Skip to main content

#5 Jenny (2) [Fiksi]

Berita tentang resign nya Jenny tentu mengejutkan bagi tiga sahabatnya, termasuk Nadhira. Dia tidak berhenti mengecek keadaan Jenny setiap saat, bahkan sebelum tidur.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya, beb" tulisnya melalui pesan singkat
"Iya beb, :)"
"I love you,"
"Love you, too.."
"Jijik ya kita,"
"Bangett"
":D"

Meski demikian Nadhira sangat paham dengan cara berpikir Jenny. Walau kesannya impulsive, tapi tindakan itu biasanya diambil setelah proses pemikiran yang lumayan panjang, namun terpotong-potong. Misalnya, jika dia sudah bulat untuk resign, berarti pikiran tentang itu sudah lama terngiang di benaknya, namun belum pernah diseriusi. Biasanya, Jenny memang tidak pernah sempat menseriusi satu keputusan yang diambil untuk ditimbang masak-masak, karena keputusan itu hanya selintas melintas di benaknya, dan ketika momentnya tepat.. boom! Diambil keputusan itu. Kesannya sih memang setengah matang, tapi ya.. itulah Jenny. Medium rare kinda steak.

***

Jenny tiba di Semarang lewat tengah malam. Kepalanya dipenuhi malam-malam yang pernah dia lalui bersama laki-laki itu. Saat mereka berdua harus berkendara via darat karena kehabisan tiket pesawat, demi mengejar liputan acara yang dibuka oleh Presiden di pagi hari. Sengaja dia memilih hotel yang sama yang mereka tempati. Semua bermula pada hari itu, tiga tahun yang lalu. Lambat laun Semarang menjadi kota favorit mereka berdua, yang di waktu-waktu tertentu sengaja mereka mencari event untuk diliput untuk melampiaskan rindu pada kota yang mereka anggap seperti seorang nenek itu.

Dari kejauhan samar-samar mulai terdengar lantunan ayat suci dikumandangkan, tanda bahwa sebentar lagi subuh tiba. Jenny yang terlahir dari keluarga campuran, ayahnya Muslim dan ibunya Katolik, memang belum pernah benar-benar memilih apa agama yang dia yakini. Namun hatinya cenderung merasa tentram setiap kali suara azan dikumandangkan. Karena itu menandakan bahwa dia masih di 'rumah'. Seorang anak dari keturunan suku yang beragam seperti Jenny tidak pernah benar-benar memiliki satu kota untuk dijadikan rumah. Baginya, Indonesia adalah rumah. Dan Indonesia sangat identik dengan lantunan azan, maka selagi azan masih terdengar, dia masih merasa berada di rumah.

Air hangat membasuh tubuh lelah Jenny. Menyetir mobil selama berjam-jam tidak pernah melelahkan untuknya karena memang itu yang dia suka. Driving adalah caranya membersihkan pikiran. Tapi lelah ini.. lelah berteka-teki. Lelah menunggu dan tak kunjung mendapat jawaban. Sudah tentu sepanjang jalan tadi Jenny mengupload cerita-cerita melalui insta-story nya. Dia nyetir sendirian, dia dan pikirannya, dia dan beberapa plang yang menunjukkan arah tujuannya, dan setiba di Semarang, tidak lupa memotret dan mengupload foto yang menunjukkan Semarang di malam hari. Tak lupa pula ia mencari nama lelaki itu di daftar viewer nya. Selalu ada, namun tak berkomentar apa-apa.

Jenny tertidur dengan tubuh masih berbalut handuk. Di dalam tidurnya dia bermimpi pergi ke Pasar Baru, membeli beberapa pasang baju dan pakaian dalam yang dibungkus dengan higienis, lalu mengunjungi Gereja Blendhuk yang menyimpan sejarah. Tentu yang dia maksud adalah sejarah nya dengan sang lelaki pujaan. Dalam mimpinya, dia berbincang dengan Gereja tersebut, dan bertanya, mengapa dia begitu dingin.. Apakah karena keyakinan kami berbeda?

