Skip to main content

Catatan Sore

Awalnya tidak sengaja,
Bertatap-tatapan, eh ternyata saling suka.

Awalnya hanya diam,
Diam-diam memerhatikan, eh ternyata ada yang ikut terpendam.

Awalnya karena cinta, kemudian aku ingkar, hilang arah karena bahagia yang semu.
Sampai ternyata aku tahu bahwa itu bukan cinta,
Melainkan nafsu yang mendatangkan murka

Lambat laun kita belajar,
Bahwa menjadi manusia adalah tentang menjadi individu yang bertanggung jawab.
Sadar akan pilihan yang diambil,
Bersedia menerima konsekuensi,
Dan tidak melulu menyalahkan situasi.

Suatu hari nanti kita akan dipanggil,
Pulang dan menceritakan apa yang sudah diperbuat selama di muka Bumi,
Jika salah, maka akan ditanya kenapa berbuat salah,
Tidak tahu atau tidak mau tahu?
Lalu diganjar hukuman.
Bukan hukuman yang bisa kita bayangkan,
Melainkan hukuman yang sedari sekarang kita minta tuk diampunkan.

Awalnya karena cinta,
Yang terselip secara tidak sengaja
Tahu-tahu tumbuh besar,
dan menuntunku untuk..
Pulang

***
Bogor, 13-11-19
Dari teras rumah, dengan kursi dan meja baru. Oh sungguh ku bahagia, punya ruang baru. Ruang kerja yang bisa bertemu tatap dengan rumput hijau, dan bunga merah pink yang bermekaran kalau pagi.
Ternyata begitu. Aku hanya bisa berfungsi otaknya, jika dihadapkan dengan yang hijau-hijau.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …