Skip to main content

#1 Biru [Fiksi]

“Rain, aku sudah memutuskan..” Biru memandangi wajah istrinya yang tengah asyik menyesap kopi sambil menekuni buku tebal bersampul hitam “bulan depan, kita pindah dari sini.. aku sudah membeli sebuah rumah di dekat laut, dan rumah ini akan dihuni oleh pemilik yang baru..”

Rain yang belum sepenuhnya mencerna kalimat sang suami, terdiam mematung. Jantungnya berdegup kencang, seperti hendak melonjak keluar saking senangnya. Setelah beberapa detik akhirnya ia bisa memandangi wajah suaminya.
“Kamu serius?” Bisiknya pelan. Biru mengangguk. Rain menutup buku tebalnya, menghambur ke pelukan Biru. Tangisnya berderai. Ia bahagia.. sekaligus juga tidak percaya.
“Terima kasih.. terima kasih..” ujarnya pelan, masih menangis sambil tertawa-tawa. Biru memeluk Rain lebih erat. Ada haru yang membuncah di dadanya, juga gelombang gugup yang tiba-tiba menyerang.

Rain sudah lama ingin pindah. Menjauh dari bising kota, menepi ke rumah mungil yang bertetangga dengan angkasa. Tapi karir Biru menuntutnya untuk harus terus berada di kota, sedangkan Rain hanya ibu rumah tangga biasa. Tidak ada yang menjamin kelangsungan hidup mereka jika dia tidak bekerja.

Belakangan Rain tampak selalu murung. Terlihat sekali dia berusaha membahagiakan suaminya, dengan beban berat yang dia sembunyikan rapat-rapat. Beberapa kali Biru mendapati istrinya mengusap air mata sambil memandangi ponsel, yang jika ditanya dia akan menjawab dengan ‘bukan apa-apa’. Sekali waktu Biru berhasil mencuri pandang, rupanya ia sedang melihat postingan kawannya, menampilkan bayi lucu nan menggemaskan.

Hati Biru hancur kala ia tahu istrinya menginginkan seorang anak. Rain pantas menjadi seorang Ibu, dan Biru berani bersaksi atas keyakinan itu. Namun pernikahan mereka yang beranjak memasuki tahun ke-lima ini belum juga dikaruniai anak. Beberapa dokter sudah mereka kunjungi dan hasilnya semua sama. Kandungan serta kesehatan mereka baik-baik saja. Mungkin hanya karena terlalu capek atau stress, simpulan dari semua nasehat dokter.

Beragam metode sudah mereka tempuh, hingga akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan bayi tabung. Tapi biayanya besar sekali. Untuk bisa mempunyai uang sebanyak itu, Biru harus mengambil jam lembur, dan tambahan lain dari proyek sampingan. Tentu ia jadi semakin jarang bertemu Rain. Berangkat saat Rain masih tidur, dan pulang setelah istrinya tertidur. Akhir pekan pun kadang Biru habiskan untuk tidur.

Beberapa bulan belakangan Rain mencoba mengajak Biru mempertimbangkan ulang jadwalnya, namun selalu berakhir dengan amarah.
“Aku kan kerja untuk kamu! Untuk anak kita! Aku kumpulin semua uang ini supaya kita bisa ambil program itu!!” Teriak Biru suatu malam. Rain terkejut mendengar nada tinggi suaminya, lari ke kamar, membanting pintu dengan debum keras, dan menguncinya dari dalam. 

Setelahnya Biru menyesal. Rain pun menyesal. Hubungan mereka kembali harmonis lagi. Tapi kali ini, dengan Rain yang sudah tidak lagi banyak menuntut. Ia terlihat berusaha ceria, walau di mata Biru, keceriaan itu palsu. Hanya untuk menyenangkan dirinya, yang terlalu lelah mengumpulkan rupiah.

Biru mengambil keputusan ini pun diam-diam. Diam-diam dia menjual rumahnya, diam-diam mencari rumah baru yang sesuai dengan kriteria rumah idaman Rain, dan diam-diam menyelesaikan semua transaksi hanya dalam hitungan minggu.

Dalam sepekan, mereka sudah bisa memulai hidup baru. Biru pun sudah pamit dari kantornya, sambil mengantongi beberapa kartu nama yang mungkin bisa memberinya kesempatan di lain tempat.

“Kerjaan kamu gimana?” Rain bertanya setelah menit-menit penuh antusiasme. Biru memandangi mata bulat istrinya yang berbinar. Cahayanya kini mulai muncul setelah berbulan redup.
“Aku akan mencoba untuk freelance, ada beberapa kolega yang sudah percaya dengan hasil kerjaku, dan mereka menjanjikan satu-dua proyek. Tabungan kita pun masih cukup untuk...”
“Lalu.. program bagaimana?” cahaya di mata Rain mulai meredup. Biru tidak ingin kehilangan cahaya itu, buru-buru dia menggenggam kedua tangan istrinya dan berkata
“Aku yakin jika kita hidup dalam ketenangan, dalam suasana hati yang bahagia tanpa dibuat-buat, anak kita akan punya jalannya tuk menemui kita, sayang. Lagipula aku percaya kita berdua adalah pasangan yang sehat, kita hanya butuh sedikit aroma baru. Aroma laut.. mungkin” ujarnya sambil menggelitik dagu istrinya. Rain tersipu.
“Aku akan bantu kamu, aku janji. Aku akan mulai menulis lagi, dan buku ku kali ini akan menjadi karya terbaikku. Aku janji...”
“Sshh...” Biru menempelkan telunjuk di bibir istrinya “kamu hanya perlu janji satu hal..”
“Apa?”
“Jangan pernah bohongin aku lagi, yah. Aku benci lihat kamu pura-pura bahagia hanya untuk membahagiakan aku”.

Rain memeluk suaminya erat. Ia tidak menyangka, laki-laki dingin yang melamarnya lima tahun yang lalu, akan menjadi laki-laki yang begitu peka terhadap perasaannya. Dia tahu.. batin Rain.

***
Rumah bergaya tahun 80-an itu kini menjadi milik Biru dan Rain. Selama empat bulan mereka merenovasi dengan tekun, ikut turun mengangkut batu dan menyingkirkan puing, sehingga kamar nya cukup untuk menampung pelancong yang berjalan sendiri.

Mereka membuat konsep backpacker house minimalis, dengan harga murah dan desain khas 80an. Menjanjikan pemandangan laut dari kamar-kamarnya, bisnis penginapan Biru dan Rain mulai dikenal di kalangan backpacker soloist. Memang pemasukannya tidak sebanyak ketika Biru masih di Jakarta, tapi selalu cukup memenuhi kebutuhan mereka berdua. Rain tidak pernah lagi harus menghitung sisa saldo di rekening jika ia ingin membeli sesuatu. Pun keinginan untuk membeli-beli itu sudah musnah entah kemana. Rain menikmati setiap detik yang dia lalui sejak mereka menginjakkan kaki di rumah itu. Tak seharipun berlalu tanpa malam yang disertai senyum. Kini, setiap malam sebelum tidur, Rain tak pernah lupa mengucap syukur pada Tuhannya, dan pada suaminya.

“Terima kasih, Biru suamiku..”
“Terima kasih, juga Rain.. permaisuriku” balas Biru sebelum keduanya terpejam.

Suara tangis bayi memecah kesyahduan pasangan yang tengah menikmati kesyukuran mereka. Tertawa, Rain dan Biru saling bertukar pandang.
“Malam ini giliranmu” ujar Rain menarik selimut sampai ke ujung rambutnya. Biru tertawa, mencium kening istrinya gemas. Ia bangkit meski malas, menuju box bayi putih yang dia rakit sendiri.

“Hai sayang,. Penuh ya pampersnya? Sini ayah ganti dulu yaaa.. ibu kamu pemalas soalnya, maunya bobo melulu.. kamu sama ayah aja yaa jagoan ayah. Uufh bauu..”

Dengan terampil, Biru mengangkat bayinya, meletakkan di meja tempat mengganti pampers, membalut kulitnya dengan bedak halus, sebelum Rain datang memeluknya dari belakang.

“Kamu punya ayah yang hebat, Kal. Awas kalau sampai kamu gak bangga sama dia nanti yah. Pup bau mu aja di endus-endus” Biru terkikik geli mendengar ucapan Rain dari balik punggungnya.

“Uuuwh ada yang mencoba merayu. Padahal ayah kan anti dirayu..”

Rain memeluk Biru makin erat. Biru membalik badan, mencium Rain tepat dan cepat. 

“Ummh..” Rain memberi isyarat. Kala masih asyik melihat orang tuanya, melakukan hal yang entah apa. Usianya baru empat bulan untuk mengerti arti sebuah ciuman, yang dia tahu, celananya kini belum dipasang lagi, dan dia merasa tidak nyaman.

“Ow yeah..” Biru buru-buru memasang celana mungil di kaki Kala “we should put him to sleep asap”.

Rain mengangguk setuju.

***
Tanjung Pandan, 17 Desember 2019
Diambil dari nama anak dua orang sahabat

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …