Skip to main content

#2 Rain [Fiksi]

"Raaaiiinnn...." teriak seorang perempuan dengan antusias begitu wajah Rain muncul di layar ponselnya. Rain tersenyum lebar sambil berulang kali  membetulkan letak ponsel, menimbulkan goncangan-goncangan di video mereka.
"Dee..!" Rain balas menyapa setelah ponselnya berhasil tegak berdiri "kamu lagi di mana?"
Suara musik bising melatari suara di seberang sana. Dee, sahabat Rain sejak SMA, meneleponnya dengan bersemangat. Meminta Rain untuk video call, walau hanya lima menit. Dee tahu, sejak pindah ke kota kecil, Rain sudah tidak pernah lagi begadang. Lewat pukul sembilan, chat pun sudah tidak dibalas, jadi dia harus mewanti-wanti supaya Rain mau mengangkat telponnya.

"Raiinnn...!" teriak Dee lagi kini matanya mulai berkaca-kaca "Rommy.. proposed...." Dee menutup mulutnya dengan tangan yang kini dilingkari oleh cincin di jari manis. Rain ikut menutup mulutnya, terbelalak dan terharu. Dee terlihat sangat cantik malam itu, riasan minimalis namun tanpa cela, bulu mata halus yang proporsional, lipstik berwarna peach senada dengan anting dan gaun yang dia kenakan. Mereka seperti sedang ada di sebuah acara, karena latar belakang musiknya bising sekali.

"Oh my God.. Dee..." hanya itu yang bisa Rain katakan, ia sungguh sangat bahagia begitu mengetahui sahabatnya menemukan jalan untuk menjadi wanita seutuhnya "I'm so happy for you.." lanjutnya lagi kini turut berkaca-kaca.

Dee mengangguk tak kuasa menahan linangan air matanya. Dia sangat bahagia sampai lupa dengan riasan make up, dan lupa bahwa ia masih berada di tengah-tengah acara.

"Mana Rommy?" tanya Rain sambil berusaha mencari sosok Rommy di layar ponsel. Dee menggeleng.
"Dia sedang berkeliling. Tadi dia melamar sebelum acara ini di mulai. Dan aku tidak sabar menunggu break untuk kabari kamu. Kamu orang pertama yang tahu.." Dee mulai bercerita, harunya masih membuncah. Ribuan kilometer dari sana, Rain bisa merasakan haru yang sama.
"Syukurlah, Dee.. akhirnya Rommy.."
"Dan ini belum bagian terbaiknya.. kamu harus tahu.." potong Dee tidak sabar "Rommy dan aku.. kami.. sudah memutuskan untuk hidup nomaden, tinggal di pulau-pulau terluar Indonesia.. kami akan mulai dari Miangas!" antusiasme Dee masih meluap-luap, sampai-sampai hatinya seperti bisa meledak oleh karena rasa bahagia yang begitu deras.

"Lalu,. bagaimana..?"
"Kerjaan?" Dee tertawa memotong keraguan Rain "kami belajar dari kalian.. kamu dan Biru.. bukti bahwa Tuhan Maha Kaya, dan pasti selalu ada jalan bagi orang-orang yang mengikuti kata hatinya. Aku akan resign setelah menikah. Aku akan meninggalkan pekerjaanku, dan akan memulai hidup yang benar-benar baru!" antusiasme Dee tidak terbendung lagi.

Rain mulai meragu. Pasalnya dia sangat kenal sahabatnya ini. Bukan mudah bagi Dee untuk bisa berada di posisi yang sekarang dia pegang. Seorang calon kepala cabang sebuah Bank swasta ternama, dengan gaji, tunjangan dan fasilitas yang serba ada. Bisa dibilang Dee mengorbankan separuh hidupnya untuk sampai di titik ini, karena Dee bukan berasal dari keluarga yang memiliki banyak koneksi. Dia harus berjuang dengan kemampuannya sendiri tanpa ada embel-embel orang dalam. Sekarang dia akan menyerahkan itu semua begitu saja?

Rain masih mendengarkan cerita-cerita Dee, tentang bagaimana hubungannya dengan Rommy akhir-akhir ini, tentang bagaimana cara Rommy berlutut di hadapannya, tentang dirinya yang tidak tahu sama sekali tentang semua rencana ini dan betapa ia bahagia mendapat kejutan yang bertubi-tubi.

Rommy.. ah ya, sejak dulu Rain belum begitu yakin dengan pacar Dee ini walau mereka sudah menjalin hubungan lebih dari lima tahun. Terlebih dengan Rommy yang bertahan menjadi seorang photographer lepas untuk majalah petualangan, Rain menjadi semakin khawatir dengan sahabatnya. Namun Dee tampak bahagia, matanya berbinar, wajahnya ceria, tidak ada sama sekali beban atau ketakutan akan masa depan yang menggelayutnya. Jadilah Rain ikut menikmati kebahagiaan itu, tanpa sedikitpun merusaknya dengan pertanyaan-pertanyaan menghancurkan semisal 'nanti anakmu mau dikasih makan apa?' 'bagaimana dengan pendidikannya? sekolahnya?'. Tidak. Setidaknya tidak sekarang, karena Rain tahu, biar bagaimanapun jika seseorang sudah memilih jalan hidupnya, maka hanya waktu yang akan bisa menunjukkan apakah jalan itu jalan yang terbaik atau justru sebaliknya.

Telepon ditutup dengan Rain yang berjanji akan hadir ke acara pernikahan Dee yang akan dilangsungkan di Bali. Tidak jauh dari tempat tinggal mereka saat ini, hanya terpaut beberapa jam berkendara. Pun Kala --anak Biru dan Rain-- sudah bisa dibawa kemana-mana. Usianya memasuki 1,5 tahun, dan sudah mulai mengerti jika diajak jalan-jalan.

"Siapa, Yang?" Biru muncul tiba-tiba di belakang Rain. Jam sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh malam.
"Eh, kok kamu belum tidur?" Rain kaget dengan kemunculan suaminya.
"Haus" ujar Biru sambil membawa botol minum yang biasa mereka taruh di kamar. Rupanya Rain lupa mengisi ulang botol mereka.
"Dee barusan video call, katanya dia dilamar sama Rommy.."
"Wah.. bagus dong." Biru menjawab sambil menenggak air putih yang baru dia ambil, ikut duduk di sebelah istrinya "kok kamu tidak terdengar senang?"
"Yaa.. belum selesai." ujar Rain cemberut karena pembicaraannya dipotong "Trus Dee bilang, kalau mereka mau mulai hidup bertualang, berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain, dan diutamakan pulau-pulau terluar Indonesia. Katanya mau mulai dari Miangas.." jelas Rain sambil menghela napas panjang "aku khawatir sama Dee. Kamu kan tahu dia anaknya gimana. Impulsive dan mudah bosan.. apalagi dia akan mengorbankan karirnya, padahal sebentar lagi dia akan jadi pimpinan di kantor cabang... aku takut dia bosan.."
"Wajar sih kalau kamu berpikir seperti itu, kamu kan sahabatnya sejak SMA. Tapi apakah kekhawatiranmu itu akan mengubah keputusannya? Tidak kan?" Biru melontarkan pertanyaan retoris. Rain tahu kekhawatirannya ini tidak akan berarti apa-apa. Tapi sebagai seorang ibu, khawatir sudah menjadi nama tengahnya. Dia selalu khawatir. Biru mengusap punggung istrinya, berusaha menenangkan. "atau jangan-jangan.. kamu mau juga seperti itu? Hidup nomaden, menikmati pulau-pulau terluar Indonesia? Lautnya biru-biru loh" godanya membuat Rain memicingkan mata. Rain tidak menjawab lagi. Diambilnya botol minum dari tangan suaminya, lalu melenggang ke kamar.

***

Nyaris tiga tahun Biru dan Rain menetap di kota kecil ini. Kota kecil yang menghadirkan aroma laut yang setiap sore selalu mereka nikmati bersama. Mudah saja bagi Biru dan Rain untuk membaur dengan para tetangga, keuletan Biru dan keramahan Rain membuat mereka mudah diterima. Apalagi watak penduduknya yang memang masih sangat kental dengan budaya ramah-tamah dan gotong-royong.

Biru berhasil membeli sebidang tanah di sebelah rumahnya. Sedikit demi sedikit merenovasi rumah bergaya 80-an itu menjadi penginapan dua tingkat dengan desain serba kayu. Penginapan mereka sudah dikenal, terutama dikalangan para pelancong luar negeri. Tetamu itu datang membawa papan selancar, tas gendong besar, dan cerita untuk dibagi pada siapapun yang ingin mendengar.

Penginapan mereka sudah seperti rumah bagi para turis kesepian yang meninggalkan negaranya demi menjelajah separuh negeri. Ada seorang koki dari Itali yang berkelana selama enam bulan di Asia Tenggara dan sudah tiga minggu tinggal di penginapan Biru dan Rain. Ada perempuan dari Prancis yang baru ditinggal oleh pacarnya yang ternyata seorang penipu, ada juga seorang laki-laki dari Bali yang memutuskan untuk hidup sesuka hati dan berkelana kesana kemari.

Setiap mereka yang berkesan bagi si pemilik penginapan, akan diabadikan dalam sebuah potret yang menggantung di dinding ruang tamu hingga ruang makan. Penginapan berbentuk L itu memiliki dapur yang terpisah dari rumah, yang disepanjang koridornya berhiaskan foto-foto mereka yang pernah mampir. Begitupun kamar mandi, semua dirancang dalam konsep open space. Dapur yang terpisah, dapat diakses oleh semua tamu dengan aturan-aturan yang ditempel dan ditulis dengan manis. Tentu saja itu adalah ide Rain. Rumah Biru dan Rain sendiri terpisah dari penginapan dua lantai itu walau hanya bersekat dinding dan masih berada dalam halaman yang sama.

Memang sejak mereka memutuskan untuk pindah, Dee adalah orang yang paling kehilangan. Dia pun menyangsikan Rain yang bisa hidup di kota kecil tanpa mall.
"Ah, kamu mana bisa hidup di desa. Paling satu-dua tahun akan kembali ke Jakarta.." begitu ujarnya sambil cemberut. Rain tertawa, dan membuktikan bahwa dirinya bisa beradaptasi dengan baik dengan suasana pedesaan, laut, dan segala kesederhanaan.

Walau harus diakui, Rain tidak memperhitungkan kehidupan sosial desa yang begitu erat satu dengan lainnya. Semua orang mengetahui urusan hampir semua orang, nyaris tidak ada ruang tersisa untuk bersembunyi dari omongan tetangga. Baik maupun buruk, Rain yang awalnya risih, lama-lama mulai membiasakan diri. Belanja di pasar, selalu disapa di manapun berada, dan hal-hal baru lainnya bisa dia terima dengan mudah. Tapi membicarakan tentang dirinya ketika ditanyai macam-macam oleh ibu RT yang selalu ingin tahu, Rain masih harus belajar caranya menghindar dengan sopan tanpa melukai perasaan.

Belum lagi nasihat-nasihat tak perlu yang selalu dilontarkan kepadanya selama merawat Kala. Tradisi yang berbeda yang dipahami oleh ibu-ibu lain, beberapa ada yang sangat bertolak belakang dengan apa yang Rain pelajari melalui buku-buku. Walaupun Rain terlihat menerima semua masukan, namun ia selalu teguh pada apa yang tertulis di buku, sampai suatu waktu seorang istri tetangga melontarkan kalimat yang sangat menyakitkan hati. Saat itu Rain hanya sedang lewat, dan mereka berbisik-bisik membicarakan dirinya, menggunakan bahasa yang mereka pikir Rain tidak mengerti.

"Dia pikir dia itu tahu semuanya. Huh, masak bayi gak di bedong, kan nanti kakinya bisa O"
"Iya tuh, katanya di buku gak gitu. Apa-apa buku, apa-apa buku. Udah gitu bukunya Bahasa Inggris lagi. Kan belum tentu itu cocok di kita. Beda orang kan beda budaya. Harusnya kalau sudah tinggal di sini ya ikut tata cara di sini.."
"Betul itu.." seorang lagi menimpali "lagipula metode kita kan sudah teruji turun temurun anti gagal.." 

Rain hanya menghela napas demi mendengar cuplikan percakapan itu, sambil lalu melewati ketiga perempuan yang berbisik-bisik mengangguk dan melempar senyum ramah. Tiga perempuan itu membalas dengan senyum yang tak kalah ramah.

Sampai di rumah, Rain hanya bisa menangis.

Biru tertawa ketika mendengar cerita Rain. Dia sudah tahu akan begini jadinya, sehingga pilihannya hanya tinggal menguatkan sang istri. Dengan sedikit kelakar, sedikit logika yang masuk akal, Rain sudah bisa kembali tenang. Sepenuh hati menerima keadaan yang mau tidak mau harus dia jadikan bagian dari hidupnya.

Biru tahu istrinya ini tidak akan lama bertahan dalam gaya hidup seperti ini. Rain lahir dan tumbuh di kota besar, di mana satu rumah dan rumah lain tidak begitu menaruh peduli pada satu sama lain. Di sini, dia harus terbiasa ditanyai bermacam-macam perihal, dan harus mau menjawab itu semua.


"Nanti Dee juga akan mengalami seperti ini.." keluh Rain sambil menarik selimut bersiap tidur. Biru sudah duluan memejamkan mata.
"Dia akan terbiasa. Sama kayak kamu juga, sudah terbiasa." ujarnya pendek.

***
Malam itu, Rain bermimpi, melihat deburan buih putih di atas bentang laut biru yang amat luas. Dia berdiri di atas mercusuar yang juga putih, mengenakan gaun panjang yang juga berwarna putih.
Miangas.. batin Rain.

***
Bogor, 22 Desember 2019
8 days to 2020. New life is around the corner, if you were brave enough to take it.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …