Skip to main content

Tempatnya Masa Lalu itu, dibelakang!

Bahayanya gak ngapa-ngapain seharian itu sangat fatal. Akibatnya bisa melipir kemana-mana, termasuk stalkingin akun instagram istrinya mantan. Bukan bermaksud untuk membandingkan, apalagi untuk iri dengki mereka sudah menikah, No No Big No. Sungguh hanya sebuah keisengan semata saking udah bingungnya mau membunuh waktu dengan cara apalagi. Udah capek ketawa gara2 Vincent-Desta dari pagi.

Kesimpulan dari hasil stalk akun instagram istrinya mantan adalah; ternyata mantan saya menikahi seorang perempuan yang kelakuannya PERSIS dengan saya waktu dulu, semasa kita pertama kali pacaran. Berarti polanya dia berulang. Ya Allah amit2 jangan sampai pola saya berulang.

Tapi saya yakin pasti tidak. Karena selain sudah 100% move on dari dia, saya juga sudah 100% move on dari karakter saya yang itu. Makanya frase I’m not that person anymore, ngena banget di hati saya. Makanya (juga) saya berusaha berjarak dari kehidupan masa lalu saya, karena tidak ingin bersapa dengan orang-orang yang masih menganggap saya kayak dulu. Jangankan mereka, saya saja benci orang itu.

Orang itu (Mima yang dulu), sungguh sangat kekanakan. Sangat keakuan. Kalau posting instagram captionnya panjang-panjang menceritakan tentang dirinya sendiri. Sukanya jalan-jalan keluar negeri tapi pointless gak ngerti apa yang sebenarnya dia kejar. Di otaknya hanya ada pencitraan, citra ingin terlihat selalu bahagia padahal aslinya nelangsa.

Itu semua adalah sebelum saya bertemu dengan seseorang yang kehadirannya (tanpa sepengetahuan dia), membuat saya banyak belajar artinya diam. Banyak belajar untuk bisa lebih memaknai kehidupan dengan sederhana, tanpa kebanyakan sorot kamera. Saya berterimakasih pada Allah karena telah melintaskan orang itu di salah satu persimpangan. Makanya dari sini saya belajar, bahwa jangan pernah anggap remeh perilaku kita ke orang lain, sekecil apapun. Kita ga pernah tahu bahwa bisa jadi diam kita saja sudah menginspirasi.

Sang mantan telah menikah. Dia tidak berhasil mendapatkan raga saya, tapi dia berhasil mendapatkan karakter saya yang ada di dalam diri orang lain. Tidak apa-apa. Karena berarti, gagalnya hubungan kami bukan semata karena keegoisan saya (yang sempat saya renungkan dalam sedih di bulan-bulan awal kami berpisah). Gagalnya hubungan kami simply karena saya sudah berevolusi menjadi pribadi yang baru, dan dia tidak. Lalu saya jadi semakin tidak bisa menuruti dia, karena jalan pikirannya tidak bisa saya terima.

Agak nyesel sih kenapa kok tiba-tiba stalking ke sana. Tapi ternyata nyambung juga karena belakangan ingatan tentang orang itu muncul lagi muncul lagi. (Yang membuat saya tiap malam duduk secara khusus di tempat tidur untuk berdoa, padahal biasanya kalau mau doa tidur ya sambil tiduran, dan setelah baca doa-doa dan ayat kursi saya berdoa pakai Bahasa Indonesia secara spesifik minta dijauhkan dari mimpi-mimpi aneh, dan tolong agar Allah hanya kasih mimpi yang punya makna saja atau tidak usah mimpi sama sekali). Saya terlalu takut untuk bangun tidur dengan perasaan takut atau gusar karena sebuah mimpi.

***
Setiap orang punya masa lalunya sendiri. Saya dengan masa lalu saya, dan pasangan saya kelak dengan masa lalu nya. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya adalah orang yang mudah cemburu. Untuk itu sebisa mungkin tidak ingin cemburu dengan pasangan saya terlebih jika mengenai masa lalunya. Cemburu dengan masa lalu pasangan seperti berhadapan dengan hantu yang sebenarnya tidak ada tapi seolah-olah ada dan menyeramkan. Trust me, been there done that. Bahkan 5 tahun menjalin hubungan dengan si mantan itu tidak berhasil meredam cemburu saya sama mantan pasangannya dia. Cih. Dangkal sekali. I’m not that person anymore.

Terus terang saya jijik dan geli jika mengenang dia. Mengenang lima tahun yang saya habiskan, bertahan hanya demi ada yang antar-jemput kuliah. Jahat? Iya. Makanya jangan pacaran!

Tapi sudahlah. Itu sudah terjadi, saya sudah taubat minta ampun karena pernah pacaran dan melanggar perintah Allah. Tidak ada yang bisa ditarik kembali kecuali rasa menyesal dan janji tidak akan mengulanginya lagi. Bukankah itu yang paling penting? Minta maaf, lalu janji tidak akan mengulanginya lagi.

Crap. Ini mungkin tanda saya sudah mulai kesepian. Mulai melantur kemana-mana dan seperti hilang arah.
Mungkin sudah waktunya untuk berkemas lagi. Bersiap tuk pergi dari sini, menuju kota yang baru. Kota yang mungkin menjanjikan masa depan. Yang mungkin isinya orang yang baru. Yang mungkin adalah jalan untuk dipertemukan dengan orang yang akan berani maju dan melamar. Saya sudah bosan menunggu dalam diam di sini. Sudah waktunya untuk bergerak.

***
Bogor, 5 Oktober 2019
Semoga Allah bukakan pintu hati kamu wahai calon imamku, siapapun dan dimanapun kamu berada. Semoga Allah lindungi kamu dalam setiap usaha mu berjalan ke arahku. Aku senang Allah masih merahasiakan kita. Mungkin kita sudah pernah bertemu, atau mungkin belum sama sekali, aku tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Aku ingin kamu datang dengan caramu sendiri, karena aku tahu betapa seorang laki-laki mencintai proses mencari, mengejar, dan akhirnya menangkap. Maka aku akan selalu diam. Padahal sungguh, diam bukanlah sifat terbaikku. Tapi agar kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dari proses menemukanku, maka aku diam. Diam sebagai cara melatih diri, menajamkan cintaku bahkan sebelum kita bersatu.

Comments

Popular posts from this blog

13 Days of Sweetness

Jadi laki-laki sebaiknya jangan suka menyakiti perempuan. Perempuan sudah mengalami sakit rutin, tanpa perlu kalian sakiti. Setiap bulan, menstruasi datang bagai siksaan. Ada yang sakit kepala, sakit perut, ada yang sampai muntah-muntah, bahkan ada yang sampai pingsan. Itu terjadi setidaknya satu minggu sebelum datang bulan. Belum lagi emotional pain yang melanda; perasaan sedih tiba-tiba tanpa ada alasan, mudah tersinggung, mudah merasa tersingkirkan, merasa tidak dipedulikan, kesepian tanpa alasan.. dan hal-hal yang sulit dijelaskan lain, yang mungkin menurut kalian sepele, tapi tidak bagi kami. Biasanya itu terjadi satu minggu atau tiga hari sebelum datang bulan.

Pada saat harinya tiba, ketika gumpalan darah keluar dari vagina, pada saat itulah kami tahu bahwa emosi cengeng yang kami rasakan kemarin adalah karena ini, sama sekali bukan karena kami lemah, tapi karena perubahan hormon semata. Rasa lega akan datang untuk sementara waktu, membuat kami bisa sedikit bernapas nikmat. Tapi…

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…