Skip to main content

The True Happiness

Selama dua pekan terakhir, saya menenggelamkan diri dalam kesibukan yang Insya Allah berfaedah: menggali ilmu. Commuting setiap sore, pulang jelang tengah malam, demi mendapat pelajaran baru yang saya pun tidak tahu akan seperti apa bentuknya.

Ada dua kelas yang saya ikuti; kelas Bahasa Arab (ancient Arabic) yang membantu kami memahami Al-Quran bersama makna-maknanya agar tidak lost in translation, dan kelas Bahasa Inggris khususnya untuk persiapan IELTS. Kedua kelas itu saya ambil tanpa berpikir. Saya tidak berpikir bahwa saya ingin benar-benar mendalami Al-Quran atau ingin mendaftar kuliah ke luar negeri dalam waktu dekat, sama sekali tidak. Dua kelas itu saya ambil simply hanya untuk mengikuti kata hati, follow your heart, they say.. jadi saya ikuti.

Sebagai orang yang tidak pernah mengecap rutinitas commuting Bogor-Jakarta di rush hour, sepuluh hari terbayang akan lama sekali. Apalagi setelahnya dilanjut dengan empat hari commuting yang pulangnya benar-benar jam pulang kantor semesta raya. Adalah orang-orang dengan wajah lelah; janitor, karyawan, guru, mahasiswa, anak sekolah, bercampur baur di dalam gerbong kereta. Saya memperhatikan wajah-wajah orang yang lalu lalang dari tempat saya duduk di salah satu gerobak penjaja mie ayam di Stasiun Tebet,. wajah-wajah yang telah menunaikan tugasnya hari ini, dan hendak pulang bertemu dengan keluarga yang tengah menunggu. Terbayang di pikiran saya, gerbong kereta yang harus diterobos demi bisa masuk ke dalam kerumunan, berdesakan di dalamnya, hingga tidak ada ruang bahkan untuk sekedar mengeluarkan ponsel. Beruntung saya hanya menempuh rutinitas itu selama empat hari (karena sepuluh hari sebelumnya saya pulang lewat pukul sepuluh malam, gerbong kereta sudah lumayan agak longgar walau masih penuh penumpang). Bagi mereka yang menempuh rutinitas itu setiap hari, well.. this isn't big deal, is it? 

Tapi dari situ saya belajar tentang arti menemukan tujuan. Orang-orang ini mungkin tidak keberatan melalui rutinitas demikian, karena lelah dan sakit yang mereka rasakan adalah bagian dari jalan mencapai tujuan. Mereka sudah punya tujuan, dan bagi orang-orang yang punya tujuan, berjuang adalah niscaya. Setiap sakit yang mereka rasakan, terbayar ketika tujuan itu tercapai, dan disitulah hakikatnya hidup di dunia. Dunia tempatnya sakit, kata salah seorang kawan saat kami menembus macet ibu kota. Dia yang nyetir, saya yang bergumam 'macet nya terlalu padat'.

Kemudian saya berpikir lagi,. apakah tujuan itu adalah keluarga? Anak, pasangan? Belum tentu.

And apparently, questions have its way to answer itself. 

Saya dipertemukan dengan dua orang anak SMA di kelas persiapan IELTS, yang ternyata adalah siswa dari sekolah saya dulu. Satu brand, beda lokasi geografis. Mereka begitu antusias begitu mengetahui saya juga lulusan Insan Cendekia, dan percakapan langsung berubah ke hal-hal printil yang bagi kami sangat krusial. And then the thought hit my mind.. 

Sepuluh tahun yang lalu, saya adalah mereka. Dengan antusiasme yang begitu tinggi, begitu ingin menggenggam dunia, teramat menggebu ingin menempuh pendidikan terbaik yang dunia bisa tawarkan. Belajar adalah satu-satunya jalan, dan saya habiskan sebagian besar waktu untuk menekuni buku demi buku, tidak melewatkan berita yang sedang terjadi di dunia agar tetap terkoneksi. Sepuluh tahun lalu, antara takut dan excited akan menempuh status baru sebagai mahasiswa, saya tidak pernah membayangkan bahwa sepuluh tahun kemudian saya akan berada di posisi saya yang sekarang.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa semua yang saya impikan, semua yang saya idamkan, akan terwujud nyata, menjadi satu dalam genggaman saya. Karena semua ini hanya angan-angan, dan saya pikir jika angan-angan ini terpenuhi, hidup saya akan lengkap dan saya akan bahagia. Rupanya tidak juga.

Saat itu saya harus menempuh rutinitas, bangun pagi, mandi pagi, sekolah setiap hari, belajar di malam hari, begitu terus hingga lulus SMA. Selepas SMA pun masih sama, saya harus kuliah, mengejar 24 SKS, menyelesaikan tugas kuliah sambil memenuhi tanggung jawab sebagai mahasiswa organisasi, karena waktu perkenalan kampus dikatakan bahwa jadi mahasiswa harus berorganisasi jadi saya berorganisasi, tapi lelahnya bukan main,. jadi saya mendamba hidup yang tidak penuh dengan jadwal padat. Saya mendamba bisa bangun siang, tapi tetap punya uang. Tidak tinggal di asrama atau kontrakan kumuh, tapi punya kamar sendiri yang ada AC dan tata letaknya seperti di hotel-hotel. Ta-daa... sepuluh tahun berlalu, and here I am. Punya seemua yang dia mau.

Apakah saya bahagia?

Karena ternyata, keinginan-mimpi-cita-cita, apapun itu sebutannya, mereka pun berevolusi. Seperti bola salju, membesar seiring bergulir. Kemudian saya menginginkan hal lain. Jika dulu saya ingin tinggal sendiri jauh dari tanggung jawab sana-sini, begitu tercapai.. saya menginginkan sebaliknya. Kemudian saya menjadi tidak bahagia karena tidak memiliki yang saya inginkan. Lupa bahwa yang saya miliki sekarang, adalah yang dulu pernah saya dambakan. Rumit ya jadi manusia?

Empat tahun yang lalu mungkin saya tidak pernah menyangka bahwa akan merasa unhappy di pekerjaan ini, karena saat itu rasanya semua sempurna. Karena saat itu, inilah yang saya damba. Ternyata manis itu ada masanya. Ternyata sempurna pun semu.

***

"Happiness was never about your job or your degree or being in a relationship. Happiness was never about following all the footsteps of all of those who came before you; it was never about being like the others. One day, you're going to see it. That happiness was always about the discovery, the hope, the listening to your heart, and following it wherever it chose to go. Happiness was always about being kinder to your self; it was always about embracing the person you were becoming. One day, you will understand that your happiness was never in the hands of others. It was always about you. It was always about you." -rainbowsalt-

Hal-hal kecil yang bermakna yang kita lakukan karena kita ingin lakukan, mengikuti kata hati, tidak perlu alasan, itulah bahagia. Dikumpulkan, satu demi satu dijalankan, barulah kita sadar bahwa kita punya semua. Tidak perlu menunggu nanti untuk bisa mengikuti kata hati. Ikuti dari sekarang. Tapi itu pun ada syaratnya.

Pertama kali saya dengar nasehat tuk mengikuti kata hati, yaitu sembilan tahun lalu di Danau Sentarum. Di sampaikan oleh orang yang lebih dewasa umurnya dari saya, setengah mabuk, dan dengan nada tinggi. Saat itu saya percaya, bahwa mengikuti kata hati adalah terbaik. Jadilah saya menjadi satu dari sembilan mahasiswa terakhir di wisuda se-angkatan.

Saat itu saya tidak tahu, bahwa mengikuti kata hati pun ada rumusnya. Yaitu, hati kita benar-benar sudah 'mengerti' jalannya. Serial video Nouman Ali Khan memberi satu gelombang pemahaman baru, bahwa hati perlu terkoneksi dengan ruh.. ruh itu yang tahu jalannya, dia yang paling mengerti apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Tapi seringkali, ruh tidak bisa memberi tahu kepada kita, karena terhalang oleh hati. Hati bisa kotor, ketika dipenuhi dengan keinginan-keinginan, fokus pada hal-hal yang tidak dimiliki, sedih, insecure, kesal, membanding-bandingkan diri. Ketika dia tidak jernih, tuntunannya akan selalu ke arah yang salah. Karena memang begitu sejak awal kita di desain, diciptakan sepaket dengan hati dan diutus sepaket dengan bisikan-bisikan sesat yang senantiasa menyertai.

Untuk bisa mengikuti kata hati, jernihkan dulu dianya dari all the dirty things that make you unhappy. 

***
Bogor, Sabtu, 7 Desember 2019 11.00
And here I am, writing in the front porch of my house, in a cloudy Saturday. By the way, we had a morning rain this morning.. padahal baru kemarin saya ngebatin, sepanjang tahun ini nyaris gak ada morning rain, padahal dulu waktu masih kuliah, sering sekali ada morning rain. I love Morning Rain, I could even name my kid after it.
Weekend spent writing? Always be in my dream, now that it came true, am I still wanting for more? Sure I do, it's human for always want for more. For always seek something better. We can only learn how to navigate the feeling, so it doesn't suck up the happiness all too much. Thank you for reading this, dear folks. I wish you live a happy life, as simple as it is, no matter how big or small your dream still, you can always live the present.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …