Skip to main content

#6 Light [Fiksi]

Jenny duduk menyandarkan punggunya ke sandaran kursi batu yang berhadapan dengan patung Laksmana Cheng Ho yang berdiri gagah di depan Klenteng Sam Poo Kong. Di sinilah dulu dia dan Aditya -lelaki yang merasuki pikirannya selama bertahun-tahun- kerap menghabiskan waktu saat sedang liputan di Semarang.

Meski matahari menyengat dengan amat terik, Jenny tidak keberatan duduk di situ karena letaknya yang dipayungi oleh pohon rindang yang menyajikan belaian angin sepoi-sepoi. Dia menenggak minuman dingin yang dibelinya di pedagang asongan sebelum memasuki klenteng. Lagi-lagi bergulat dengan pikirannya, sembil memandang lurus Laksmana Cheng Ho seolah menuntut jawaban.

'Am I crazy' ujarnya bertanya pada diri sendiri 'I quit my job, I spend days in this town, waiting for him to text me first.. which I know that never gonna happen..' 

Lamunan Jenny melambung jauh ke hari-hari yang dia habiskan dengan Aditya. Memang dia tidak pernah menjanjikan apapun pada Jenny, hubungan mereka benar-benar hanya sebatas hubungan kerja. Tapi Jenny ingin lebih dari itu, she's longing for him, karena baginya, Aditya adalah satu-satunya laki-laki yang tidak brengsek dan paling bisa diandalkan.

'He knows every weird things that I like, which not so many people understand, and so what He likes.. also are my favorite without I'm making it up..' pikirnya lagi kali ini mencoba menghitung-hitung kesamaan dan kecocokan antara dia dan Aditya. Jenny tahu dia hanya membuang-buang waktunya yang berharga. Dia sungguh ingin mengeluarkan Aditya dari pikirannya, berhenti memikirkannya, dan berhenti mengharap-harapkannya karena sungguh ini menyakitkan. Tapi bagaimana..

Setiap kali Jenny mencoba meminta pendapat dari orang lain, yang dia dapatkan hanya nasehat-nasehat untuk bersabar dan berdoa..

Hmm.. berdoa. Ya. Mungkin dia harus berdoa. Tapi pada siapa? Jenny menatap lekat patung Laksmana Cheng Ho, dia tahu patung itu bukan bagian dari yang dipuja oleh para pengunjung kuil. Tapi tetap saja ada nuansa magis yang terpancar dari lekuknya.

Jenny memejamkan mata, mencoba berkomunikasi dengan apapun yang bisa memberinya jawaban. Sedetik kemudian hatinya tergerak untuk melangkah masuk ke kuil. Mungkin di sana dia bisa mendapat jawaban. Mungkin di sana hatinya bisa lebih tenang, dan tahu bagaimana cara menyingkirkan suara-suara bising ini. Mungkin...

Tanpa berpikir panjang, Jenny beranjak dari bangku batu menuju ke dalam kuil. Langkahnya sempat terhenti sejenak di anak tangga pertama. Dia ragu, karena ini bukanlah kepercayaan yang dia anut. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu kepercayaan mana yang harus dia anut. Tapi Jenny tetap melangkah, menaiki satu persatu anak tangga yang tidak banyak itu. Dia berhenti sebentar, melihat ke sekeliling, kalau-kalau ada orang yang berusaha mencegahnya. Seorang perempuan dengan wajah oriental melewati Jenny. Jenny mengikutinya dari belakang, berusaha tampak senatural mungkin. Diam-diam Jenny mengikuti gerakan perempuan yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti.

Lambat laun, hening hari itu melarutkan Jenny dalam sebuah percakapan. Percakapan yang terjadi di dalam kepalanya sendiri. Percakapan antara Jenny dan Sang Dewa Bumi.

'Bawa aku keluar dari sini, tolong..' 

Jenny berada di lorong panjang yang gelap. Tidak ada cahaya, namun dia harus terus berjalan. Terdengar suara-suara yang memintanya untuk terus melangkah dan jangan pernah berhenti. Untuk sesaat, Jenny merasa sesak di dalam dadanya perlahan semakin nyata. Menjadi sesak fisik yang mengganggu jalan nafasnya. Jenny berusaha berteriak, namun tertahan oleh sesuatu yang entah apa. Jenny terus berjalan.

Jenny terus berjalan, hingga sebuah cahaya perlahan mulai terlihat. Cahaya itu seolah berjalan ke arahnya. Semakin cepat dan semakin cepat. Jenny panik. Ia ingin lari, tapi berbalik ke belakang sudah tidak mungkin karena lorong itu terlalu panjang dan Jenny tidak tahu ke mana ujungnya. Cahaya itu semakin mendekat, dan Jenny memilih untuk berdiri mematung. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan, berlari menyambut cahaya, atau diam dan membiarkannya melakukan apapun yang cahaya itu hendak lakukan..

***

Bogor, 29 Desember 2019
Before attending a wedding that supposedly I depart an hour ago.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …