditya buru-buru membanting setir ke kiri, menghindari bis yang nyaris saja menyerempet mobilnya.

Saya harap kamu baik-baik saja, di manapun kamu berada’ tulis Aditya singkat.

Jenny memukul-mukul setir dengan kesal. Apa maksudnya mengirim pesan seperti ini pukul empat dini hari? Jika dia tidak berminat untuk tinggal di hidup Jenny, kenapa dia tidak pergi saja sekalian? Tidak usah menghubungi sama sekali!

Sebuah lagu terputar dalam benak Jenny,

Dan, upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil pabila
Kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama, pergilah
Menghilang sajalah lagi..

Berkali-kali kau berkata,
Kau cinta tapi tak bisa,
Berkali-kali ku tlah berjanji
Menyerah,

Jenny kembali ke jalur kanan, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tangis berderai dia tak peduli. Dia berteriak sekencang yang dia bisa, Jenny sudah tidak peduli. Matilah jika mati satu-satunya jalan keluar. Dia ingin mati di jalanan panjang ini. Agar tidak ada matahari yang perlu repot-repot menerangi hidupnya, agar tidak perlu lagi dia meyakinkan diri setiap pagi bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik.

Mati adalah satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya.
Toh tidak ada yang peduli padanya. Berhari-hari dia menghilang, tidak satupun pesan dari orangtuanya datang sekedar bertanya kabar. Siapa yang peduli pada Jenny kalau bukan tulisan-tulisan yang harus dia setor setiap hari, editor yang acap kali mengoreksi ejaannya. Tanpa pekerjaannya, habislah Jenny. Perempuan tanpa status yang tidak punya siapa-siapa. Jika dia mati di sini pun mungkin tidak akan ada orang yang mau repot-repot membawa jenazahnya kembali ke Jakarta.

Memang brengsek, kau Aditya!
Kita lihat apa yang akan kamu rasakan, jika aku.. mati.

***

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2