***

Sarapan pagi dan Nadhira sudah sibuk menghubungi ponsel Jenny berkali-kali. Dia benar-benar ingin memastikan sahabatnya ini baik-baik saja, utuh dan tidak sedang berpikir yang macam-macam. Tapi Jenny sedang ingin sendiri. Dibiarkannya ponsel berdering, sambil berjanji dalam hati nanti akan mengirim pesan singkat dan menjawab semua pertanyaan lewat perpesanan saja.

Jenny benar-benar melakukan seperti apa yang dimimpinya semalam, walau sebagian besar sebenarnya dia sudah tidak ingat, yang jelas dia memang harus segera membeli baju dan celana, dan mengunjungi Gereja Blendhuk.

Semua masih sama. Trotoar yang sama tempat mereka duduk menunggu waktu mulainya liputan. Dia memandangi bangunan itu sambil bertanya sendiri what the heck am I doing here.. pikirannya terlalu kacau untuk bisa berpikir jernih. Closure yang dia cari sepertinya tidak di sini, karena justru memori itu datang dengan gambar-gambar yang sangat jernih, mustahil untuk dimusnahkan. What am I doing here.. 

Sorenya, Jenny duduk di kafe yang juga adalah tempat mereka sering habiskan malam. Pinggir sungai, walau sungainya tidak begitu bersih. Setidaknya ada pisang goreng dan secangkir kopi berkualitas. Pikiran Jenny tidak berhenti berputar, memikirkan segala kemungkinan, menebak semua skenario, berdebat apakah sebenarnya laki-laki itu menaruh perasaan padanya, atau dia hanya bersikap baik, atau dia sebenarnya suka tapi ragu, atau dia memang terlalu sopan.

Jenny berniat untuk mengurai semua kemungkinan, dan baru akan kembali ke Jakarta setelah mendapat jawaban pasti.

***

"Tenang, Nad., dia kan udah dewasa" Rain menenangkan Nadhira yang sedari pagi kesal karena Jenny tidak mengangkat teleponnya. Balas chat pun singkat,
"Iya tapi ini Jenny, Rain.. inget kan dulu dia pernah coba bunuh..."
"Ya, tapi itu karena orang tuanya bercerai. Sejak itu kan dia berubah drastis."
"Aku sedih, Rain.." giliran Nadhira yang kini mulai terisak "Dee sudah tunangan, Jenny kini resign, kamu sudah punya anak.. semua orang seperti sudah mulai mengubah hidupnya. Dan aku..." Rain menarik napas agak lega, yang buru-buru dia hembuskan pelan. Tidak mau ketahuan kalau sebenarnya dia lega karena ini lah yang Nadhira keluhkan, Rain lebih khawatir jika Nadhira terlalu berlebihan menyikapi resignation Jenny, karena Jenny paling tidak suka ditanya-tanya jika dia sedang mencoba untuk meluruskan suatu masalah.

Rain diam, mendengarkan isak Nadhira, persis seperti yang dia lakukan pada Jenny. Keduanya kemudian membahas hal-hal spiritual, tentang rencana Tuhan Yang Maha Rapi, tentang segala sesuatu yang pasti mengandung makna. Rain tahu bahwa Nadhira sudah paham tentang itu semua, dia pun tidak sedikitpun bermaksud untuk mengajari, karena Nadhira jauh lebih paham untuk urusan yang satu ini. Tapi sekali waktu, sahabatnya perlu diingatkan.

Bukan cuma Rain, Dee dan Jenny pun sebenarnya kaget ketika tahu Rain lah yang pertama kali menikah di antara mereka berempat. Pasalnya sejak dulu, Nadhira merupakan kandidat utama saat mereka menebak-nebak siapa yang akan terlebih dahulu menikah. Pun ketika delapan tahun kemudian Nadhira masih belum juga menikah, semua sepakat untuk menyimpan keheranannya itu.
Nadhira memang bisa dibilang yang paling 'lurus' dibanding mereka semua, tidak pernah pacaran, walau baru-baru ini saja dia mengenakan jilbab. Tapi sejak dulu pun dialah yang paling taat untuk beribadah, dan menyelipkan Tuhan di dalam setiap kekagumannya pada alam.

"Aku takut Rain..." kalimat Nadhira menggantung di akhir ceritanya. Rain paham betul apa yang dia takutkan, maka dia hanya mengangguk bersimpati.
"Aku tahu.... tapi sekarang, kamu masih punya aku, ya.." ujarnya lembut. Nadhira mengangguk..
"Kita telpon Jenny sekarang?" Nadhira tiba-tiba teringat sahabatnya, Rain menggeleng.
"Jangan dulu, biarkan anak itu sendirian dengan pikirannya. Nanti juga kalau dia sudah ringan hati, dia akan cari kita." Rain tersenyum,
"Hahaha.. iya sih.. lebay ya aku mengkhawatirkan dia. Padahal dia juga belum tentu mikirin aku.." ujarnya dengan derai tawa. Rain ikut tertawa, dalam hati dia bersyukur masih dianugerahi sahabat-sahabat yang saling peduli, saling mencari, dan saling menasihati satu sama lain. Di umur seperti ini, jarang ada orang yang masih mempertahankan sahabatnya. Kebanyakan sudah larut dalam kehidupan masing-masing, dan hanya akan kumpul lagi nanti suatu saat setelah tua dan keriput, untuk makan-makan, bertanya kabar, foto, dan pulang. Rain bersyukur, lingkaran terkecilnya ini tidak seperti itu.

***
"I wanna hate you, but I can't" Jenny menutup tulisan panjang nya di laptop, bersiap mengirimkan melalui email ke lelaki itu. Dia tertegun sesaat, sebelum akhirnya memencet tombol 'save to draft'. 

Ia menutup laptop kesal. Seorang laki-laki yang sedari tadi diam-diam mengamati gelisah Jenny akhirnya terang-terang mengambil tindakan. Begitu laptop ditutup, dia menggeser duduknya persis ke hadapan Jenny.

"Hai" dia mencoba menyapa dengan ramah. Jenny yang terkejut hanya mengerutkan kening.
"Lo pasti gak inget, tapi kita pernah ketemu. Persis di sini." Laki-laki itu mengulurkan tangan "Andre" walau bingung dan berusaha mengingat-ingat, Jenny membalas uluran tangan itu dan menjabatnya sebentar.
"Jenny," jawabnya singkat. Dia sungguh tidak berminat untuk basa-basi dengan stranger apalagi yang ditemui di kafe.
"Boleh minta akun ig nya?" Laki-laki itu bertanya tanpa basa-basi. Jenny terperanjat. Mood nya sungguh sangat tidak tepat untuk beramah tamah dengan seorang asing yang tidak bisa basa-basi. Jenny hanya melempar senyum kecut, memasukkan laptop ke dalam tas, dan pamit tanpa kata.

Laki-laki itu tersenyum, seolah itu bukan pertama kali dia mendapat perlakuan seperti itu. Setidaknya, dari Jenny.

***

Bogor, 25 Desember 2019
Hujan dari pagi, dan ini adalah morning rain kedua di tahun ini. I love morning rain, dan sewaktu kuliah dulu rasanya sering banget morning rain, padahal pagi-pagi tu ya harus ke sawah, nyangkul, praktikum.. sekarang pukul 22.04, dan masih hujan dari habis magrib. Tulisan ditulis di teras, sambil mengikuti ritme hujan, sebenarnya niatnya sih pingin masuk setelah reda, tapi gak reda-reda, jadi aja keterusan.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert