Skip to main content

Ramon (2) [Fiksi]

"Told you, I'd be back differently,." aku bersenandung begitu memasuki ruangan putih abu-abu yang sama yang kutinggalkan lima belas hari lalu. Aku tidak tahu bahwa perubahannya akan sedrastis ini, one kiss is all it takes to turn my life upside down. Aku masih senyum-senyum sendiri sambil menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhku. Ingatan akan ciuman kami yang pertama, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya terus berputar berulang-ulang di kepalaku, membuatku enggan melakukan apa-apa. Tidak unpacking, tidak membersihkan badan, hanya mengganti baju dengan selembar kain seadanya yang kutarik sembarangan dari dalam lemari, lalu melemparkan tubuh ke kasur yang empuk.

"I got a boyfriend, now.." bisikku pada teddy bear coklat besar yang kuberi nama Brownie. Dia diam tersenyum seperti biasa. Memang hanya itu ekspresi yang dia punya.

Aku memejamkan mata, membayangkan senyum tipis Ramon yang sangat aku idolakan. Membayangkan canda tawanya yang garing tapi selalu berhasil membuatku tertawa, membayangkan kaku lidahnya ketika menyebut kalimat i love you untukku.. semua ini seperti mimpi yang jadi nyata. Yang tadinya hanya sebatas angan-angan, kini benar-benar untukku. Semua untukku. Aku bahkan tidak peduli jika ternyata, misal nih amit-amit, Ramon hanya menjadikanku sebagai bahan taruhan dengan genk nya, lalu dia menang, lalu dia mencampakkanku setelah menerima hadiahnya.. hmm.. aku tak peduli. Yang pasti aku akan sakit hati, tapi saat ini.. aku bahagia. Sangat.. amat.. bahagia..

***

"How will we tell the world?" Ramon berbisik saat kami menghabiskan sore selepas syuting dengan leyeh-leyeh di ayunan, satu berdua..
Aku-yang sedang menikmati bersandar di dada Ramon- memejamkan mata tidak peduli,
"Terserah, kamu. Akan lebih banyak perempuan yang patah hati karenanya ketimbang para lelaki.." ujarku sambil tersenyum,
"Fans kamu juga pasti akan menangis meraung-raung.." Ramon terkekeh pelan. Aku tidak peduli, sibuk mencium aroma tubuh Ramon yang khas. Kaos jersey yang menyerap keringatnya sepanjang hari, tapi bagiku sangat menarik untuk dihirup dalam-dalam. Definisi aroma menentramkanku yang baru, setelah petrichor..
"Aku.. gak peduli" ujarku jujur. Duniaku hanya Ramon sekarang. Tiga tahun menunggu, dan semua terbayar tunai..
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Ramon sambil mengelus rambutku pelan. Aku menggeleng, benar-benar tidak peduli "how about, we travel the world?" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk tersenyum.
"But I prefer to stay at home with you, doing nothing.." 
"You sure? Do nothing?" Ramon menggelitik leherku, aku menggeliat manja. Kami tertawa. Amboy, indahnya jatuh cinta. Indahnya masa-masa awal percintaan. Aku berdoa, semoga indah ini berlangsung lama. Setahun, dua tahun, lumayan lah. Kisah cinta ku yang terakhir hanya berlangsung indah selama dua minggu, sebelum akhirnya kandas di tiga bulan pertama. Terlalu banyak cek-cok, terlalu banyak kepentingan terselubung.

Sulit bagi orang-orang seperti kami dalam menjalani kisah cinta. Public figure, dengan sepaket keuntungan yang mengikuti, menjadi incaran mereka-mereka yang hanya mendewakan uang. Itulah kenapa aku memilih untuk melajang dan hanya flirting-flirting, tapi tidak pernah sampai benar-benar membuka hati sebelum aku tahu betul dia tidak punya kepentingan apapun terhadapku.

Kecuali Ramon.

Karena aku sudah menunggu terlalu lama..
Menunggu agar ada yang benar-benar datang dan mengetuk pintuku, yang sejati, dan bermaksud untuk menetap. Bukan hanya sekadar mereka yang butuh pekerjaan, butuh ini dan itu, dan mendekatiku agar memuluskan jalannya di dunia hiburan. Aku sudah sangat kenyang dengan agenda terselubung dari para buaya busuk yang mendekatiku. Single is fine, sampai Ramon datang..

"Gimana kalo.." aku melepaskan kepalaku dari dada Ramon, mendongak memandangnya "we save the future for the future? Aku cuma mau menikmati saat ini, hingga waktu nya tiba.. bisa jadi kita nanti akan kehabisan stok rasa cinta? Lalu memutuskan untuk kembali ke jalan kita masing-masing. Bisa jadi kita ternyata sudah selesai dengan dunia? Hingga ternyata kita.."

"Kamu.." Ramon merengkuh tubuhku erat "selalu mikir yang aneh-aneh. Sudah.. kita diam saja sekarang. Diam berdua, kita habiskan sore sampai matahari pun lelah menonton kita di sini diam-diam saja. Tidak perlu berbicara, jika bicara ternyata hanya membuat sesak dada dengan membayangkan aku akan berpisah denganmu.."

Ah.. Cinta.. manisnya serasa di surga. Entah hingga berapa lama akan lekang..

"Aku lebih suka memikirkan, akan masak apa buat kamu nanti.." ujarku centil. Ramon makin erat memelukku.

***

Tiga bulan berlalu sejak awal kisah cinta itu terjalin. Tiga tahun menunggu, dan tiga bulan masih belum reda juga hujanan manis dan indahnya cinta yang kita coba semai berdua. Aku sudah berhenti mengira-ngira kapan manis ini akan reda. Pun aku menolak untuk menghitung waktu, agar jika berhenti, ini semua berhenti dengan sendirinya. Aku suka merencanakan sesuatu, tapi untuk ini, biarlah dia berputar sebagaimana adanya. Mengikuti rotasi Bumi dan revolusi Matahari.

Sering aku bangun di pagi hari, mencubit pipiku sekeras-kerasnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Tidak.. ini bukan mimpi. Ini nyata, dan Ramon adalah nyata. Mungkin karena terbiasa sakit hati, patah hati bertubi-tubi, aku jadi menunggu-nunggu kapan Ramon akan mematahkan hatiku, gagal memenuhi ekspektasiku, dan membuatku menangis menjerit-jerit. Tapi tidak kunjung terjadi. Sampai aku takut sendiri. Jangan-jangan, selama ini, akulah yang menyebabkan semua kegagalan itu terjadi? Sudah.. sudah..

Aku masih butuh lagu-lagu dari playlist ku untuk meredam suara-suara di dalam kepala, butuh suara podcast, atau radio secara bergantian. Aku masih belum terbiasa menikmati bahagia. Mungkin karena terlalu lama berkubang dalam pikiranku sendiri. Tapi kini aku punya Ramon. Aku ingin menjadi alur untuk mengalirkan kubangan pikirannya, mestinya aku bisa menjadikan dia sebagai alur untuk mengalirkan kubangan pikiranku.

Diam!
Bentakku pada kepalaku sendiri.

Aku ingin menikmati hari-hari ini. Bisakah kalian diam?
Sebentar saja..

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

13 Days of Sweetness

Jadi laki-laki sebaiknya jangan suka menyakiti perempuan. Perempuan sudah mengalami sakit rutin, tanpa perlu kalian sakiti. Setiap bulan, menstruasi datang bagai siksaan. Ada yang sakit kepala, sakit perut, ada yang sampai muntah-muntah, bahkan ada yang sampai pingsan. Itu terjadi setidaknya satu minggu sebelum datang bulan. Belum lagi emotional pain yang melanda; perasaan sedih tiba-tiba tanpa ada alasan, mudah tersinggung, mudah merasa tersingkirkan, merasa tidak dipedulikan, kesepian tanpa alasan.. dan hal-hal yang sulit dijelaskan lain, yang mungkin menurut kalian sepele, tapi tidak bagi kami. Biasanya itu terjadi satu minggu atau tiga hari sebelum datang bulan.

Pada saat harinya tiba, ketika gumpalan darah keluar dari vagina, pada saat itulah kami tahu bahwa emosi cengeng yang kami rasakan kemarin adalah karena ini, sama sekali bukan karena kami lemah, tapi karena perubahan hormon semata. Rasa lega akan datang untuk sementara waktu, membuat kami bisa sedikit bernapas nikmat. Tapi…

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…