Skip to main content

Belitung, Day One

Lalu tiba-tiba aku ingin merekam ini semua. Tidak dalam bentuk video, karena aku tahu pasti akan terdistorsi dengan rasa. Ketika kutarik gulungan tebal yang menutupi jendela persegi panjang serupa layar plasma tv modern, menyingkap selarik lanskap yang ternyata menampilkan laut indah nan gagah nun jauh di sana, bertepikan Langit biru, jalanan sempit yang sibuk, bangunan-bangunan rapat, dan kelelawar yang mulai beterbangan. Tapi menyebalkan sekali. Laptopku ini sibuk menampilkan notifikasi, pengingat bahwa memorinya mulai penuh. Memori yang candu, yang tak pernah disentuh tak juga ingin digerus. Ah, peduli setan dengan notifikasi. Biarkan dia terus-menerus mengingatkan, layaknya seorang bodoh yang ingin dianggap genius.

Tunggu dulu. Sejak kapan aku sebegini membenci?
Sudah-sudah.
Jangan kotori pemandangan dan suasana indah ini dengan setitik kotoran yang tak punya arti.

Aku ingin merekam sore ini, dengan caraku sendiri.
Bukan dengan rekaman video karena tentunya memoriku gawai ku sudah penuh dua-duanya. Tapi dengan baris demi baris, yang kala nanti kubaca, akan membuatku tersenyum-senyum sendiri.
Karena jeleknya tulisan ini,
Atau bodohnya pikiran ini.

Karena memang aku sudah berjanji, untuk terus menulis, ada atau tidak ada pembaca. Aku akan terus menulis. Jelek ataupun bagus, aku akan terus menulis. Karena pada suatu nanti pun, sebagus apapun tulisanku ku rasa saat ini, pasti akan terasa jelek dan hambar di kemudian hari. Karena sebagai insan manusia, akupun punya kelemahan; yaitu mendamba kesempurnaan.

Tv plasma berbentuk persegi panjang milikku -sementara- ini kini berkabut. Perlahan turun hujan. Serintik, lalu bergerumun. Membuncah, membasahi pesepeda motor yang kian sibuk meningkatkan laju motor. Jalanan licin, tak usah khawatir. Roda dan mesin kini sudah di design tuk tahan banting. Duhai.. aku  mencintai suasana ini. Sendirian bukan lagi hantu, tetapi anugerah bagiku, karena aku bisa berekspresi dengan jemari tanpa bebunyi yang memekak hati. Lancar kini sembari sesekali membuang pandangan pada Laut yang tak bergeming. Tampak tenang, tapi amboi.. jangan tantang keganasannya.

Langit semakin abu-abu. Hujan turun beriringan, Laut pun tertutup kabut. Apakah aku akan mematikan tv plasma ku? Ho, tentu tidak. Biarkan saja sampai Matahari bersiap menemui bagian Bumi lain. Siapa tahu.. di Langitku kini, tampak Bulan dan Bintang? Benda-benda langit yang tak berhenti kukagumi dan kucari.

Duhai,
Betapa Tuhan kita merancang ini semua, sebagai perumpamaan surga-Nya yang abadi. Enggankah kita kesana? Tuk dapati diri dalam kesempurnaan, dan tiada batas waktu yang niscaya. Semuanya adalah abadi. Bahagia abadi. Manis abadi. Indah abadi. Tidak akan menua, tidak perlu repot-repot membalur wajah dengan lapis demi lapis keberkahan cairan, krim, dan gel.. dan indahnya itu, bisa dimisalkan dari sini.

Di sana, orang-orang beriman duduk dengan wajah berseri-seri, di atas dipan-dipan, melepas pandangan..
Di sini, kita duduk dengan wajah lelah, seharian bergumul dengan perjalanan, debu, kotoran, minyak, lalu duduk di atas kursi, melepas pandangan dari lantai sembilan, hanya untuk melihat Laut dari kejauhan saja.. bahagianya sudah luar biasa. Tapi bahagianya berbatas waktu.. karena pas lagi enak-enak melepas pandangan, bunyi chat masuk. Telpon berdering. Tugas memanggil. Ada tanggung jawab yang harus diisi. Di sana nanti, yang ada hanya wajah tenang, tidak lelah, tidak juga bau keringat, dan tidak ada gangguan minta dibalas email atau minta untuk meminta perpanjangan waktu deadline, etc etc.

Di sana ada sungai-sungai yang mengalir, airnya bisa diminum, sejuk lagi menyegarkan.
Di sini, ada sungai-sungai yang mengalir, kiri kanannya ada sawit, jangankan diminum, ikan pun enggan hidup di situ.

Semua yang indah di sini, akan kita dapat di sana dengan berkali lipat lebih indah.
Enggankah kita menemuinya?

Lalu..
Huffh.. diriku juga masih begitu. Berlumur hujatan, yang kusimpan rapat-rapat. Padahal aku tahu, serapat apapun mulutku terkunci menahan nafsu amarah membalas hujat, Tuhanku mendengar itu dengan jelas. Tapi, bahkan untuk belajar menahan amarah di dalam hati saja, sulitnya bukan main. Sudah berhasil sedikit, ada lagi yang memicu untuk marah. Seperti naik Mahameru di titik terdekat dengan puncak, naik satu langkah, turun tiga langkah. Dalam struggle yang demikian, kita menjadi diam, pun disangka menjadi marah dan sok baik sok hijrah sok sok lainnya.

Aduhai Langitku,
Turunkan hujanmu yang banyak, yang berkah. Yang tidak terlampau banyak, tapi juga tidak terlampau sedikit. Agar Bumi kami di sini berkecukupan, sehingga paham artinya cukup.
Jika kami sudah paham dengan artinya cukup, mungkin ekspansi berlebihan akan berhenti tanpa harus di audit sustainability.

Aduhai Lautku,
Kamar ini bukan milikku. Hanya dipinjamkan selama lima hari, yang rasanya singkat sekali.
Tapi jika aku terka lagi, jangan-jangan kau ini sedang hendak mengujiku dengan ingatan, bahwa dunia ini pun bukan milikku. Dan rasanya singkat sekali.

***

Tanjung Pandan, Senin 16 Desember 2019
Lambat laun aku mengerti,
Bahwa 2019 telah memberi sekumpulan energi, yang baru bisa aku pahami dalam dua puluh tujuh tahun. Akan kurangkum satu persatu nanti. Kini, biar kutulis semua di secarik kertas, yang hotel ini pinjamkan padaku. Dengan pensil kayu bertuliskan BWinn Belitung.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …