Skip to main content

Nyambu [Fiksi]

Just when you think your life problem has solved, the other storm comes creepin in..

***

Perempuan paruh baya itu memasuki kafe. Langkahnya yang gontai dan matanya yang sayu cukup mencerminkan apa yang tengah dia rasakan. Dengan sigap kubantu dia mencari tempat duduk yang nyaman, di sudut dekat jendela, berjarak dua kursi dari pengunjung lain yang tidak terlalu banyak bicara.

Aku menyerahkan buku menu kepadanya, yang dia terima tanpa menatap mataku.
“Americano dan cinnamon roll, please” ujarnya pelan. Aku mencatat pesanannya, tersenyum sambil berucap mohon ditunggu ya, Bu. Dia hanya diam. Melipat tangan di atas meja, menengok ke sisi jendela.

Dia terlihat seperti seorang perempuan berada, dandanannya tidak menunjukkan dia sebagai kaum sosialita, tapi cukup merepresentasikan perempuan bekerja dengan jabatan rupawan. Kutaksir penghasilannya bisa mencapai dua puluh juta dalam sebulan. Meski ia datang dengan berjalan kaki, tapi aku mengenali sepatu yang dia pakai. Buatan desainer Itali yang tidak mungkin jika harganya dibawah lima jutaan. Tas pun sama, aku tahu merk itu. Aku sering lihat di video-video youtube artis yang senang memamerkan isi rumah.

Americano cinnamon roll!” Teriak barista dari dalam bilik. Buru-buru kuambil pesanan perempuan paruh baya itu, dengan hati-hati mengantar dan meletakkan di depannya. Dia masih diam tak bergeming, memandangi rintik gerimis yang beriringan dengan langit mendung. Morning rain, aku selalu suka suasana hujan di pagi hari. Bukan.. bukan suka. Aku cinta! Tapi.. perempuan ini seperti tidak bisa menikmati kesyahduannya.. matanya menatap kosong butik di seberang kafe.

***
“Nyambu, pacarmu mana? Tumben tidak datang?” Tina, rekan sesama waitress mencoba menggoda. Padahal dia tahu aku sudah tidak punya pacar sejak tiga tahun terakhir.

“Suamimu mana? Kok gak dateng” balasku sambil melempar serbet ke arahnya. Tina tergelak.
“Eh lihat deh” aku menarik lengan Tina “ibu itu.. dari tadi diam kayak patung begitu loh. Sudah dua jam! Cinnamon roll nya saja gak dimakan. Kira-kira dia kenapa ya?” Jiwa bergosip ku mulai berontak.

Tina ikut mengamati perempuan itu dari kejauhan, sambil mengelus dagu dan mengernyit dalam dia berkata.. “mungkin dia mau numpang wifi” ujarnya jenaka. Aku mendorong bahunya spontan. Kami tertawa. Tina memang tidak pernah bisa diajak serius.
“Tapi aku penasaran, perempuan itu sudah berumur tapi masih cantik. Tubuhnya juga langsing, tidak seperti ibu-ibu kebanyakan. Trus.. eh eh.. lihat deh jam tangannya. Itu kan mahal bingits. Dia pasti kaya, dan punya karir yang sudah mapan. Orang sesukses itu.. masih juga punya masalah ya” bisikku pada Tina yang sekarang sibuk merapikan uang receh.

“Yaa pastilah! Semua orang mau kaya mau miskin pasti punya masalah. Apalagi.. jomblo!” Tina tergelak lagi. Aku hanya memanyunkan bibir ke arahnya.
“Biarin jomblo, yang penting banyak yang naksir!”
“Diiih ngapain banyak yang naksir kalau gak ada yang bisa diajak memenuhi takdir!”

Aku tergelak. Biasanya bercandaan seperti ini sensitif buatku. Aku tidak suka jika statusku dibahas dan dijadikan bahan bercanda. Kecuali dengan Tina. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus berdamai dengan celotehannya yang nyelekit.

Memasuki jam makan siang, perempuan paruh baya tadi mulai mengangkat tangan. Kuhampiri dengan senyum selebar mungkin, mencoba untuk tidak terpengaruh murung yang sedang merundungnya. Perkiraanku meleset, rupanya dia meminta menu untuk memesan makan siang. Lama juga dia duduk sendiri tanpa berbicara dengan siapa-siapa. Aku mulai iba.

***
“Kalau ada yang bisa saya bantu, panggil saya saja ya, Bu” ujarku berusaha ramah sambil meletakkan semangkuk soto di hadapannya. Kali ini ibu itu menoleh, melirik tag namaku dan menatapku dalam.
“Nyambu?” 
“Iya, saya, Bu”
“Nama yang unik. Dari mana asalmu?”
“Sumatera, Bu”
“Sudah menikah?”
“Belum, Bu”
Ibu itu terdiam sebelum akhirnya tersenyum lemah dan memberi isyarat padaku untuk berlalu. Aku pun pergi sambil menunduk sopan, tak lupa mengangkat gelas dan piring kosong sisa kopi dan rotinya pagi tadi.

Pertanyaan yang aneh, pikirku.

***
“Permisi, Bu. Kami sudah hendak ganti shift, bisa tolong dibayar dulu ini? Karena.. he he.. sistem nya masih manual” aku mencoba menjelaskan dengan takut-takut. Si Ibu itu tersenyum, mengeluarkan beberapa lembar kertas seratus ribuan dan menyodorkan ke arahku.
“Simpan kembaliannya”
Aku terbelalak kaget. Banyak sekali ini, nyaris dua kali lipat dari harga makanan dan minuman yang dia beli “setelah ini kamu mau ke mana, Nyambu?”
“Eh,. Ehm.. pulang, Bu.”
“Rumahmu di mana?”
“Saya nge kost di sekitar sini. Dekat, hanya lima belas menit jalan kaki”
“Bisa tolong temani saya sebentar?”
Ibu itu meminta dengan nada datar, yang langsung aku iyakan tanpa pikir panjang. Kuselesaikan urusan bayar membayar, melepas seragam, dan bergabung dengan ibu tadi.

Dia lalu bercerita..
Tentang keluarganya yang serba berkecukupan. Tentang suaminya yang senantiasa memperkaya diri dengan ilmu agama. Tentang dirinya yang belum bisa menyeimbangkan langkah sang suami, sehingga komunikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Adalah anak semata wayangnya. Gadis kebanggaan yang sejak kecil ia rawat dengan penuh kasih sayang. Dikenal taat, dan selalu menurut pada orang tua. Suaminya adalah seorang yang cukup terkenal dengan kealimannya, dan itu cukup untuk membuat sang putri juga dikenal berasal dari keluarga yang taat beribadah. Meskipun Ibu ini tidak berjilbab dan berpenampilan layaknya seorang istri dari muslim yang taat, namun dari cara berbicara dan mengutarakan unek-unek, Ibu ini sangat tertata sekali. Kentara dari caranya memilah diksi.

Singkat cerita, dengan segala reputasi yang telah mereka bangun, sang gadis semata wayang ini justru melakukan hal di luar dugaan. Dia melakukan hubungan seksual di luar nikah, hamil, dan melahirkan tanpa sepengetahuan ibunya. Sang Ibu baru tahu belakangan, setelah cucunya memasuki umur satu tahun.

Kaget bukan kepalang, kecewa, marah, sedih, semua bercampur jadi satu. Langitnya runtuh. Dan satu-satunya yang melintas di benaknya ialah kesibukan yang menelan hampir semua waktunya sehingga tidak ada waktu berkomunikasi dengan keluarganya. Pun suaminya teramat terpukul hingga menderita sakit fisik dan kini diopname di rumah sakit. Kabar memalukan ini justru datang dari sahabat sang putri, yang tidak bermaksud bercerita.

“Dia keceplosan.. dan dari situ barulah kami tahu tentang cucu kami” Ibu itu menahan tangis. Aku sudah menitikkan air mataku dan kuseka berkali-kali.
“Yang kuat ya, Bu” hanya itu kalimat yang bisa kuucapkan.

Ibu itu bercerita hingga pukul lima sore, dua jam setelah pergantian shift. Sama sekali tidak meneteskan air mata, hanya wajahnya memerah dan terlihat sangat lelah. Selama dua jam aku hanya duduk mendengarkan, sambil sesekali menawarkan coklat hangat atau air mineral.

***

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur, menatap langit-langit yang melambungkan ingatanku jauh ke belakang. Ke tiga tahun lalu saat lantai di atas kamarku, masih dihuni oleh seseorang yang sangat berarti untukku.

Kami menjalin kasih hanya sebentar, sebelum tiba-tiba dia berubah menjadi dingin, lalu memutuskan hubungan begitu saja. Alasannya sederhana, aku sudah tidak mencintaimu, 

Dia berkata dengan gamblang. Aku hanya ber ‘oh’ pelan. Lalu mundur teratur.

Sampai suatu ketika, saat aku mulai tidak tahan untuk tidak bertanya, apa yang menyebabkan dia berubah.. aku putuskan untuk menghampirinya. Kubuatkan segelas coklat hangat kesukaannya, dengan cangkir yang juga favoritnya. Dari tangga saja sudah tercium aroma tubuhnya, semakin dekat semakin menyengat. Aku suka bau ini.

Kunci kamar menjuntai dari luar. Aku tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. Dasar bodoh, pikirku. Dia memang sering lupa mengunci kamarnya dan membiarkan tergantung di luar. Kubuka gagang pintu, ternyata terkunci. Hatiku seperti dihantam palu besi. Kuputar kunci sebanyak dua kali, perlahan menengok ke dalam kamar.

Sepi.
Kosong.
Dia pergi.

Coklat hangat yang sedari tadi aku genggam menebarkan aroma berbeda. Aroma coklat bercampur dengan aroma tubuhnya. Berarti belum lama dia berada di sini. Dia pergi, dan tidak pamit. Benar-benar tidak merasa perlu untuk menutup buku, menutup cerita yang pernah dia bagi denganku.

Aku menahan tangis, sembari perlahan meniti anak tangga satu persatu.
Bertekad tuk menjadikan ini sebagai patah hati ku yang terakhir.
Berpikir bahwa setelah ini aku ingin berhenti bermain-main dan mulai serius menuju pernikahan. Agar nanti jika ada yang melamarku, akan ku iyakan karena dengan begitu masalahku selesai sudah. Hidupku sempurna.

Tiga tahun kemudian,
Sebuah pertemuan tanpa di sengaja di kafe tempatku bekerja, 
Mengubah pikiran itu semua.

Tidak..
Masalah akan tetap ada. Nyambu hanya akan berevolusi dari satu masalah ke masalah lain, yang membesar seiring waktu.
Bukan pernikahan yang akan menyelesaikan masalah. Bukan.

Tapi apa?
Apa yang harus kupegang?

‘Tok tok’
Suara ketukan menyadarkanku dari lamunan panjang, menatap langit-langit yang kosong. Pukul delapan malam, siapa yang bertamu malam-malam begini?
Dengan langkah berat kubuka pintu kamar kost yang tidak jauh dari ranjang tempat tidurku.
Aku terbelakak melihat sosok dibalik pintu.
Penghuni di lantai atas kamarku. Datang dengan setelan lengkap, kemeja lengan panjang digulung sampai siku, kerah yang sudah agak berantakan, dan sepatu pantofel mengkilat seperti dipoles setiap hari.

Dia menyerahkan buket bunga Daisy ke arah ku yang masih melongo, berlutut tanpa basa basi, membuka kotak kecil berisi cincin berlian. Tiga tahun tanpa kabar, lalu tiba-tiba.

“Nyambu, mau ya jadi istriku?”

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…

13 Days of Sweetness

Jadi laki-laki sebaiknya jangan suka menyakiti perempuan. Perempuan sudah mengalami sakit rutin, tanpa perlu kalian sakiti. Setiap bulan, menstruasi datang bagai siksaan. Ada yang sakit kepala, sakit perut, ada yang sampai muntah-muntah, bahkan ada yang sampai pingsan. Itu terjadi setidaknya satu minggu sebelum datang bulan. Belum lagi emotional pain yang melanda; perasaan sedih tiba-tiba tanpa ada alasan, mudah tersinggung, mudah merasa tersingkirkan, merasa tidak dipedulikan, kesepian tanpa alasan.. dan hal-hal yang sulit dijelaskan lain, yang mungkin menurut kalian sepele, tapi tidak bagi kami. Biasanya itu terjadi satu minggu atau tiga hari sebelum datang bulan.

Pada saat harinya tiba, ketika gumpalan darah keluar dari vagina, pada saat itulah kami tahu bahwa emosi cengeng yang kami rasakan kemarin adalah karena ini, sama sekali bukan karena kami lemah, tapi karena perubahan hormon semata. Rasa lega akan datang untuk sementara waktu, membuat kami bisa sedikit bernapas nikmat. Tapi…