Skip to main content

Dari pelataran parkir, ada potret dunia

Dua orang remaja putri berseragam abu-abu berpisah di parkiran. Berjalan beriringan, lalu mulai saling melambaikan tangan saat bergerak ke arah yang terpisah. Yang satu berjalan menuju mobil hitam metalik bertuliskan Tucson, yang satu lagi berjalan ke sebuah Honda Jazz berwarna silver. Yang ke arah Tucson membuka pintu belakang, membuka ransel yang menggantung di punggung, dan masuk sambil menutup pintu. Bunyi debum halus terdengar hingga tempatku duduk. Di teras restoran cepat saji, menunggu kawan datang menjemput, sembari memperhatikan mobil-mobil yang berjajar rapi.
Kuperhatikan lekat-lekat isi dalam mobil Tucson hitam itu, kosong. Hanya ada seorang supir dan remaja putri berseragam putih abu-abu yang duduk di belakang. Supir itu dengan cekatan memundurkan mobil, bergerak meninggalkan pelataran parkir. 

Dengan perginya mobil Tucson hitam, maka terlihatlah remaja putri yang satu lagi. Ia membuka pintu depan sebelah kanan, bersiap memanaskan mobil, meletakkan barang-barang di kursi belakang, dan terlihat sibuk memunguti sampah-sampah yang berserak di kursi penumpang. Hmm.. masih SMA sudah bawa mobil sendiri. Pikirku kagum. Sebagai anak yang menghabiskan masa remaja di asrama, aku tidak mungkin membawa kendaraan sendiri ke sekolah. 

Perhatianku kemudian teralihkan oleh perbincangan dua orang bapak-bapak yang duduk persis di sebelahku. Yang satu sedang sibuk menelepon, dan yang seorang lagi sedang menunggu dengan sabar hasil pembicaraan di telepon sambil sesekali menambahi kalimat-kalimat untuk disampaikan oleh bapak yang menelepon ke orang di sebrang sana.

“Iya pak, saya sarankan bapak ini saja yang berangkat ke KL untuk ikut pameran. Novelnya bagus ini pak, saya kasih rekomendasi ke sampean karena saya sudah lihat langsung kualitasnya.”
“Di facebook Suami Negeri Dongeng sudah mendapat lebih dari dua ribu pembaca” bisik bapak yang sedang menunggu. Bapak yang menelepon mengulangi kalimat itu dengan sama persis.
Telepon ditutup.
Bapak itu mulai berbicara tentang jumlah buku yang sudah diterbitkan dan keistimewaan yang ada di dalam buku karyanya.

Aku menghela napas dalam.
Begitu rupanya. Bapak di sebelahku ini seorang penulis, yang kesulitan menemukan pembaca, hingga harus meminta bantuan pada kenalannya yang punya link untuk pameran besar di Kuala Lumpur. Suami Negeri Dongeng? dengar saja aku belum pernah.. 

Pikiranku carut marut mengingat bahwa novelis adalah profesi idamanku sejak kecil. Kupikir, dengan menulis, menyalurkan energi, menyalurkan rasa pada dentum ketik keyboard akan membuat hidupku menjadi lebih mudah.

“Dunia tempatnya lelah” aku kembali teringat perkataan salah seorang teman saat kita terjebak di macetnya ibu kota. Saat itu aku berucap kagum pada mereka yang mencari rejeki di sana, berkejaran dengan waktu, menghabiskan minimal empat jam berjibaku dengan asap dan polusi. 

Ya, dia benar. Dunia tempatnya lelah. Tempatnya takut. Tempat yang paling rentan untuk tidak merasa bahagia. Makanya bahagia adalah yang paling dicari di sini. Hmmm..

Ada remaja putri menikmati hidup yang mudah, hasil jerih payah kedua orang tua, tidak perlu lagi berdesakan di bis kota, karena ada supir yang setia memanja.
Ada bapak tua berusia separuh abad, masih berjuang keras, menjual buku-buku tulisannya di tengah dunia digital yang serba cepat, serba instan.

Hidup memang selucu itu. Kita tidak bisa membandingkan pencapaian satu orang dengan lainnya, karena semua pasti punya ceritanya sendiri. Semua punya perjuangannya masing-masing, dan batu rintangan yang harus dia loncati.

Dunia kan tempatnya masalah, jika satu selesai, pasti yang lain akan berdatangan. Kalau setiap masalah diselesaikan dengan lari, sampai kapan kita akan belajar?
Hadapi. Kata orang bijak sih begitu.. hadapi masalahmu, jangan lari. Padahal, yang terlintas di kepalaku setiap kali dibenturkan dengan batu karang besar dan tegap.. adalah lari. Mendaki Semeru, nyaris sampai di puncaknya pun, aku memilih mundur. Kupikir lari bisa menyelesaikan semuanya.

Tidak.
Bahkan lemak di perut pun tidak sepenuhnya luruh hanya dengan jogging sore yang cuma sesekali.

***
Bogor, 18 November 2019

Setelah membuka laptop dan connect ke internet untuk urusan pekerjaan lewat pukul tujuh malam. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert