Skip to main content

#4 Jenny [Fiksi]




Jenny mengemasi barang-barangnya, memasukkan alat tulis ke dalam tas --buku, pulpen, kertas binder-- menyambar ponsel dan berjalan cepat keluar gedung kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, artinya ia lagi-lagi terlambat untuk menonton serial kesayangannya setiba di apartemen nanti.

Ugh, bad Jenny! rutuknya dalam hati always like this, lose track of time when time is the only thing she has gerutunya pada diri sendiri. Secepat kilat ia memasuki mobil silver metalik kesayangannya dan bergegas keluar parkiran. Bagi seorang seperti Jenny, kesenangan menonton serial terletak pada ketepatan waktu dan originalitas tayangan. Bukan tayangan ulang, atau video hasil unduhan. Harus ditonton tepat pada saat tayang, sehingga dia menjadi bagian dari golongan orang-orang yang pertama kali mengetahui ceritanya.

Tentu saja bagi Rain atau Dee, hal seperti ini sudah terlalu sepele. Jenny pun tidak ingin membandingkan kehidupannya dengan mereka, apa yang penting baginya adalah remeh bagi mereka. Pun sebaliknya, apa yang penting bagi mereka saat ini, belum menjadi satu masalah besar bagi Jenny. Dia hanyalah seorang perempuan single in her early thirties, yang masih sangat menikmati hidupnya.

Tapi bohong jika dikatakan Jenny tidak ingin menikah. Terlebih setelah Dee mengumumkan pertunangannya, ada sedikit sesak yang menggerogoti kerongkongan Jenny yang membuatnya agak merasa sedikit hampa. Karir adalah segalanya bagi Jenny saat ini, tapi itu bukan tanpa alasan. 

Adalah seorang laki-laki yang dulu pernah berpartner bersamanya yang telah tiga tahun lebih mencuri hati Jenny, dan tidak pernah mengembalikannya lagi. Sejak kenal laki-laki itu, Jenny seolah tidak bisa lagi mencintai laki-laki lain. Padahal dianya sendiri pun tidak pernah menyatakan apa-apa pada Jenny, apalagi memintanya menunggu. Jenny jatuh cinta, untuk pertama kalinya, dan sulit baginya untuk menghilangkan perasaan itu. Perasaan itu datang tanpa aba-aba dan tidak pernah pamit. Berulang kali Jenny memohon pada dirinya sendiri untuk melupakan sosok tinggi jangkung yang memiliki senyum termanis di dunia itu. Berulang kali Jenny mencoba mencari closure dengan berinisiatif menemuinya duluan, mengajaknya jalan-jalan di taman sambil makan es krim. Tapi hanya sampai di situ saja. Pun pembicaraan mereka selalu seputar pekerjaan. Tidak pernah lebih apalagi meleset jauh dari itu.

Tiga tahun dan Jenny menyerah. Setelah Dee mengumumkan pertunangannya, Jenny seolah disadarkan bahwa telah tiba bagi dirinya untuk beranjak. Memulai pola pikir yang baru, dan tidak lagi terus menerus terkungkung dengan pendaman perasaan yang kalau ini adalah wine, mungkin sudah jadi wine terenak di dunia saking terfermentasinya. 

Sore tadi dia memutuskan, jika Dee akan ke Miangas, maka dia akan ke Pulau Rote! Jenny yang terbiasa bepergian dengan mendadak, justru tenggelam dalam perencanaan. Dia benar-benar mengatur jadwal penerbangan dan jadwal keberangkatan kapal, agar tidak menghabiskan waktu terlalu lama. Kali ini, bukan tujuan yang dia kejar, tapi perjalanannya itu sendiri. Perjalanan yang membawanya ke salah satu pulau terluar Indonesia, untuk menyimpan perasaannya di sana, menguburnya dalam-dalam, dan tidak pernah dibawa pulang lagi. 

Bahkan dalam hening mobil yang menderu membelah keramaian, Jenny tidak bisa berhenti memikirkan tentang laki-laki yang sudah enam bulan tidak ada kabarnya. Tidak menyapa, bahkan hanya sekedar hai apa kabar. Sapaan biasa dan standar yang biasa dia terima dari laki-laki yang mengincar dirinya, tidak pernah dia temukan dari laki-laki yang justru dia incar. Jenny lelah menunggu. Dia terpaksa dibuat menunggu karena ada hal yang istimewa dari laki-laki ini. Sesuatu yang sanggup membuat seorang perempuan tidak sabaran, penuh antusiasme, selalu bisa mengungkapkan perasaan, menjadi perempuan yang sabar, diam, dan menunggu secara pasif. Jenny lelah terus menerus memberi kode lewat insta-story, berharap dia mengerti. Dari ratusan orang yang melihat insta storynya, Jenny hanya akan berhenti scrolling jika nama itu sudah ditemukan.

