Skip to main content

Broken Glass in Peace [Fiksi]

“Rain, Rain, go away, come again another day...”
Rain melempar syal yang dia kenakan ke arah suaminya. Wajahnya sekusut rambutnya yang tergerai tak beraturan.
“Rough day, eh?” Suaminya masih menggoda, tak peduli dengan wajah kusut istrinya.
“Am exhausted” Ujar Rain sambil melempar tubuhnya ke depan menubruk bantal dan menenggelamkan wajah.
Suaminya mengikuti ke kamar, duduk di samping istrinya.
“Mereka berulah lagi..” Rain mulai bercerita. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya mengalir tanpa ampun. Revan diam menunggu Rain melanjutkan.

Rain kemudian berkisah tentang orang-orang jahat yang selama ini mengganggu kehidupannya, same old same old, batin Revan. Tapi istrinya ini terlalu keras kepala untuk resign. Menurutnya resign adalah cara paling lemah, dan secara tidak langsung menyatakan kekalahan dirinya.

“Ini kan bukan masalah menang-kalah, sayang..” Revan mencoba membujuk “ini soal kesehatan mental kamu. Kalau terus-terusan begini, kapan kamu bahagia.. kapan kamu bisa senyum buat aku? Tiap pulang kantor, pasti nangis”

Rain tidak peduli. Dia masih menangis. Bukan saja karena sakit hati dengan ucapan tajam tadi, tapi juga mengingat masa lalunya yang dulu pernah memperlakukan orang lain seperti itu. Hanya kali ini lebih parah..

Revan memeluk istrinya, yang dipeluk makin kencang tangisannya.
“Sayang.. Umroh, yuk?” Ajak Revan tiba-tiba.
“Hah?”
“Kan kita belum punya rencana akhir tahun.. ke Mekkah yuk?”
“Wh..why? Tumben..” Rain lupa dengan tangisnya. Perhatiannya sekarang tertuju sepenuhnya pada Revan, suami yang baru delapan bulan menikah dengannya.
Revan mengangkat bahu “I don’t know.. it feels right, and we got money..”

Rain, seorang perempuan mandiri yang terbiasa memimpin, biasa dipercaya untuk memegang jabatan penting dan selalu menjadi orang pertama yang membuat keputusan, tidak pernah bisa menolak keinginan suaminya. Apapun yang Revan katakan, selalu ia iyakan.
“Alright, then. Yuk..” walau masih agak ragu, tetapi Rain tidak bisa membohongi hati kecilnya. Benar kata Revan, it feels right, meskipun mereka belum tahu apa yang membuatnya feels right. 

***
“Kamu yakin?”
“Dua hari menjelang keberangkatan, kamu masih bertanya begini?” Revan mencubit pipi istrinya gemas. Rain diam. Dia masih merasa ada yang janggal. 
“Mendingan kamu minta-minta maaf sama orang kantormu.. siapa tahu dengan begini kalian bisa memperbaiki hubungan”
Rain mengeluarkan suara keluhan pelan “it’s beyond repair” bisiknya kesal. Revan menangkap kalimat barusan.
“Then quit..”
“No! Quit is never an answer!”
Stubborn. Guman Revan. Tapi begitulah karakter istrinya. Karakter yang dia miliki di dalam dirinya, sehingga dia sanggup memahami alur berpikir Rain. 

***
“Rain, Rain, go away.. come again another day..”

Rangkaian perjalanan Umroh sudah selesai. Semua jamaah pulang dengan membawa setangkup pelajaran yang ingin mereka bagi pada sanak saudara yang menunggu di tanah air. Pelajaran, hikmah, takjub, cerita demi cerita yang tidak akan habis dibagi, dan keinginan untuk kembali ke tanah suci.

Termasuk Revan.
Ia memasuki rumahnya dengan tatapan kosong, menggumamkan nyanyian canda itu pelan.
Rain tidak ikut serta.
Rain betah di sana.

Rain yang begitu takjub dengan Ka’bah, dengan suara Imam yang merdu. Rain menjadi sangat pendiam begitu menginjakkan kaki di tanah suci. Dia tidak banyak bicara, hanya menuruti suaminya kemanapun dia pergi. Dia lebih banyak minta untuk ditemani ke masjid, dan menikmati setiap detik di depan Ka’bah.

Revan berulang kali memastikan apakah Rain baik-baik saja. Istrinya hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Sangat lembut. Senyum yang tidak pernah Revan lihat sebelumnya. Senyum damai.

***
“Kamu tahu kenapa namaku Rain?” Ujar istrinya saat mereka tengah menikmati makan malam berdua di kamar,
“Karena ibu mu suka hujan?”
Rain mengangguk, lalu menggeleng “bukan hanya itu..”

Rain mengambil selembar foto yang selalu dia simpan di dalam dompetnya. Foto seorang perempuan yang sangat cantik, mengenakan kebaya hijau muda. Foto itu adalah Ibu Rain. Beliau meninggal saat melahirkan Rain.
“Karena saat Ibu dikebumikan, hujan turun. Dan Ayah bilang, Ibu suka sekali hujan. Setiap kali hujan, Ibu selalu keluar rumah, duduk di teras, menonton tetesannya turun satu demi satu. Ibu selalu menatap langit. Berdecak kagum, dan larut dalam bahagianya sendiri...”

“Sayang...”
“Aku mau kamu juga begitu.” Rain memotong Revan cepat “aku mau kamu mencintai hujan, sebagaimana kamu mencintai aku. Janji?”

Revan memeluk istrinya erat. Dikecupnya kening Rain lama dan lekat. Seolah tidak ingin berpisah.

***
Malam itu adalah malam terakhir mereka berbincang. Paginya, Revan membangunkan Rain untuk tahajud di masjid, seperti biasa. Karena ini adalah pagi terakhir mereka, sebelum kembali ke Indonesia.

Tapi Rain hanya diam tak bergeming. Tubuhnya sudah kaku. Bibirnya mengulum senyum. Senyum damai, senyum terdamai yang pernah dilihat Revan. Detik itu juga Revan sadar, istrinya sudah berpulang. Dia mencintai tanah ini. Rain mencintai tanah ini dan menolak untuk pulang ke Indonesia.

Revan dengan tegar menghubungi ketua rombongan. Bantuan segera datang berbondong-bondong, menurunkan, dan mengurusi jenazah istrinya. Rain sudah damai. Istrinya yang selalu hidup dalam kesibukan, kini sudah beristirahat. Dan kali ini, tidak akan ada yang mengganggu istirahatnya.

***
Nusa Indah Theater, Baris F, Rabu, 27 November 2019.
Gelas yang pecah, tidak akan pernah bisa disatukan lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …