Skip to main content

#11 Tiga Pagi [Fiksi]

Pukul tiga dini hari dan Jenny baru terjaga dari tidurnya. Rasa sakit di kepala membuatnya berusaha mengingat jumlah botol yang habis dia tenggak. Cuma tiga, gumamnya kesal. Jenny berusaha duduk tegak, sambil membenarkan letak sandaran kursi. Parkiran sudah mulai sepi, hanya ada dua-tiga mobil lain yang masih menunggu si empunya keluar dari club.

Malam pertamanya di kota yang baru, Jenny malah mabuk dan tertidur. Kepalanya masih berputar saat dia menyalakan mesin mobil. Sesaat dia mencoba berpikir, ke mana dia harus mengemudikan mobilnya. Dan apakah aman jika menyetir dalam keadaan seperti ini. Ah tapi jalanan pasti sepi, oleng sedikit tidak begitu berbahaya, pikirnya. Jenny meraih ponsel yang tergeletak sembarangan di jok penumpang. Pukul 03.03 batinnya sedih. Besok adalah hari ulang tahunnya. Dia akan berusia tiga puluh tiga tahun dan tidak ada kawan untuk merayakan. Biasanya, ulang tahun Jenny selalu dirayakan oleh seisi penghuni lanta dua sembilan. Makanya Jenny paling benci kalau ulang tahunnya jatuh di hari Minggu, dan ternyata baru esok akan terjadi, dan dia pun sudah resign dari tempat itu.

Jenny meremas kepalanya yang terasa pening. Setetes air bening mengalir dari matanya, dua tetes, tiga tetes, Jenny tidak kuat lagi menahan semua emosi yang bergumpal di dadanya. Ia menangis sesengukan seperti anak kecil. Menangisi kebodohannya. Menangisi kesalahannya. Menangisi dirinya yang jatuh cinta pada pemuda baik-baik, berpikir bahwa dia mungkin pantas untuk laki-laki itu.

Pukul tiga dini hari di pelataran parkir sebuah club malam yang sepi, seorang perempuan menyerah pada rapuhnya hati yang berusaha dibalut dengan topeng baja. Keyakinannya bulat kini, bahwa cinta sejati memang bukan untuknya. Sejak dulu, dia tidak pernah percaya dengan adanya cinta sejati. Hidup bahagia selamanya, hanyalah akhir cerita dongeng yang sebenarnya masih menyimpan ketidak bahagiaan di dalamnya. Toh setidaknya salah satu dari mereka pasti akan mati, dan apanya yang bahagia dari mati.

Sejak kecil yang dia tahu tentang cinta dan pernikahan, adalah pertengkaran yang tak berujung. Ketidaksepahaman antara Ayah dan Ibu nya adalah tontonan sehari-hari Jenny. Mereka bertengkar tentang apa saja, termasuk soal keyakinan. Ayah yang akan mengungkit betapa Ibu tidak pernah mau mengalah, dan Ibu yang akan mengungkit tentang pengorbanannya melawan semua norma dan pakem dalam tradisi keluarga besar mereka dengan mau menikahi Ayah. Jika sudah begitu, Jenny hanya bisa mengurung diri di kamar, memeluk boneka dan menangis, sambil berjanji dalam hati dia tidak akan menikah dengan laki-laki temperamen.

Tetapi nasib berkata lain, setiap laki-laki yang ditemuinya di sepanjang jalan kehidupan, sejak dia remaja hingga mulai masuk usia dewasa, selalu posesif. Posesif yang membuat Jenny selalu merasa terkekang dan ujung-ujungnya meninggalkan mereka tanpa basa-basi. Padahal mereka pun punya pacar lain selain Jenny, Jenny selalu tahu karena kemampuannya dalam menggali informasi sudah tidak diragukan lagi. Satu per satu Jenny labeli mereka semua dengan label brengsek. Ada laki-laki yang baik padanya, tapi ternyata dia sama sekali tidak berniat untuk menjalin hubungan serius karena tujuannya hanya sampai di kasur. Kalau pun sampai berstatus pacaran, dalam dua-tiga bulan kalau bukan Jenny tahu dia sudah beristri, perilakunya yang posesif dan terus menerus meneror langkahnya kemanapun dia pergi membuat dia jengah dan menyerah.

Sampai Aditya datang bagaikan angin dingin selepas badai. Tentram tapi mendebarkan. Cukup untuk membuat semesta Jenny beralih pusat.

‘Saya tidak pernah meminta untuk jatuh cinta kepadamu.’ Tulis Jenny suatu ketika ‘tapi ini nyata, dan kali ini saya tidak bisa menolaknya. Bahkan saya pun tidak punya kontrol terhadap perasaan saya sendiri. Dia memilih begitu saja tanpa penjelasan kenapa’.
Pesan itu tadinya ingin dikirimkan di hari ulang tahun Aditya, tapi urung. Dee mencegahnya dengan alasan jangan terlalu desperate.

But I am that desperate.. Jenny terisak mengenang nasehat dari Dee. Di dalam mobilnya dia masih terus menangis, memegangi kepala yang semakin sakit tak tertahankan. Dia ingin menuju ke hotel, tetapi untuk melihat ke depan lurus saja dia tak kuat berlama-lama. Jenny terus menangis hingga kaos tipis yang dikenakannya bersimbah air mata. Basah bukan kepalang, namun dia tak peduli. Dia membenci dirinya sendiri yang jatuh cinta untuk pertama kali, jatuh cinta secara berlebihan, dan jatuh cinta pada orang yang tidak tepat.

Jenny membuka pintu mobil. Angin dingin membekukan kulitnya yang hanya dibalut kaos lengan pendek dan celana pendek. Dia menghirup udara pagi dalam-dalam, berharap sejuknya bisa meredakan tangis yang entah kenapa sulit sekali tuk berhenti mengalir.
Dia berjongkok di samping mobil, membiarkan pintu terbuka, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mulai bergumam.

I have to move on.
I don’t always have to have closure,
Not everyone deserves closure.

Jenny berusaha berdiri tegak. Berjalan berkeliling pelataran parkir sambil berusaha menghentikan isak yang sudah seperti anak kecil. Tangis dan udara pagi cukup mampu mengobati rasa sakit kepala akibat hangover, semenit kemudian Jenny sudah membuat keputusan baru. Dia akan melanjutkan perjalanan ke tempat Rain dan Biru. Walau dia tahu Rain sama sekali bukan orang yang tepat untuk dicurhati hal-hal macam begini. Love lifenya terlalu sempurna untuk bisa berempati pada orang macam Jenny. Keluarganya baik,  harmonis, dan dia menemukan Biru yang cinta mati padanya, dan kini keluarga kecil mereka sudah dilengkapi dengan hadirnya seorang bayi menggemaskan.

Tapi Rain adalah keluarga terdekat yang dia punya di kota itu. Terdekat dari segi jarak, karena kota tempat tinggal Rain sekarang tidak jauh dari sini. Biar bagaimanapun, Jenny tidak mau ulang tahun sendirian. Setidaknya Rain bisa merayakan hari itu bersamanya.

Jenny menyalakan lagi mesin mobil, kepalanya masih sedikit berputar tapi sudah jauh lebih baik sekarang. Dia membuka ponsel dan mulai mengetik tujuan untuk dibantu arahnya oleh google map.

‘Hujan Biru Homestay’ tulisnya mantap. Sejurus kemudian dia sudah berada di jalan raya, ketika sebuah pesan masuk. Nyaris pukul empat dini hari, dan ada yang mengiriminya pesan melalui jalur pribadi.

Jenny mengambil ponsel dan melirik sekilas nama pengirimnya:
Aditya

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert