Skip to main content

#3 Apa yang kamu cari, Rain? [Fiksi]

"Now, spill!" Jenny berkata dengan nada memerintah. Semua wajah yang sudah hadir dalam konferensi virtual itu terkikik geli, pasalnya mereka baru saja terhubung semua dengan lengkap, setelah beberapa menit saling tunggu.
"Mulai dari cara doi melamar, please" pinta seorang yang lain. Yang diminta malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, setengah malu setengah antusias.
"Jadii..." Dee berkata lamat-lamat "dia berlutut dengan satu kaki... and then.. he said the four magic words..." semua yang hadir di layar itu --termasuk Rain-- ikut menahan napas, memekik pelan, dengan ekspresi masing-masing yang ditahan.

Rutinitas video call ini merupakan agenda wajib bagi Rain dan keempat sahabatnya semenjak mereka lulus kuliah. Kebetulan Dee dan Rain selepas SMA, juga memasuki kampus yang sama di mana mereka bertemu Jenny dan Nadhira. Persahabatan mereka terbilang cukup unik, karena berasal dari fakultas berbeda. Dipertemukan secara tidak sengaja oleh satu penyelenggara perjalanan yang membawa mereka ke Baduy. Di sanalah untuk pertama kali mereka berkenalan, dan akhirnya menghabiskan liburan-liburan kuliah untuk menjelajahi tempat-tempat yang asing dan tidak begitu dikenal oleh wisatawan pada umumnya.

Jenny kini melabuhkan hatinya pada karir, ia ingin menjadi jurnalis handal seperti Leila S Chudori, idolanya. Single dan sangat cuek. Berbeda dengan Nadhira yang begitu berambisi untuk bisa menikahi pemuda soleh, namun sampai hari ini belum juga menemukan tambatan hati. Nadhira berhasil menjadi seorang influencer di instagram, dengan penghasilan yang lumayan tanpa harus membuatnya banyak keluar rumah atau berkantor nine to five. Malam ini, mereka berempat berkumpul dalam satu ruang di layar laptop masing-masing, demi mendengarkan cerita Dee yang baru saja dilamar oleh Rommy.

"Aaah... so sweet.. gak nyangka loh Rommy bisa romantis juga orangnya. Gue pikir jurnalis semua sama" ucapan Jenny disambut tawa.
"Enak aja.. dari dulu Rommy romantis tauk! Dia cuma gak bisa menunjukkan public affection" balas Dee membela tunangannya. Rain hanya tersenyum mendengar semua percakapan mereka.
"Trus trus.. kalian akan di Miangas berapa lama? Berangkat kapan? Gue boleh ikut gak?" Jenny memberondong Dee dengan pertanyaan.
"Umm.. sebulan.. setahun... I don't know.." Dee mengangkat bahu "yang jelas sampai masa tak berbatas dan sampai hati ingin pergi.. baru kita cari pulau lain. Mungkin selanjutnya Pulau Raijua. Dan.. GAK! Kamu gak boleh ikut.. enak aja mau ngintilin orang bulan madu.." Dee mencibir ke arah Jenny. Yang dicibir tergelak.
"Yaa mana tahu kan, jadi ketularan.." Jenny terbahak. Nadhira dan Rain ikut tertawa mendengar istilah Jenny., ketularan.. 
"Di mana itu Raijua, Dee?" Nadhira gantian bertanya. Suaranya lembut seperti biasa, berbanding terbalik dengan Jenny.
"Di Kupang, Naad.." Dee masih belum yakin Nadhira tahu di mana itu Kupang "Nusa Tenggara Timur.. kalau kamu ke Bali, naah.."
"Deket situ?" potong Nadhira polos,
"Ya jauuh Naad.. Hahahaa.." semua tertawa melihat kepolosan Nadhira. Bisa-bisanya si influencer kecantikan ini tidak tahu di mana letak Bali dan NTT.
"Yaa kan deket kalau di peta" Nadhira tidak mau kalah "lagipula kalian belum pernah ajak aku ke sana.. huh.." Nadhira merajuk.
"Yaa nanti kita ke sana yaa, kalau Dee sudah pindah ke sana" kali ini giliran Rain yang terkikik geli.
"Eh ngomong-ngomong, gimana bisnis penginapanmu, Rain?" Jenny mengalihkan pembicaraan,
"Yaa gini-gini aja.. biasa" ujar Rain sambil mengulum senyum,
"Adaa.... Bule yang bisa gue kecengin gak?" Jenny bertanya sambil tergelak. Yang lain ikut terbahak.
"Ada ada.. hahaha.. banyak! Makanya lo kesini, Jen!" Rain terpingkal-pingkal mendengar motivasi sahabatnya.

Pembicaraan selanjutnya bergulir tentang kabar masing-masing. Tentang Nadhira yang baru saja memulai proses ta'aruf dengan seorang pemuda asal Jakarta, tentang Rain dan bisnis penginapannya yang kian ramai, dan tentang Jenny yang kian menggebu ingin punya pacar bule. Satu setengah jam kemudian barulah mereka membicarakan hal-hal penting terkait rencana pernikahan Dee, seperti warna gaun bride's maid yang akan mereka pakai, apakah perlu membuatkan bridal shower untuk Dee, sampai hal-hal semacam desain kartu undangan dan daftar siapa saja kawan mereka yang perlu diundang.

"Bridal shower gak usah.." ujar Jenny sambil mencoret salah satu list dari buku catatannya, ketiga sahabatnya tidak bisa melihat apa yang sudah dia catat "karena Dee jarang mandi" celetuknya lagi, disambut lemparan popcorn dari Dee yang tentu saja hanya mengenai layar laptopnya sendiri.
"Eh pemandu kita waktu ke Baduy di undang dong, masih pada punya nomornya gak? Waktu Rain menikah, dia sempat nanya di facebook, kan?" seru Nadhira.
"Wah gak ada yang punya nomornya kayaknya.. tapi kamu kan berteman di Facebook, kamu saja yang undang, ya Nad.." pinta Dee. Nadhira mengiyakan.

Pembicaraan berlangsung seru sampai nyaris dua jam. Rain mengikut, sesekali menimpali, dan sesekali absen dari obrolan karena harus menidurkan Kala yang merengek minta ditemani ibunya.

"Tapi.. gue mohon maaaaf banget ini ya.." ujar Jenny sebelum video call diakhiri "pasalnya di tanggal itu gue sudah ada jadwal liputan.. dan kalian kan tahu gue paling susah dapat cuti. Hanya karena gue satu-satunya reporter single di divisi. Yang lain sih enak, asal bawa alasan anak, istri atau suami, pasti langsung di approve cutinya. Kalau gue, kalau bukan karena orang tua, pasti ditanyanya macem-macem. Kayaknya orang HRD gak pernah punya sahabat ya., gak tahu arti pentingnya sahabat ya.." Jenny jadi curhat panjang lebar. Yang lain ikut mematung..

"Jen,. gak mungkin lo gak dateng." Rain yang kali ini angkat suara "pokoknya harus dateng, dan kalau perlu kita bertiga yang akan ngomong ke HRD supaya lo dapat cuti. Cuti lo kan masih banyak, dan lagipula itu hak. Mau itu dipakai untuk keperluan keluarga kek, agama, kek, ya tetap itu hak.."

Dee masih terdiam. Rain melanjutkan "pokoknya, Jenny harus ada" ujarnya memberi penekanan pada kata 'harus'. Jenny hanya bisa nyengir lebar. Dalam hati berjanji untuk membombardir meja HRD dengan ajuan surat cuti mulai dari sekarang.

"Baiklah kalau begitu, Bu Rain. Saya akan mencoba semaksimal mungkin, and I'll keep you in the loop. Kalau-kalau saya sudah kehabisan amunisi, tolong Ibu Rain turun tangan ya.. supaya saya bisa terbang ke Bali" kelakarnya yang langsung disambut tawa oleh yang lain.

Keempat sahabat itu kemudian berpamitan, satu persatu mematikan video call dari layar masing-masing, dan melanjutkan kehidupan masing-masing. Terpaut jarak, tapi tetap bisa mendiskusikan hal-hal detil nan printil melalui gawai-gawai canggih.

Rain masuk ke kamar, melihat Biru dan Kala sudah tertidur pulas di ranjang masing-masing. Kala di ranjang kecilnya berbentuk tenda eskimo, yang dipalang oleh pagar besi. Rain menutupi tubuh Biru dengan selimut. Menatap wajah damai suaminya yang tertidur pulas, sambil sedikit banyak berkontemplasi tentang apa yang sudah dia korbankan untuk dirinya dan Kala. Dalam hening yang sekejap itu, Rain bermohon pada Tuhan, untuk senantiasa diberi kekuatan agar bisa selalu membahagiakan Biru.

***

Penginapan Rain dan Biru sedang ramai-ramainya. Musim liburan sudah mulai tiba, dan itulah saat-saat di mana para turis berdatangan. Rain membuka peluang usaha bagi tetangga sekitarnya, ada yang dia minta untuk membuatkan sarapan, sebagaimana pelayanan dalam penginapan-penginapan pada umumnya. Walau hanya dengan lauk sederhana, tapi para turis itu senang melahapnya, karena dinilai sebagai cita rasa asli setempat dan tidak dibuat-buat. Ada juga tetangga yang menangani laundry, mencuci dan menyetrika, dan ada juga yang menangani penyewaan alat selancar dan alat snorkel. Rain sendiri sesekali membuat kue-kue manis yang terbuat dari kelapa dan gula merah. Kue lokal yang terinspirasi dari resep kue Bingke' khas Sumatera, dia jual dengan nama Kala's Cake. Senada dengan nama penginapan mereka; Kala's Backpacker House.

Sehari-hari dia disibukkan dengan membeli bahan kue, meracik takarannya, dan membiarkan beberapa asisten yang mengerjakan hingga matang dan memajangnya di depan penginapan. Peminatnya bukan hanya tamu penginapan, tetapi juga para turis yang berseliweran menuju ke pantai.

Rain sangat mencintai suasana ini, namun lambat laun hatinya mulai merasa bosan. Pemandangan laut dan pasir dan ombak sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Dia takut kalau sampai merasa bosan, dan membuat suaminya kecewa. Tapi dia tidak bisa pungkiri bahwa lambat laun, laut pun tidak terasa istimewa.

Pembicaraan dengan Dee dan dua orang sahabatnya tadi malam itu, membuatnya mengenang pada tiga tahun lalu. Saat Rain begitu mendamba laut dan lanskapnya. Waktu itu yang ada di kepala Rain hanyalah angan-angan, betapa indahnya jika dia pindah dari pemandangan ibukota yang selalu ruwet dan macet, ke tempat yang penuh angin semilir. Membuka usaha penginapan, bertemu orang secara bergantian, bertukar cerita dan pikiran. Semua begitu indah dan mengasyikkan di pikiran Rain. Dia terlalu sibuk berkhayal sampai lupa menyiapkan dirinya,. lupa bahwa bukan hanya ucapan yang bisa menjadi doa, pikiran pun sama. Lupa bahwa jika sewaktu-waktu yang dikhayalkan itu terwujud nyata, dia tetap harus menyiapkan diri dengan segala kemungkinan. Walau tidak semua hal bisa diantisipasi.

Tahun pertama berjalan dengan begitu indah dan tenang. Tahun kedua, seolah seperti puncak kebahagiaan. Memasuki tahun ketiga, rasa-rasa tidak nyaman mulai berdatangan. Mulai dari tetangga yang selalu ingin tahu, tetamu yang selalu komplain, pihak ketiga yang diajak kerjasama yang mulai seenaknya bekerja dan tidak mau tanggung jawab, dan masalah-masalah profesionalisme lain yang Rain harus maklumi, karena lagi-lagi dia sedang berpartner bukan dengan lulusan S2-S3 Harvard atau semacamnya.

Antusiasme Dee yang meluap-luap itu persis seperti yang dia rasakan tiga tahun yang lalu. Dia ingin mendapatkannya kembali, tapi kini Rain sadar, mengejar mimpi tidak harus selalu dengan hidup berpindah. Kalau seperti itu terus, apa bedanya dia dengan pengecut yang selalu lari menghindar setiap kali manisnya terserap habis. Bosan sedikit, kabur.. tidak. Dia tidak mau menyusahkan Biru seperti itu. Pun tidak ingin mengecewakan Biru yang sudah mengorbankan karirnya dan membangun karir baru melalui penginapan ini.

Sebenarnya, apa yang aku cari? 
Sambil merenungi di hadapan Sang Laut, Rain membatin. Karena jika itu bahagia, maka sudah aku dapat sejak delapan tahun yang lalu saat seorang laki-laki yang begitu kucintai, menyisipkan cincin di saku jaketku. 

Rain melepas pandang ke arah laut, berharap mendapat jawaban. Hanya debur ombak yang mengisi hening di antara mereka. Angin semilirpun diam tak bergeming. Rain bukan sedang tidak bahagia. Dia hanya sedang mencari tahu, apa sebenarnya yang dia inginkan. Kenapa hidup bertetangga dengan Laut pun masih saja membuatnya merasa ada yang kurang?

Kala..
Kala sudah hadir di antara mereka berdua. Seorang anak laki-laki yang begitu mereka damba. Utuh, sehat, dan cerdas. Rasa ingin tahunya mengalahkan anak-anak seusianya. Dia begitu antusias mengenal bermacam-macam benda laut, mengikuti nelayan yang mengambil jaring yang tentu saja didampingi oleh Biru, dan melafalkan nama-nama benda dengan cepat dalam dua bahasa.

Sepintas seperti tidak ada yang kurang dari hidup Rain.
Tapi ada sesuatu di dalam hatinya, yang membuat dia merasa ingin lebih.. bahkan dirinya sendiripun belum tahu apa itu yang dia inginkan kini.

***

Bogor, 23 Desember 2019
After a brief of excitement of me going to Raijua Island, and is now preparing everything that I need to go backpacking. AGAIN. it's been five years since the last time I use my backpack. It will be very exciting because I will do the things that I used to do; no Garuda, no taxi, no short-cut using airplane trip - it will be long night train, a flight, and a long boat trip. I'll take a longer route, for a clearer mind. From here to Surabaya, and from Surabaya to Kupang by flight, then onto a boat for another 13 hours, before I arrived in the main island. I still should take another boat for this small island. I wish... Insya Allah. May Allah permit me into this trip. And may this trip brings me light toward Him.  

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …