Skip to main content

When life gives you lemon

Adalah dosa masa lalu, yang ketika kita ditimpa kesulitan di masa kini, sebagai satu yang patut diingat.
***
Azan magrib baru akan berkumandang sepuluh menit lagi. Masih banyak waktu untuk membasuh wajah, telapak tangan, dan semua yang disyaratkan dalam pedoman bersuci. Lantainya dingin seperti biasa, yang aku injak dengan kaki telanjang. Entah kenapa, dingin itu bertransformasi menjadi sejuk yang meresap sampai hati.

Hatiku bergetar kala memasuki ruangan teduh dengan langit-langit yang tinggi. Segera kutuju satu tempat favoritku, berdekatan dengan pagar besi yang membentuk segi enam. Heksagonal.. sarang lebah.. An-Naml.. ah tanda-tanda kebesaran Tuhan itu dulu akrab sekali di telingaku.

Perempuan di sebelahku tengah bersujud. Azan magrib belum juga berkumandang, tapi dia sudah bersujud. Hmmm.. aku berusaha untuk tidak melirik.. tapi penasaran juga. Solat apa yang dia kerjakan saat matahari sedang berada di tanduk setan ini?

Lima menit.. dia belum juga berdiri. Sampai akhirnya sang muazin mulai menepuk-nepuk mic, lantunan rekaman murottal dimatikan, dan azan hendak dikumandangkan. Perempuan itu duduk, menghapus air matanya, lalu memberesi letak tas. Oh.. rupanya dia hanya sedang bersujud. Mungkin sedang ada masalah besar yang menimpanya hingga dia menangis begitu lama dalam sujudnya. Hmm.. boleh juga. Bukankah sujud adalah posisi terdekat antara hamba dengan Tuhannya?
***
Rumah gelap dan kosong seperti biasa saat aku tiba. Lewat pukul sembilan, dan bulan sedang indah-indahnya. Walau malam ini bulannya agak blur.. gak HD. Tak apa.. yang penting ada.

Kunyalakan semua lampu, lalu mulai menjalani rutinitas pulang kantor. Meletakkan tas sembarangan. Menaruh belanjaan. Nyemil sebentar, lalu bersih-bersih. Wajahku sudah mulai berjerawat, tanda sudah saatnya ganti sprei. Jadilah kuberesi seisi kamar, dengan suara-suara di kepala yang tak kunjung berhenti.

Apa kubilang..
Kamu tidak belajar dari pengalaman
Mereka membencimu
Tidak ada yang mencintaimu

Suara jahat! Batinku geram.
Kubungkam mereka dengan istighfar, sambil mengingat-ingat kebesaran Tuhan. Yaa bulan tadi itulah..

Lalu perlahan, gambar-gambar itu mulai bermunculan.
Kala aku masih menjadi anak yang sangat egois, sangat self-centered, dan selalu ingin menang sendiri.

Gambar-gambar itu justru yang membuatku berdamai dengan diri sendiri. Bahwa apa yang terjadi di masa kini, adalah ganjaran dari masa yang sudah lalu. Aku bersyukur ganjarannya berupa hal yang sanggup aku tanggung sendiri. Dan yang lebih bikin bersyukurnya lagi, adalah karena dibalasnya selagi masih di dunia. Coba bayangkan kalau ada orang sakit hati sama kita, trus Allah tidak beri kita pelajaran buat bertaubat sampai kita mati, dan tahu-tahu dihukum di akhirat. Dengar-dengar, siksa kubur itu bisa berlangsung selama ratusan tahun.. kayak lidah yang dipotong trus disambung lagi, dipotong lagi, disambung lagi, begitu terus sampai Kiamat.

Naudzubillahimindzalik.

Seperti mbak tadi yang bisa bersujud dengan enak.. aku tambah bersyukur ketika sadar bahwa rentetan peristiwa yang terjadi belakangan ini justru mampu membuatku paham nikmatnya sujud. Bukan malah menjauhkanku dari sajadah. Karena kan banyak ya orang yang seperti itu.. giliran ada masalah dia malah lari dari Tuhannya.

Jadi ternyata, dibalik serangkaian ujian perasaan, ada lebih banyak lagi rentetan hal yang patut disyukuri. Karena hidayah harganya mahal. Mahal sekali. Sebagian orang bahkan tidak sanggup membeli walau sudah sangat berlimpah harta dan dikelilingi keluarga yang Islami. Aku jadi tahu tentang rasa, tentang etika, paham hal-hal yang tidak terkatakan.. dan bisa menikmati hening dalam diam.

Change is the only constant in life. Mau tidak mau, suka tidak suka, kalau merindu hidup yang jauh lebih baik di kehidupan nanti, orang harus berani berubah.

Walau itu artinya dijauhi dan dimusuhi kawan yang berbalik jadi lawan.
Toh kita tidak bisa membuat semua orang suka sama kita., yang penting orang-orang yang kita sayang, tetap sayang sama kita. Itu saja sudah cukup. Karena one sided expectation will kill you.
***

“Kamu berubah”
“Ya aku tahu”
“Aku gak suka”
“Salah gue? Salah temen-temen gue?”
-Cuplikan dialog Cinta dan Rangga, dengan sedikit modifikasi-

***
Bogor, 14 November 2019
Kupikir benar bahwa lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Nyatanya, itu tergantung dari kemampuan si penerima beban. Tahun lalu aku sakit hati, aku survive walaupun nangis sampai jam 4 pagi. Tahun ini seorang rekan sakit gigi, dia gak bisa makan makaroni goreng yang penuh micin. Akupun tak bisa membayangkan kalau posisinya dibalik. Mungkin aku lebih memilih tuk menangis sampai jam empat pagi.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …