Skip to main content

[Fiksi] Libur

Tira, ibu rumah tangga dari keluarga kelas menengah ke bawah biasa, sedang sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan berangkat ke luar kota demi mengemban tugas sebagai seorang abdi negara. Baju-baju pilihan ditumpuk di sisi kanan, celana di sisi kiri, pakaian dalam, dasi, baju santai, semua disusun rapi sebelum dilipat kecil-kecil agar muat di dalam koper.

Sepanjang malam Tira sudah menyusun dalam pikirannya baju mana saja yang akan dia kemas. Warnanya, pasangan celananya, dan printilan lain semacam sabun, pasta gigi, shaving cream, obat-obatan. Pikirannya sibuk mengemasi barang-barang agar semua bisa langsung dia lakukan di pagi hari. Tentu setelah memasak sarapan, menyiapkan bekal untuk si bungsu, membersihkan rumah, dan menyiapkan kebutuhan suaminya pagi itu.

Tira sudah biasa melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja. Sebelas tahun menikah, dan kota terjauh yang pernah dia sambangi hanyalah Yogyakarta. Itupun hanya tiga hari, karena budget mereka hanya cukup untuk membayar penginapan murahan selama tiga hari. 

Tentu saja dia tidak mengeluh, apalagi menyerah. Baginya, semua ini sudah cukup. Sudah seperti yang dia pinta pada Tuhannya.

“Aku titip kamu sama Allah ya, Yah” bisiknya lembut sambil mengecup punggung tangan suaminya. Hari membalasnya dengan mengecup kening istrinya.

Tas sudah terkemas rapi, yang ditenteng oleh Hari yang pergi dengan langkah mantap. Taxi yang dia pesan sudah datang, siap mengantarnya ke bandara. Tira mengantar suaminya hingga pintu pagar sampai taxi yang membawa suaminya hilang di sudut jalan.

Sebelas tahun bersama, tapi masih saja ada rasa sedih dan rindu tiap kali Hari pergi bertugas. 2-3 hari, 2-3 minggu, rindu sama beratnya. Tira menghela napas dalam, masuk ke dalam rumah, dan kembali menyibukkan diri. Dia membunuh waktu dengan caranya sendiri; membersihkan rumah, membersihkan rumah, membersihkan rumah, hingga tidak ada lagi sudut yang ditumpuki debu.

Ia tentu harus menyembunyikan kesedihannya dari anak-anak. Seorang ibu harus tampak tegar di depan mereka, jika dia ingin anaknya pun menjadi pribadi yang kuat. Toh hidup di dunia ini hanya sementara, di surga nanti kelak kita akan terus bersama selamanya. Begitu cara Tira menghibur diri, di sini sementara, di surga selamanya.

***
“Beeeb” seorang perempuan berambut pirang menyambutnya di pintu kedatangan. Perempuan itu menubruknya dan langsung memeluknya erat “kangeeen” ia melendot manja.

Hari tertawa bahagia. Digandengnya perempuan itu menuju parkiran. Libur telah tiba, pikirnya.

***
Rimbo Bujang, 15 Okt 2019
Setahun gak assessment, ternyata memang memulai apapun itu pasti mulanya sulit ya. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk