Skip to main content

How to Parents

There were two little sisters and one big sister. They live separately, because the big sister has to grow up. The big sister was once raised with hard parenting. Her mom yelled at her alot, she doesn’t feel loved, and she never got the expression of love verbally or physically. So she’s odd. She likes to be alone, lock herself in her room, drown her mind into books. She never be able to ask for anything. Like the expensive novel that she really wanna buy, she’s too afraid to ask to her parents because they will refuse to buy it. So she’s started a piggybank.. in a jar.. cookie jar. One thousand a day, that she hoped she can manage it untill the next a hundred days. But saving isn’t her thing. So she failed. And the novel, remained a dream.

As she grew up, separately from her parents, she worked really hard, she’s toughen her heart, and be a bit of a successful young woman. She’s now can buy everything that she wants.

The little sisters.. grew up in a very different situation. Their parents spoiled them a lot because now that they started to realise that children are their only treasure. So the little sisters get everything they need. They can ask for everything and the parents will buy it for them. None of their dreams are remained unsolved.

Until one day..
When the mother started to complains about her phone, the big sister made a promise in her heart that she will buy her mother a latest phone. Great brand, great feature, because she wants her to be comfortable with her device. But.. then the little sister.. who is too little for such advanced technology.. wanting it so bad. The mother couldn’t help but to give it away. Ignoring the big sister’s voice that says “i bought it for you, so you dont have to wear your old slow phone”. But she doesn’t listen. She said the old one is okay, and she wanted to give it to the little sister instead.

So the big sister’s heart torns apart. She doesn’t really know what love is, what is it to be loved, but she’s so familiar with heart break and abandonment. So now she’s afraid, if one day she becomes a mother, she would be a terrible mother. No matter how hard she learn, how many books she read, how many classes she took and how many videos she watched on how to be a good parent,. She’s still terrified. She’s afraid of making her parents mistake. And left the children.. feel lonely.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …