Skip to main content

Cara bikin hidup lebih mudah

Punya tujuan.

Lima tahun yang lalu, Februari 2014, saya bersama seorang kawan bertualang ke negeri tetangga demi mencari sesuatu yang kita sebut sebagai tujuan hidup. Teman saya ini menularkan falsafah hidup, dan misi pencariannya yang saya amini dengan taat karena saya pun sedang berada dalam level yang sama. Walhasil pencarian kami berujung manis, lepas perjalanan itu, saya menemukan jalan kembali kepada Tuhan saya, dan dia menemukan jalan kembali pada keyakinannya.

Time flies, beberapa hari lalu kami kembali bertemu. Duduk di salah satu kafe kekinian, memanjakan mata dengan design interior yang ditata sedemikian rupa, sembari menumpah-numpahkan cerita. Tentang cinta tentunya. Yang kali ini tetap didampingi dengan bumbu-bumbu misi pencarian tujuan hidup. Bahagia bagi saya, adalah karena saya sudah menemukan tujuan saya (sambil terus menyempurnakannya), dan saya berdoa juga supaya dia segera menemukan tujuannya.

Mudah bagi saya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan “untuk apa saya dilahirkan ke sini”. Karena sebagai orang beragama, tentu jawabannya adalah untuk beribadah. Tapi sebagai manusia yang dibekali akal dan ego, jawaban itu tidak mudah dinalar apalagi diinternalisasi.

Tapi itulah tujuan yang saya tahu harus saya amini dengan bangga hati. Karena.. ya memang buat apa lagi kalau bukan buat ibadah? Toh kita hidup gini-gini aja. Senang, sedih, senang lagi, sedih lagi. Saat lagi tinggi pasti ada masa jatuh. Saat sedang jatuh pasti suatu saat bangkit lagi. Begitu terus sampai sponbob satu scene sama upin ipin.

Bukan ding. Sampai kita mati.

Pun Allah sendiri yang berfirman, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah senda gurau. Tapi akhiratnya serius. Serius dan kekal. Jadi kebalik kan kalau hidup dijadikan serius, akhirat dijadikan joke. Makanya saya menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup, karena memang begitu yang Allah mau dari saya.

Sadar bahwa kita ini hamba

Sehebat-hebatnya hamba.. memang apa sih? Pesuruh toh? Setinggi-tingginya jabatan CEO pun masih ada Dewan komisaris kan yang nyuruh2 dia? Saya ini hambanya Allah. Sudah seharusnya saya mencari tahu apa yang Tuan saya ingin saya lakukan. Bagaimana cara menyenangkan hati Tuan saya. Itu saja sudah cukup tuk jadi tujuan hidup.

Percaya deh. Insya Allah hati akan lebih ringan kalau semua dilakukan karena Allah. Masalah seberat apa juga kalau niat awalnya dilakukan karena Allah, pasti akan terasa seperti “oh ini cara Allah menggugurkan dosa. Gapapa yang penting niatnya karena Allah.” Easy to say sih..

Tapi kurang lebih itu yang sudah saya praktikkan ketika beberapa kali dihadapkan dengan orang-orang yang menguras hati dan emosi. Sabar ya Ma udah ga mempan lagi. Karena ya saya tahu saya harus sabar.. yaopo. Hanya bisa dibawa dzikir, istighfar, ingat kelakuan saya yang lalu-lalu, dan menerima semua celaan dengan hati yang dilapang-lapangkan. Awalnya dilapang-lapangkan, Insya Allah lama-lama lapang beneran.

***

Terhadap doa yang tak kunjung terkabul, ada rencana Allah yang besar dan indah untuk kita. Ada pengampunan dosa yang pastinya.. dosa-dosa itu kalau kita tebus sampai hidup ribuan tahun juga gak bakal ketebus dan hanya bisa ditebus dengan ampunan dan rahmat Allah.

Tentang orang-orang yang pernah berjanji kemudian ingkar, adalah cara Allah menjadi pengingat bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang tidak pernah ingkar janji. Dan sebagai teguran agar tidak terlalu menggantungkan harap pada manusia.

Terhadap hati yang masih gelisah, dipenuhi suara-suara dan risau.. adalah cara Allah untuk mengingatkan kita agar selalu ingat pada-Nya. Untuk membungkam suara-suara di kepala dengan Dzikir pada-Nya. Beristighfar dan mengingat-ingat kebesaran-Nya.

Lihat kebelakang, toh selama ini doa-doa dan keinginan besarmu selalu dikabulkan. Iya kan? Kalau tidak dikabulkan, pasti jalannya adalah untuk mengarahkanmu ke posisi sekarang, ya kan? Posisi yang sangat kamu inginkan, dulu.. dulu sekali.

Kita muslim punya Allah. Cukupkan Dia sebagai tujuan. Tidak usah ikut-ikut pemikiran luar tentang hidup yang harus memberi makna, karena dengan mengabdi dan tulus mengabdi pada Allah, dengan sendirinya raga kita pun akan mengikuti. Ikut ingin memberi dampak bagi lingkungan sekitar. Minimal menerbitkan senyum di wajah-wajah yang familiar. Atau hal-hal sederhana yang bermakna besar bagi mereka yang sehari-hari kita jumpai.

Kita harus punya cita-cita besar, itu benar.
Tapi bukankah membahagiakan Allah juga adalah cita-cita yang teramat besar? Pun caranya ada banyak untuk menuju ke sana.. jika jadi pemimpin, menjadi pemimpin yang amanah. Jika menjadi wakil, jadi wakil yang tidak korupsi. Jika menjadi tukang sapu jalan, jadi tukang sapu jalan yang memudahkan hidup banyak orang.

Be my bestfriend yah..
Dan kita saling mengingatkan dalam ketaatan. Agar Allah jaga kita, jaga aku, jaga kamu, semua selalu dalam cahaya-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …