Skip to main content

Ramon, [Fiksi]

"It'll only be fifteen days. Fifteen, and I'll be back differently..." aku bergumam sebelum menutup pintu kamar, memakai sepatu, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.

***

"Kalau semua hal yang kamu alami dan rasakan di sepanjang perjalanan ini kamu bagi-bagi di media sosial, apa yang tersisa untukmu memaknai pelajarannya?" Ramon bertanya dengan nada datar. Aku yang sedari tadi sibuk memotret laut dan buih ombak refleks menurunkan ponsel dan menoleh ke arahnya,
"Banyak." jawabku singkat, lalu kembali sibuk mengambil gambar. Ramon masih berdiri di sebelahku sambil memandang lurus ke garis batas pertemuan antara langit dan laut. Dalam hal ini kami berdua sepakat, bahwa garis ilusi itulah yang membuat kita tetap hidup. Sepasang pembawa acara petualangan di televisi, yang hidup dengan bepergian ke tempat-tempat eksotis yang jarang dikunjungi orang.

Aku mengenal Ramon sejak tiga tahun yang lalu, saat pertama kali acara ini mulai dicetuskan dan dibangun konsepnya. Kita berdua ikut andil dalam merumuskan nada yang ingin kita bagi dengan kaum millennial. Ramon bukan pemuda yang ramah, tampangnya yang rupawan dan tubuhnya yang tinggi tegap membuat dia amat digemari banyak perempuan. Hal itu justru membuatnya jengah dan menutup rapat-rapat barisan pertemanannya. Seingatku, dia tidak punya terlalu banyak teman, makanya dia jarang muncul di infotainment ataupun video-video youtube yang sekarang berseliweran berisi kehidupan sehari-hari para selebriti.

Kami berpartner dengan baik meskipun jika orang lain melihat dari luar, karakter kami sangat bersebrangan. Aku yang cerewet dan periang, bertemu dengan Ramon yang dingin dan kaku. Tapi sebetulnya dibalik itu, karakterku adalah karakter Ramon yang dia pendam dalam-dalam, dan karakter Ramon adalah aku dibalik pintu kamar. Makanya mudah sekali bagiku untuk mengerti alasan dibalik pemikiran-pemikiran aneh Ramon, karena hal itu juga terlintas di pikiranku pun sebaliknya.

Kapal menepi di sebuah pulau tak berpenghuni, pulau yang dikenal sebagai pulau kelelawar. Para kru dan tenaga lokal yang kami sewa untuk mendampingi syuting selama sepuluh hari langsung sibuk membantu kami menurunkan barang dan seluruh peralatan. Aku menyusul Ramon yang langsung menuju cottage, enggan berpanas-panasan terlalu lama.

Kami memilih untuk duduk di teras, sambil meluruskan kaki dan menyeimbangkan kepala setelah terombang ambing selama tiga jam di lautan. Sungguh aku tidak bisa berhenti mengambil gambar dengan latar secantik ini. Biru laut, langit jernih, awan putih, pasir, pohon kelapa, saung, semua adalah candu yang tidak pernah membosankan. Ramon tahu betapa aku mencintai laut dan seisinya, jauh melebihi cintaku pada gunung dan ketinggiannya. Makanya sedari tadi dia diam saja, padahal mestinya waktu kosong ini bisa kita manfaatkan untuk briefing.

Aku hanya ingin membunuh waktu. Demi menutupi rasa yang semakin hari semakin mengganggu. Yang harus kuakui, semakin ku mengenal Ramon, semakin aku memiliki perasaan yang aneh terhadapnya. Aku tahu dia menganggapku sebatas teman kerja, dan kita tidak pernah membahas hal-hal di luar pekerjaan. Begitulah aku tahu batasan yang dia buat antara aku dan dia. Tapi mungkin karena aku perempuan, dan sudah terlalu lama bekerja secara intens dengannya, perasaan-perasaan ini seperti tidak terhindarkan. Bukankah perempuan memang mudah baper?

Dalam setiap perjalanan yang aku habiskan dengannya, banyak pelajaran berharga yang aku bawa pulang dan itu semua membuatku semakin ingin meninggalkan dunia pekerjaan ini. Semakin ingin pulang ke rumah, menjadi istri dan ibu, melayani mereka sepenuhnya hingga rambutku memutih dan tubuhku tidak berguna lagi. Tapi.. hanya jika bersama dengan Ramon.

Ah, mungkin ini terlalu rumit untuk aku gambarkan, karena banyak yang bilang cinta yang bersemi dari pekerjaan tidak akan berlangsung lama. Hanya sesaat. Awalnya aku juga berpikir begitu, toh nanti juga hilang sendiri. Rupanya setelah tiga tahun, bukannya hilang, malah membesar. Yang kuimbangi dengan kemampuan menutupi perasaan. Sumpah itu menyiksa.

"Kamu itu harus menjadi nyata, Dra" Ramon memecah hening setelah sepuluh menit kita duduk di situ, meluruskan kaki, menyesap minuman botolan. Aku menurunkan layar ponselku,
"Maksudnya?"
Ramon diam. Dia selalu diam untuk menghindari menjawab pertanyaan yang tidak ingin dia jawab, atau terlalu malas untuk dikatakan. Aku menarik napas dalam dan kembali mengambil gambar. Kali ini bunga kecil berwarna kuning yang sempat kuambil dengan latar biru langit.
Sepuluh hari di sini, aku tahu aku tidak akan kuat meneruskan pekerjaan ini, jika harus terus menerus memendam perasaan seperti ini. Sepuluh hari, dan aku masih penasaran, pelajaran seperti apa yang akan kubawa pulang kali ini, dan jenis orang macam apa yang dalam tiga belas hari lagi akan kembali ke kamarku.

Yang jelas, setiap perjalanan merubah diriku sedikit demi sedikit. Entah nantinya akan menjadi seperti apa, tapi yang jelas, Nadra yang kembali, tidak pernah sama dengan Nadra yang pergi.

***

"Setelah ini kalian akan sedikit ber adegan gitu ya, jadi ceritanya si Nadra hilang di tengah hutan, dan Ramon lo cari dia sampe dapet, pas ketemu-ketemu si Nadra udah pingsan"
Aku dan Ramon mengernyitkan kening.
"Apaan, absurd banget" tukasku cepat. Tayangan kami nyaris selalu murni tanpa ada embel-embel acting, karena memang yang ingin ditonjolkan adalah sisi keindahan Indonesia, bukan pengalaman para host nya.
"Yaa, rating kita mulai menurun ni, harus ada sedikit improvisasi" Kevin sang creative director mencoba membela diri.
"Gak. norak banget" jawaban Ramon mewakili isi kepalaku.

Hari itu kami sepakat menolak syuting, jika jalan ceritanya harus se berpura-pura itu. Menurut Ramon masih banyak yang bisa dilakukan, seperti adu mancing antara aku dan dia, atau bermain games tebak-tebak norak di tengah laut atau di pinggir pulau. Konten semacam itu yang sekarang sedang digemari- percakapan tidak bermakna tapi menghibur, dengan latar belakang pemandangan cantik-. Aku sepakat. Tapi Kevin susah dibujuk.

"Gue heran loh kenapa kalian gak merit aja sekalian. Kompak banget" gerutu Kevin kesal sambil meninggalkan cottage. Dia menyerah berdebat melawan kami, dan memutuskan untuk berpikir sebentar. Aku tersenyum miris, Ramon tanpa ekspresi.

***

"Di dunia ini ada dua jenis orang, orang yang senang berkelakar dengan rekan kerjanya, dan orang yang fokus bekerja dan hanya berinteraksi secukupnya dengan rekan kerjanya." Ramon langsung memulai pembicaraan begitu aku menghampirinya di tepi pantai. Api yang menyala sedari tadi sudah redup, menyisakan hangat yang hanya tinggal sepotong. Aku duduk di sebelahnya tanpa suara, menunggu dia melanjutkan kalimatnya.
"Orang yang senang bercanda dan memiliki hubungan emosional yang dalam dengan rekan kerja, kebanyakan adalah jenis orang-orang yang kesepian. Hidupnya hanyalah ruang kerja, dan pertemanannya hanyalah berbatas dinding kantor. Bahkan mungkin di rumah pun dia tidak punya begitu banyak pilihan teman bicara, karena seringkali rumah justru menyediakan hening yang semakin menjadi sejak gawai mulai mengambil posisi.
Sedangkan orang yang terkesan cuek dan tidak mau bergaul, biasanya mereka adalah orang-orang yang rumahnya hangat, pasangannya selalu bisa dijadikan tempat bercerita, dan pertemanan sosialnya masih terjalin erat." Ramon melanjutkan. Aku masih terdiam.

Langit malam ini penuh dengan bintang. Bulan sabit masih muncul malu-malu, dan aku selalu suka pemandangan ini. Suasana laut, langit, bulan, bintang, aku bersedia pensiun dari pekerjaannku jika pemandangan ini bisa menjadi halaman depan rumahku.

"Kamu tipe yang mana, Ra?" Ramon menoleh ke arahku. Aku mengangkat bahu. Terus terang aku tidak tahu.

"Aku ingin menjadi orang tipe pertama, tapi bukan berarti aku kesepian." ujarnya lagi. Aku masih diam mendengarkan.

"Ada banyak hal yang bergaung di dalam kepalamu ya, Mon?" tanyaku tidak begitu menggubris pernyataannya. "tell me everything, I wanna know" ujarku sambil berbaring di atas pasir yang dingin. Aku tidak peduli jika rambutku penuh pasir lagi dan malam ini aku harus mandi keramas sebelum tidur. Jika itu bisa menenangkan pikiran Ramon, karena aku selalu bisa menebak kapan Ramon hadir sepenuhnya dan kapan sebagian jiwanya melayang memikirkan hal-hal yang entah apa, berenang dalam kubangan pikirannya sendiri.

Aku ingin menjadi alur, seperti parit yang membiarkan aliran sungai mengalir kecil, mencicil kubangan pikiran yang mengganggu tidurnya, membuatnya khawatir tentang dunia.

Ramon berbaring di sebelahku. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, dia menumpahkan semua kekesalan hatinya tentang stasiun televisi yang menaungi kita berdua. Tentang rating, tentang selera para penonton Indonesia. Tentang anak-anak muda, tentang cara mendidik anak di dunia modern. Aku mendengarkan semuanya, sembari berbisik pada langit. Meminta semua yang ada di sana, agar melihat kami di sini, dan menganugerahkan kuasanya untuk menyatukan kami. Aku ingin terus begini. Berbaring di samping Ramon, membuka ruang hatinya yang tertutup rapat. Menemaninya dalam malam dingin, walau hanya sepotong hangat yang bersisa dari kayu bakar yang tinggal abu. Aku ingin seperti ini sampai...

"Ra, kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku nyaman bercerita.." ujar Ramon setelah hening beberapa saat. Aku tersenyum.
"I know," bisikku pelan sambil mengkerucutkan hidung. Ramon tertawa. Tawa favoritku. Aku selalu suka jika berhasil membuatnya tertawa. Aku selalu suka jika..
"Will you marry me?"
Pertanyaan Ramon membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Nafasku tertahan, dalam sepersekian detik melintas tanya di hatiku, jangan-jangan ini hanya bercanda.

Sebelum aku bisa menjawab, Ramon sudah mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Mendekatkan tubuhnya, dan berbisik pelan,
"Please be mine" 
Aku tidak bisa menjawab karena dia sudah menguasaiku sepenuhnya.
Aku melepaskan bibirku dari genggamannya, nafas kami memburu. Ramon menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum, mengangguk, dan kami larut dalam dekapan sang malam. Debur ombak semakin mendekat, menyentuh kakiku kini. Aku tidak peduli. Pun sepotong hangat yang sedari tadi menyaksikan kami, telah pamit pergi. Aku tidak peduli. Aku punya hangat yang lain. Aku punya hangat yang datang dari jiwa yang sudah kukenal sejak ribuan tahun lalu. Sejak ruh kami sama-sama diciptakan untuk berpasangan, lalu dipisahkan oleh Ibu Bumi, untuk saling mencari.

Tidak banyak kata yang tersisa malam itu. Selain cerita tentang rekan kerja yang saling jatuh cinta, memendam, berusaha melawan, namun kalah oleh kehendak sang semesta. Aku tahu, cinta itu indah. Tapi aku tidak pernah tahu bisa seindah ini, walau sesering apapun aku menghabiskan waktu dengannya, tidak ada bosan yang bisa menyudahi keindahannya. Kini, bukan hanya laut, langit dan bintang yang menjadi candu bagiku. Tapi cinta, yang dititipkan oleh semesta melalui cumbu rayu Ramon yang kini bisa kupanggil dengan,.

"Sayang.." 

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…

13 Days of Sweetness

Jadi laki-laki sebaiknya jangan suka menyakiti perempuan. Perempuan sudah mengalami sakit rutin, tanpa perlu kalian sakiti. Setiap bulan, menstruasi datang bagai siksaan. Ada yang sakit kepala, sakit perut, ada yang sampai muntah-muntah, bahkan ada yang sampai pingsan. Itu terjadi setidaknya satu minggu sebelum datang bulan. Belum lagi emotional pain yang melanda; perasaan sedih tiba-tiba tanpa ada alasan, mudah tersinggung, mudah merasa tersingkirkan, merasa tidak dipedulikan, kesepian tanpa alasan.. dan hal-hal yang sulit dijelaskan lain, yang mungkin menurut kalian sepele, tapi tidak bagi kami. Biasanya itu terjadi satu minggu atau tiga hari sebelum datang bulan.

Pada saat harinya tiba, ketika gumpalan darah keluar dari vagina, pada saat itulah kami tahu bahwa emosi cengeng yang kami rasakan kemarin adalah karena ini, sama sekali bukan karena kami lemah, tapi karena perubahan hormon semata. Rasa lega akan datang untuk sementara waktu, membuat kami bisa sedikit bernapas nikmat. Tapi…