Skip to main content

#10 Melawan [Fiksi]

Screw good guy!
Jenny berteriak lantang di dalam batinnya. Dia memilih menghabiskan malam di sebuah club malam yang terhitung sepi. Tidak banyak tempat minum-minuman beralkohol di kota ini, Jenny harus mengerahkan segenap usaha untuk menemukan satu-satunya pub malam yang masih beroperasi.

Sepanjang hidupnya dia selalu dikelilingi oleh laki-laki brengsek. Ketiadaan sang Ayah dalam hidup Jenny membuat dia begitu mudah jatuh ke pelukan lelaki, mudah terayu, dan mudah percaya pada semua janji kosong yang mereka lontarkan demi bisa menghabiskan malam dengan Jenny. Hanya keempat sahabatnya yang berhasil menjadi pencegah jika Jenny mulai bertindak terlalu jauh. Namun kini.. setelah tekad bulatnya untuk mencari sosok Tuhan di Semarang kemarin, Jenny kembali berubah pikiran.

Pikirnya selama ini dia sudah bertekad menjadi orang baik. Perempuan baik-baik sebagaimana yang dijanjikan, akan berakhir dengan laki-laki baik. Aditya di mata Jenny adalah seorang lelaki baik yang sempurna. Dia ingin pantas untuk Aditya, sehingga ia gunakan seluruh waktunya untuk belajar menjadi perempuan sebagaimana mestinya. Dia belajar memasak, mengamati pergumulan batin dan perasaan seorang ibu, mencoba memahami sudut pandang berbeda, dan yang paling penting; meninggalkan alkohol. She’s been sober for years, but say no more. Jenny menolak untuk mengubah dirinya kini hanya semata agar menjadi sosok yang pantas bagi Aditya. Dia tersenyum miris begitu sadar bahwa usahanya selama ini tidak akan pernah cukup. Apalagi jika dibandingkan dengan Khusnul, gadis manis yang sedang merintis bisnis di kota tempat asal Aditya. Mereka mungkin pernah punya cerita saat remaja, mereka mungkin bisa berbagi rasa yang sama terhadap satu tempat di sudut kota mereka.

Jenny meremas botol minuman yang tinggal setengahnya. Dia tidak benar-benar menyukai alkohol, tetapi efek yang ditimbulkan sangat membantunya untuk melupakan semua tentang Aditya. Melupakan ketidakhadirannya, seperti halnya dia melupakan ketidakhadiran sang Ayah dalam hidupnya.

“Jangan berusaha untuk melupakan jika tidak mau semakin ingat.” Terdengar suara berat seseorang yang duduk di samping Jenny. Lelaki itu mengenakan jas dan kemeja yang sangat rapi untuk dipakai di club malam. Jenny menoleh, lalu melengos tidak peduli.
‘Mind your own business’ rutuknya dalam hati, menenggak nyaris separuh botol dalam satu teguk.
Lelaki itu menggeser duduknya ke arah Jenny. Dia memesan segelas minuman bersoda sebelum mengucapkan kalimat yang Jenny butuhkan,
“Jika melupakan itu mudah, tentu tempat ini sudah berdesakan didatangi orang. Apapun yang sedang kamu alami, tidak akan semudah itu untuk bisa hilang dari ingatanmu. Jangan rusak tubuhmu, hanya karena seseorang yang mungkin tidak memikirkanmu” ujarnya tanpa permisi.

Jenny yang sudah mulai sedikit terpengaruh alkohol mulai merasa terpancing dengan kalimat lelaki itu. Siapapun dia, tidak berhak melarang Jenny melakukan apapun dengan tubuhnya.
“Tubuh gue, otoritas gue!” Ujarnya ketus “terima kasih untuk sarannya, tapi gue GAK BUTUH nasihat lo!” Jenny memberi isyarat pada bartender, meninggalkan selembar uang kertas dan berlalu.

Heran! Selalu saja ada orang-orang suci berkeliaran di tempat seperti ini. Sengaja mencari mangsa, apalagi jika perempuan duduk dan minum sendirian.

Jenny merutuk sepanjang jalan menuju parkiran mobil. Lelaki itu mengamati Jenny yang berjalan lurus dan masih dikuasai kesadarannya. Dia memutuskan untuk tidak membuntuti karena dia tahu perempuan seperti apa yang butuh pertolongan di tengah jalan dan mana yang tidak. Jenny termasuk yang — menurut perhitungannya — bisa sampai di tempat tinggalnya dengan selamat. Lelaki itu tahu persis Jenny bukan berasal dari daerah sini, dan dia punya alasan tersendiri untuk khawatir.

Jenny membanting pintu mobil dengan keras, menyandarkan kepalanya di setir mobil. Dia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel. Pukul sebelas malam, dan hari ini... Jenny menggigit bibir dengan getir. Sebelas Januari.. Jenny kembali menangis menghujankan air mata ke setir mobilnya yang basah. Dia tidak pernah punya kenangan khusus tentang tanggal itu, apalagi tentang lagu yang teramat populer itu. Hanya saja, Sebelas Januari adalah hari di mana Jenny memutuskan untuk bersandar dan memilih Aditya setelah dia mengalami kecelakaan kecil di apartemennya. Aditya adalah orang pertama yang dia hubungi, dan dengan sigap langsung datang tuk membalut luka Jenny. Hari itu, Jenny memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan hati. Berhenti terjebak bujuk rayu para lelaki brengsek yang hanya mampir sebentar dan memutuskan untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada Aditya. Jika laki-laki lain harus bersusah payah membohonginya dengan cerita-cerita harta kekayaan, maka Aditya tidak perlu membual sekalipun Jenny sudah pasrah. Dia tidak peduli dengan apapun yang Aditya punya atau tidak punya, karena di momen saat Aditya datang membawa sekotak kue kering kesukaan Jenny, merawat lukanya dengan telaten, menemani sorenya dengan bercerita tentang banyak hal, di momen itulah Jenny memutuskan untuk berhenti bermain-main. Enough bad guys.

Namun tiga tahun berlalu sejak hari itu, tiada jua Jenny menemukan titik terang. Sikap Aditya tetap baik seperti biasa, tapi tidak ada yang berubah.

Jenny masih terduduk menangis di parkiran, belum memutuskan akan menginap di mana. Mungkin malam ini hanya akan dia habiskan di sini. Lagipula perutnya kosong dan hanya diisi dengan alkohol semalaman ini. Agak sulit untuk berkonsentrasi menyetir, lebih mudah mengingat Aditya dan ketidakhadirannya.

‘Selalu saja ada yang membuatku gagal melupakanmu’ ujarnya sambil terisak. Jenny teringat akan sebuah buku yang dia lihat baru-baru, bersampul biru donker dengan judul yang sama dengan kalimat yang barusan dia ucapkan. Sial, pikirnya. Mau sampai kapan gue seperti ini terus.. Jenny menurunkan sandaran bahu ke posisi separuh berbaring. Tubuhnya sudah lebih rileks kini, dan energinya terkuras habis. Dia ingin tidur. Tapi dia tidak ingin Aditya hadir di mimpinya. Setidaknya, tidak malam ini. Dia ingin sendiri. Dia ingin melupakan semua tentang mereka. Dia ingin memulai dari awal, meski itu berarti dia harus rela jatuh lagi ke pelukan lelaki brengsek. Jenny sudah tidak bisa memilih mana yang lebih baik, lelaki brengsek dan segudang gombalan palsu serta kebohongannya, atau lelaki baik yang tidak akan pernah membalas cintanya.

Suara angin pelan menembus jendela yang dibuka sedikit. Parkiran club malam itu semakin ramai, orang-orang mulai berdatangan, membawa pasangannya masing-masing. Jenny tidak peduli. Dia akan tidur sebentar, sebelum mencari tempat menginap atau mungkin mencari kota yang baru. Screw life. I’ll die here. Pikirnya mantap.

***
Bogor, 20 Januari 2020
Hello Monday!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert