Skip to main content

Gara-gara lagu Laskar Pelangi

“Mimpii.. adalah kunci
Untuk kitaa.. menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya...”

Mungkin karena liriknya yang memotivasi,
Atau juga karena nadanya yang memantik semangat.,
Atau simply karena lagu ini adalah satu-satunya lagu yang bisa dimainkan oleh pemain gitar kami.. Saya kurang begitu ingat. Yang saya ingat, malam itu sembilan tahun yang lalu., kami mencoba peruntungan dengan ngamen di warung-warung tenda, Saras namanya. Dulu masih di sekitar Jalan Pajajaran, sekarang saya baru tahu kalau warung-warung tenda di Sudirman tempat saya makan tadi, itulah Saras yang sekarang.

Saya tahu dari mana?
Dari abang Go-car yang mengantar saya kesana. “Saras ya, Bu?” Begitu katanya setelah saya berusaha menjelaskan bahwa walaupun tujuan di aplikasi ini adalah Bogor Permai, tapi yang sebenarnya saya maksud adalah warung-warung tenda itu. “Oh itu Saras ya? Yang dulu di Pajajaran pindah ke situ?” Supir itu hanya menggeleng tidak tahu. Kami diam hingga di tujuan.

Ada banyak hal yang bisa menjadi pemantik memori. Memori.. seperti halnya cuplikan-cuplikan film, hanya bisa menampilkan gambar-gambar yang kita ingat dengan hati.. (agak canggung ya, padahal saya biasa bilangnya remember by heart)

Sebut saja kata ‘Saras’ hanya dengan mendengarnya, memori saya langsung memainkan adegan gelap, malam yang dihabiskan di jalanan, berusaha menggalang sumbangan, demi tercapainya tujuan. Ke mana lagi kalau bukan ke Pulau Seram, Maluku Utara. Tentu saya tidak ingat semua rangkaian adegan pengalaman pertama dan terakhir kami ngamen bareng. Saya hanya ingat dua adegan; satu adegan saat kami ngamen hari pertama, memilih lagu Laskar Pelangi dengan nada yang berlarian kesana kemari, dan adegan kedua saat seorang mas-mas pakai kemeja, lagi kumpul bertiga dengan kawannya, memasukkan selembar lima puluh ribu di kotak yang kami asongkan. 

Saya masih ingat, malam itu juga saya membatin, berjanji pada diri sendiri, kelak jika ada anak mahasiswa ngamen di tempat seperti ini, saya pun akan memberi dengan jumlah yang besar! Tanpa ragu akan saya beri.

Lewat sejak malam itu, saya tidak pernah bertemu dengan mahasiswa yang ngamen. Pun Saras tempat kami ngamen, setelah itu dipindah entah kemana. Saya baru tahu tadi.. benar-benar baru tahu tadi. Bahwa itulah Saras yang sekarang.

Dua adegan itu.. kemudian bersatu malam ini. Saya tiba-tiba jadi tahu tempat itu adalah Saras, memutuskan makan malam di situ berdua dengan Ayah saya, (padahal sebelum-sebelumnya kami selalu ke mall demi pilihan yang melimpah), lau ada segerombolan mahasiswa, laki-laki dan perempuan, satu orang bergitar, yang lain bernyanyi, dan memilih lagu... Laskar Pelangi.

Nyaris tersedak saya buru-buru mengambil handphone, bermaksud merekam aksi mereka. Tapi terlalu jauh, dan barangkali suaranya pun tidak terdengar. Nyaris menangis karena haru, pun saya tahan. Yaaa tengsin lah ya ada ortu di sebelah. Tanpa ragu, tanpa menghitung, segera saya keluarkan lembaran yang saya janjikan.. tunai!

Sembilan tahun sudah., rasanya baru kemarin saya mengulum janji itu. Karena saya yakin betul tidak ada yang namanya kebetulan,. Bahwa semua sudah diatur oleh Sang Maha Perencana, yang rencana-Nya tiada banding, tidak mungkin bisa dibuat oleh manusia. Ini baru satu hal kecil perihal selembar lima puluh ribu yang tidak pernah saya lupakan. Lambat laun satu persatu skenario lainnya mulai bermain di kepala, seperti menonton film flashback yang di kolase.

Bahwa satu hal dan lainnya sangat bertautan. Erat membentuk sebuah jalinan cerita yang mungkin jika digambarkan, akan berbentuk seperti struktur air di bawah mikroskop yang sangat indah itu.

Seperti kalau kita baca Al-Quran, yang kalau dibaca begitu saja rasanya kok gak nyambung., ayat demi ayat seperti tidak bertautan. Tapi jika dipelajari dengan lebih dalam, ada lapis demi lapis misteri yang bisa terbongkar, yang jika dihubungkan satu demi satu, bisa membentuk struktur yang sangat indah. (I call this habbit of talking about Quran as NAK effect. I cant help my self. I really amazed by the Quran and the way he revealed these secrets).

Ternyata kejadian demi kejadian yang kita alami juga begitu. Seakan random, padahal tidak random sama sekali. Tuhan kita terlalu Jenius untuk menciptakan sesuatu dengan sia-sia, semua pasti ada makna. Tinggal kita mau tidak mengkontemplasi makna yang tersembunyi itu. Karena bagi yang mau berpikir, pasti akan takjub, semakin merunduk, akan ke-Agungan Dia Yang Esa. Afalaa ta’qilun?

***
Bogor, 12-12-2019
Maybe.. this town has done with me.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert