Skip to main content

Debat fiqih dan aqidah di sosmed? hmm.. tunggu dulu

Aku ingin ajak kamu membayangkan..
Tentang perasaan seseorang yang mencintai seseorang. Sebutlah anggota keluarga, sedarah, dan teramat sangat mendukung segala seluk beluk perjuanganmu.
Tapi..
Orang itu menolak ajakanmu. Kamu tahu jalanmu paling benar, dan hanya jika mengikuti ajakanmulah seseorang akan selamat. Tapi dia tidak mau mengikutimu. Sebabnya rupa-rupa. Ada karena kedudukan politik. Ada karena hati yang tidak begitu yakin. Atau karena khawatir dengan pandangan pengikutnya.
Lalu orang tersebut meninggal. Yang berarti habislah sudah waktumu untuk menyelamatkannya. Kamu tahu betul orang itu sama sekali tidak bisa kau tolong lagi, tidak peduli seberapa memohonnya kamu pada Sang Kuasa.

Karena itu terjadi, pada Rasul kita, Nabi Muhammad SAW. Yang menghabiskan sisa hidupnya menyelamatkan sebanyak-banyaknya penduduk negeri dan penduduk seisi dunia. Bergenerasi kemudian ajarannya dipeluk dan diamalkan. Hanya agar semua orang bisa melihat cahaya kebaikan, dan terselamatkan dari api neraka.

Tapi pamannya.. paman yang selalu mendukung perjuangannya. Yang selalu mengirimkan bantuan demi bantuan jika beliau membutuhkan.. menolak mengikuti ajarannya, dan meninggal dalam keadaan tak tertolong lagi.

Hancur?
Tentu. Bisa dibayangkan betapa hancur hati Rasulullah begitu mengetahui the closest one to a father for him, tidak dapat ia temui lagi di surga nanti. Padahal di sanalah tempat yang kekal.

Sebagai pelajaran bagi seluruh umat di muka bumi hingga hari akhir nanti, bahwa manusia, bahkan yang paling mulia sekalipun, tidak bisa sedikitpun memberi hidayah pada manusia lain, kecuali jika Allah berkehendak. Dan Allah memberi petunjuk bagi mereka yang Dia kehendaki, dan mengunci hati mereka yang juga Dia pilih. Tidak ada yang bisa kita perbuat, selain mendoakan, dan mengikhlaskan.

***
Anak perempuan yang dibesarkan di keluarga agamis, sejak kecil diajari mengaji, dipakaikan jilbab, diajari solat lima waktu, bisa kemudian mendadak berubah haluan dan melanggar bukan satu, dua, atau tiga perintah saja melainkan juga berpindah agama.

Kita tidak pernah tahu isi petualangan pikiran seseorang. Juga tidak pernah bisa merubah pikiran seseorang, kecuali Allah mengijinkan.

Paman Rasulullah adalah contoh paling nyata, bahwa betapapun kita menginginkan seseorang itu menjadi baik, merengkuh Islam dengan kukuh, kita tetap tidak berdaya.
Dia dan pikirannya, adalah kuasa Allah. Jika dia bersikeras dengan pendapatnya tentang fiqih, tentang aqidah, yang paling jauh yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan apa yang menurut kita benar. Tentu dengan dalil dan referensi yang bisa dipertanggung jawabkan. Makanya dalam Islam ada tuntunan dalam memahami dan mempraktikkan Al-Quran. Walaupun tuntunan kita hanya dua: Al Quran dan Hadits, tapi itu seperti dua tujuan besar yang luas sekali. Butuh jalur agar bisa kita titi untuk mencapainya. Di situlah makanya ada mazhab, ada imam-imam besar yang diakui. Tidak bisa dengan pendapat sendiri, apalagi menafsirkan sendiri. Semua ada tuntunannya.

Jangan mau kalau ada yang ajak berdebat di media sosial tentang aqidah, karena percuma. Mereka yang membuka obrolan dengan satu pendapat, tidak akan bersedia meluruhkan pendapatnya hanya dengan satu dua argumen yang kamu ketik dengan hati-hati. Justru yang ada ujung-ujungnya menyulut emosi. Memang sih paling parah kalau dibiarkan kitanya jadi ignorant, makanya itu perlu sekali untuk menguatkan hati. Minimal.. kita sudah menyampaikan, apa yang menurut kita benar berdasarkan referensi dan alur berpikir yang sesuai kaidah. Itu saja. Selebihnya, tanggung jawab kita lepas, dan tinggal bagaimana Allah berkehendak.

Sebagai saudara seiman, tentu kita ingin semua orang yang ada di sekeliling kita ini mengikuti kebenaran yang kita yakini. Tapi kudu hati-hati, salah yakin malah bisa-bisa kitanya yang jadi sombong. Merasa benar sendiri, merasa lebih tahu, dan ujung-ujungnya jatuh ke kubangan dosa besar. Ufh..life is indeed that tricky. Ingin taat tapi kalau terlalu taat juga bablas, mau biasa-biasa aja tapi membiarkan kemungkaran juga.. celaka.

Jadi gimana?
Sampaikan saja. Selebihnya biar Allah yang atur.
Kalau sudah disampaikan, dan jawabannya seperti “iya gw sudah baca di sini dan di sini”, maka perhatikan sumbernya. Kalau sumber yang dia pakai ternyata berbeda, dan kita tahu itu sumber yang menyimpang, maka yasudah.. jangan diteruskan. Sisanya, doakan dia dalam setiap sujudmu. Doakan semua orang dalam setiap akhir solatmu. Tenangkan hati, pegang kuat janji-janji Allah tentang orang yang sabar.

Karena dalam urusan agama, kita harus kuat dalam berpendapat. Selama kita yakin ada di jalan yang benar, harus pegang itu dengan teguh. Pegangan kita Al Quran dan Hadits titik. Agar ketika kita mendengar pendapat apapun yang berbeda, selama arahnya tetap berdalil ke dua itu, kita tidak menjadi pribadi yang mudah mendebat dan merasa benar sendiri.

Urusan praktik personal, boleh kita meyakini hanya satu mazhab. Tapi urusan bersosial, kita yakini keempat-empatnya. Supaya kalau ada orang bilang cadar itu wajib dan cadar itu sunnah, kita tetap senyum membenarkan keduanya tanpa merasa perlu menyalahkan salah satu. Baru boleh mendebat ketika ada yang bilang cadar itu budaya yahudi, dan itupun cukup dengan menyampaikan referensi yang paling kuat seperti dalam bentuk video ceramah (misal). Kalau setelah itu kita dibantah atau didebat, biarkan saja. Jangan juga terikut membenarkan yang didebat, tapi biarkan saja. Biarkan dan doakan. Karena yang kita yakini adalah cadar sebagai bagian dari ibadah, bukan penyimpangan agama. Titik.

***
Ilmu Allah itu luas, bahkan jika seluruh lautan di muka bumi ini dijadikan tinta untuk menulis ilmu-Nya, sampai kering pun tidak akan selesai, bahkan jika di refill.

Perkaya diri sendiri dengan ilmu-ilmu yang benar, yang jelas dasar nya, jelas metode berpikirnya, agar kelak kita membesarkan generasi yang kuat dan tangguh pikirannya, serta jelas alur berpikirnya.

Insya Allah, Islam bangkit dari perempuan-perempuan dengan semangat macam ini.

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

13 Days of Sweetness

Jadi laki-laki sebaiknya jangan suka menyakiti perempuan. Perempuan sudah mengalami sakit rutin, tanpa perlu kalian sakiti. Setiap bulan, menstruasi datang bagai siksaan. Ada yang sakit kepala, sakit perut, ada yang sampai muntah-muntah, bahkan ada yang sampai pingsan. Itu terjadi setidaknya satu minggu sebelum datang bulan. Belum lagi emotional pain yang melanda; perasaan sedih tiba-tiba tanpa ada alasan, mudah tersinggung, mudah merasa tersingkirkan, merasa tidak dipedulikan, kesepian tanpa alasan.. dan hal-hal yang sulit dijelaskan lain, yang mungkin menurut kalian sepele, tapi tidak bagi kami. Biasanya itu terjadi satu minggu atau tiga hari sebelum datang bulan.

Pada saat harinya tiba, ketika gumpalan darah keluar dari vagina, pada saat itulah kami tahu bahwa emosi cengeng yang kami rasakan kemarin adalah karena ini, sama sekali bukan karena kami lemah, tapi karena perubahan hormon semata. Rasa lega akan datang untuk sementara waktu, membuat kami bisa sedikit bernapas nikmat. Tapi…

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…