Jenny mengklakson pengendara motor yang di depannya. Ojek online tanpa seragam, yang menurunkan penumpang seenaknya. Susah tahu cari parkir! gerutunya dalam hati. Ojek online itu berhenti di depan parkiran kosong yang menjadi incaran Jenny. Kosong, tapi dihalangi.. jangan-jangan... 

Ia memukulkan tangan ke setir. Kesal dengan pikirannya sendiri. Apa-apa yang terjadi sering dihubung-hubungkan dengan si lelaki menyebalkan itu. Jangan-jangan dia memang sebenarnya single, kosong seperti parkiran ini, tapi ada yang menghalangi, mungkin itu keluarganya yang tidak suka dengan perempuan macam gue, atau dianya yang... arrgg.. Jen! STOP! Jenny nyaris berteriak. Suara-suara di dalam kepalanya bising sekali. Dia benci bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia harus segera masuk ke dalam apartemen, memencet angka dua puluh, dan membenamkan diri di sofa sambil menonton karakter psikopat kesayangannya menguntit perempuan yang dia cintai.

***

"Tujuh hari?" atasannya mengulang tulisan di atas formulir yang diajukan Jenny. Jenny mengangguk mantap "lama bener, mau lamaran?" pertanyaan yang mengandung nada sarkastik.
"Cuti saya kan masih utuh, Pak. Lagipula tahun-tahun sebelumnya juga tidak pernah saya habiskan semua.."
"Iya tapi tujuh hari kelamaan, dong Jen.." potong atasannya cepat. Darah Jenny mendidih mendengar atasannya yang terkesan tidak menghargai hak karyawan.
"Kalau bapak keberatan, biar saya ganti form nya, Pak" ujarnya dingin.
"Ya.. ya.. very well.." si bapak mengembalikan formulir yang dengan cepat diambil oleh Jenny. Tanpa berpikir dua kali, dia meminta formulir baru dari ruang HRD; formulir resign. 

***

"Kamu GILA, Jen?!" Rain terkejut demi mendengar cerita Jenny melalui telepon sore ini. Jenny hanya terkekeh pelan..
"I don't know what I'm doing with my life.. Rain.." ujarnya lemah. Perlahan, tangis yang sedari tadi dia sembunyikan, mulai menyeruak berbentuk bulir-bulir air mata yang tak terbendung. Jenny menangis. Sore itu dia sudah sampai di parkiran apartemen lebih awal dari biasanya. Dia diminta pulang untuk mempertimbangkan pengajuannya selama tiga hari. Hujan mulai membasahi kaca mobil. Setitik demi setitik, lama-lama deras senada dengan tangis Jenny.

Rain membiarkan sahabatnya mengeluarkan semua air mata yang perlu dia keluarkan. Rain tahu betapa berat menjadi Jenny, perempuan yang hidup di tengah budaya ketimuran, yang setelah melalui batas usia tertentu dan belum menikah, akan dianggap sebagai sesuatu yang patut dikasihani. Rain pun tahu tentang perasaan tidak biasa yang Jenny pendam, karena bukan Jenny namanya jika memendam rasa suka pada laki-laki. Yang terjadi selalu sebaliknya, pun jika Jenny yang suka pada laki-laki itu, dia akan dengan mudah mengutarakannya. Tidak pernah dipendam-pendam seperti ini.

Diam-diam Rain sudah membenci laki-laki yang hanya dia kenal lewat cerita Jenny. Sungguh siapapun dia, dia sudah mempermainkan sahabatnya, meskipun dia tidak pernah berjanji apapun untuk Jenny. Tapi laki-laki itu tetap salah di mata Rain, karena jika memang tidak ada perasaan apa-apa, seharusnya dia tidak boleh begitu baik pada Jenny sampai disalah artikan begini. Apalagi Jenny bukanlah orang yang lihai dalam menyembunyikan perasaan, dan laki-laki dungu pun akan tahu bahwa Jenny punya perasaan pada orang itu. Harusnya dia tahu. Rain geram. Hatinya ikut hancur berkeping-keping melihat Jenny yang masih menangis, suaranya berbaur dengan gemuruh guntur dan hujan. Dia masih di dalam mobil.

"Jenn.. honey.. kalau aku di sana, aku pasti akan datang ke apartemenmu malam ini, kita Netflix and chill.." ujarnya berusaha menghibur. Jenny tersenyum walau masih terisak "kamu itu perempuan paling tangguh yang aku kenal. Paling mandiri. Kamu selalu tahu apa yang kamu mau, dan kamu selalu mampu meraih apapun yang kamu cita-citakan. Aku percaya kamu bisa melewati ini, yes?"
Kalimat Rain seperti embun di pagi hari yang menyentuh gersang tandus di hati Jenny. Sederhana dan menenangkan. Perlahan isaknya mereda. Jenny menghapus air matanya dan mulai menghela napas dalam-dalam.
"Tapi gue gak iri sama Dee, loh.. ini sama sekali bukan karena Dee tunangan.." ujarnya buru-buru meluruskan. Rain mengangguk paham. Karena Dee ataupun bukan, urusan pernikahan sangat sensitif bagi sahabat-sahabatnya ini. Sebetulnya ini bukan kali pertama Jenny menangis karena pergulatan batin antara karir dan menikah, antara menunggu dan bergerak duluan. Rain sering mendapati Jenny bermata sembab, karena baru habis disindir teman kantornya yang sudah punya anak, yang membangga-banggakan betapa anaknya mencintai dirinya dan betapa orang seperti Jenny amat kesepian karena belum berkeluarga. Awalnya Jenny benci mendengar kalimat-kalimat bernada nyinyir seperti itu, tapi lama-lama dia kebal, dan bisa membalikkan keadaan. Yang justru di telinga Rain terdengar sangat getir, karena dia kenal sahabatnya ini tidak pernah sanggup menyakiti hati orang lain apalagi dengan sengaja.

"Katamu kamu mau ke Pulau Rote? Cerita dong gimana kok sampai memutuskan mau ke sana" Rain mencoba mengangkat topik yang membuat Jenny senang. Benar saja, senyum tipis akhirnya terbit di wajah cantik yang sedari tadi mendung. Jenny mulai merunut satu persatu thought process yang dia lalui sampai akhirnya membeli one way ticket menuju Kupang.

Perjalanan yang tadinya hanya dia niatkan untuk mengunjungi satu pulau dan langsung kembali ke Jakarta, kini berubah menjadi perjalanan yang tak dibatasi oleh waktu. Mungkin setelahnya dia akan mengunjungi beberapa pulau terluar lain, yang terlalu kecil untuk dideteksi di peta.
"Kalau ini, iya gue terinspirasi dari Dee. Anggep aja ini gue survey-in destinasi untuk Dee, jadi nanti pas dia ke sini gue bisa kasih saran akomodasi dan transportasi yang bisa dia pakai., haha" canda Jenny diakhir penjelasan. Rain mendengar dengan antusias, diam-diam juga iri karena sahabatnya masih bisa menikmati hidup dengan mengambil perjalanan tanpa banyak pertimbangan. Ah tapi memang sudah karakter Jenny dari dulu seperti, she never think before she jump, makanya dia jadi jurnalis. 

Rain tidak ingin membahas mengenai rencana karir Jenny ke depan. Biarlah sahabatnya ini mencari apa yang selama ini dia butuhkan; closure. Rain yakin, hanya dengan mendapat closure yang jelas, Jenny akan bisa lagi membuka hati. Siapapun akan mudah masuk jika si empunya mengizinkannya masuk.

"Mudah-mudahan gue bisa menemukan closure dari sini. Gue ingin berjalan sejauh mungkin, selama mungkin, dan ketika sampai di sana, gue hanya ingin mengucapkan selamat tinggal dan pulang dengan utuh.." seolah membaca pikiran Rain, Jenny lalu melanjutkan "gue butuh closure. Walaupun gue tahu, tidak semua hal bisa dan perlu ditutup. Walau mungkin memang ini adalah bagian dari hukuman gue yang dulu sering menyia-nyiakan perasaan orang-orang yang sayang sama gue. Terus terang gue menyesal. Dan gue akui betapa bitchy kelakuan gue ke mereka. Tapi sekarang gue sadar. Dan gue berjanji untuk berubah. Perjalanan ini adalah bukti keseriusan gue mau berubah.." ujarnya lebih kepada diri sendiri.

Rain tersenyum lebar, matanya terharu. Rasanya dia ingin memeluk sahabat yang paling jenaka ini. Yang selalu cuek dan tidak pernah serius dalam memikirkan arti hidup. Jenny kini sudah menjadi dewasa.
"Kamu harus tahu, aku bangga sekali punya sahabat kayak kamu, Jen.." ujarnya berkaca-kaca "kamu perempuan hebat.. kamu kelak akan jadi ibu yang hebat" dan Rain bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.

Mereka saling berpamitan dengan satu dua kelakar yang dilontarkan oleh Jenny tentang tamu penginapan bule yang mungkin bisa dicarikan oleh Rain. Tertawa, mematikan ponsel, dan kembali menyalakan mobil. Kali ini Jenny tahu kemana dia harus pergi, yang jelas untuk masuk ke apartemen masih terlalu pagi baginya. Hujan mereda, menyisakan gerimis dan genangan. Jenny melajukan mobilnya pelan namun pasti. Menunjukkan kartu parkir, dan terus melaju dalam hening. Tidak radio, tidak playlist apapun yang dia nyalakan. Dia hanya ingin berdua dengan pikirannya. Menuju pintu tol, tanpa berpikir dua kali. Tujuannya kali ini satu: Semarang. Kota di mana ini semua bermuasal.

***
Bogor, 24 Desember 2019.
Jenny nya fiktif, tapi rencana perjalanannya tidak. Oh am SO EXCITED

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …