Skip to main content

[Fiksi] Hello, Stranger!

Tugas kuliah makin lama makin menumpuk. Aku sudah kehabisan keluh kesah untuk menggambarkan betapa aku benci rutinitas ini. Kalau bukan demi orang tua yang sudah rela-rela membayarkan uang kuliah, dari kemarin aku pasti sudah hengkang dan melamar jadi pramusaji restoran pizza. Huh! Kenapa juga harus ada perkuliahan sebagai standar kecerdasan seseorang. Aku sebal.

Aku menyusuri tumpukan buku di perpustakaan yang berdebu. Layar monitor pencarian mengarahkanku ke rak ini, rak yang asing untuk aku kunjungi. Sulit sekali membaca kode-kode yang ditulis kecil-kecil itu. Aku harus memicingkan mata, memiring-miringkan kepala, seperti detektif yang sedang meniti barang bukti.

Brukk!
Setumpuk buku berjatuhan tepat di belakangku. Seorang mahasiswa terlonjak kaget, kami beradu tatap. Detik itu juga, jantungku seperti berhenti. Ya Tuhan.. he’s the one. Keyakinan konyol itu datang seketika, seperti adegan soap opera, aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta.

Seorang pemuda berkulit gelap, bertubuh tinggi dengan kemeja yang dibiarkan terbuka. Memamerkan kaos hitam yang melekat dengan pas di tubuh tegapnya, selaras dengan celana hitam yang juga seperti dijahit khusus untuknya. Pemuda itu menatapku dingin. Tidak ada senyum di wajahnya, tapi justru itu yang membuatku semakin jatuh penasaran. Aku memberi isyarat untuk membantunya membenahi buku-buku yang terjatuh, tapi dia diam saja. Sambil tersenyum, kubantu dia memungut satu persatu buku itu, dan meletakkannya kembali di rak. Setelah selesai, aku mencoba beramah tamah dengan tetap memamerkan senyum riang dan mengulurkan tangan. Maksudnya biar kenalan gitu..

Tanpa disangka dia hanya membalas dengan tatapan dingin, dan pergi dengan langkah cepat. Tanganku masih menggantung di udara, beku karena shock yang amat sangat.

Sial!
Rutukku dalam hati,
Makhluk macam apa itu, begitu sempurna tapi juga begitu angkuh! 

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk mencari tahu segala tentangnya. Se-ga-la-ten-tang-nya! Dan itu artinya, tidak akan ada satu pun yang terlewat dari penyelidikanku.

***
Enam bulan berlalu sejak pertemuan itu. Setitik petunjuk tentang pemuda dingin dan angkuh itupun belum sama sekali ku peroleh. Jangankan angkatan dan fakultasnya, nama pun aku tidak berhasil dapatkan. Tidak peduli berapa kali aku membujuk petugas perpustakaan untuk menunjukkan daftar mahasiswa yang keluar masuk perpustakaan pada hari itu, dia benar-benar hilang seperti ditelan paus.

Segala upaya aku kerahkan, termasuk menyisir anggota organisasi-organisasi kampus yang mungkin dia tergabung di dalamnya. Bekalku sedikit sekali memang, hanya ciri fisik yang kulihat sekilas, dan referensi buku tempat kami bertemu. Tidak banyak yang bisa disimpulkan, kecuali.. yang kayak itulah yang tipe gue banget.

Setidaknya dia adalah satu-satunya pemuda di kampus ini yang berhasil membuat jantungku berhenti di pandangan pertama. Hatiku seolah langsung memutuskan bahwa dialah takdirku. Aku pokoknya mau dia. Hanya dia.

Hanya karena kulitnya gelap, karena aku suka yang gelap-gelap.
Hanya karena tubuhnya tinggi, karena aku pun tinggi dan aku ingin yang lebih tinggi dariku.
Hanya karena tatapan dingin dan angkuhnya, yang membuatku justru semakin ingin menghangatkan hati dan memberi warna pada hidupnya yang mungkin abu-abu.

Delapan bulan, sepuluh bulan, setahun berlalu dia tidak kunjung muncul juga. Aku mencarinya nyaris ke setiap sudut kampus, sengaja berlama-lama di fakultas yang kucurigai sebagai fakultasnya berdasarkan referensi buku yang dia jatuhkan, menelusuri setiap kata kunci di media sosial, tentang mahasiswa yang mengenakan kemeja dengan kancing terbuka, yang ternyata ada ribuan jumlahnya.

My God.. 
dia seperti hantu..
Atau mungkin dia bukan mahasiswa sini? Hanya orang luar yang kebetulan mencari referensi di perpustakaan?
Atau jangan-jangan dia mahasiswa tingkat akhir yang sudah diujung tanduk, makanya sudah tidak tercatat lagi di petugas keperpustakaan?
Atau..
Dia hantu?

Aku bergidik sendiri membayangkan kemungkinan terakhir. Mana mungkin aku melihat hantu di siang bolong. Tapi itu kan perpustakaan, ya bisa saja. Kan adegan film horor sering dilakukan di perpustakaan. Tidak, tidak. Aku yakin dia manusia. Dia manusia, dan bagiku dia sempurna. Tatap dingin dan diamnya yang membuatku terpikat tidak akan pernah bisa hilang dari ingatanku. Akan kucari dia .. sampai kapanpun!

***
Dua tahun berlalu sejak kejadian itu. Hari ini aku mengenakan toga, berdiri di antara teman-teman seangkatan yang tersenyum lebar. Berdandan rapi, bergincu dan bersanggul. Pemuda itu tidak kunjung muncul lagi. Aku memasrahkan diri dan hati, dan satu-satunya jalan adalah dengan meminta kepada Tuhan.

Wahai Tuhan,
Aku jatuh cinta pada seorang hamba-Mu yang kuanggap sempurna untukku. Walau kesempurnaannya tidak akan menyamai kesempurnaan-Mu.
Terimakasih, Tuhan. Karena Engkau telah menempatkannya di salah satu persimpangan yang aku temui. Membantuku untuk yakin akan jalan yang hendak aku pilih. Dan lihatlah aku sekarang, Tuhan. Aku berhasil lulus dari perkuliahan yang sangat tidak aku sukai. Walaupun yang membuatku bertahan adalah karena ingin menemukan dia yang tidak kunjung aku temukan.

Maka kini aku meminta satu hal, Ya Tuhan.
Tolong jaga dia di manapun dia berada. Siapapun dia, tolong sampaikan padanya bahwa aku berterimakasih karena telah bersikap dingin pada saat aku mengulurkan tangan. Terimakasih telah mematahkan hatiku dengan tidak bersikap ramah yang palsu, karena dengan begitu aku jadi punya semangat baru.

Jika boleh aku meminta lagi, aku ingin Engkau menghendaki kami bersatu. Aku ingin Kau pertemukan lagi kami dalam cerita yang lebih indah, untuk kemudian sama-sama berjalan di bawah ridhomu. Aku mencarinya selama tiga tahun, Ya Tuhan. Jika Kau menghendaki kami untuk saling bertaut, aku janji se janji janjinya, aku akan berusaha tuk jadi istri yang baik buat dia. Aku akan menjaganya tetap hangat, dalam apapun kemelut dunia yang tengah dia hadapi. Aku ingin membagi bebannya, agar aku bawa sebagian dan dia bisa merasa lebih ringan.

Aku yakin, Ya Tuhan, Engkau telah menciptakan kami berpasang-pasangan. Jika ternyata pasanganku adalah dia, karena entah kenapa aku seyakin ini dengan dia, maka aku mohon titipkanlah perasaan yakin yang sama di dalam hatinya. Aku yakin perasan ini adalah titipan dari-Mu. Karena perasaan ini begitu indah, begitu nyata, meski tak pernah ada wujudnya. Tapi aku bisa merasakannya, maka aku mohon.. aku mohon lindungi dia, cerahkan harinya, limpahkan rezekinya, dan sayangi dia.

***

“Alena?”
Suara resepsionis memanggil namaku. Tiba giliranku untuk diwawancara. Seminggu setelah wisuda, ini merupakan panggilan wawancara pertama dari sekian banyak perusahaan yang ku lamar.

Aku bangkit berdiri, merapikan kemeja dan rok ku yang agak ketat. Menarik napas dalam, tersenyum ke arah mbak resepsionis, dan mengikuti langkahnya memasuki satu ruangan.

Ruangan itu luas dan lengang. Hanya ada satu orang, HRD yang akan mewawancarai ku kerja sedang duduk membelakangi meja. Seperti sedang menekuni pekerjaan berat karena ia menopang kepalanya sambil memijat perlahan.

“Permisi, Pak. Nona Alena” ujar resepsionis sambil mengetuk pintu pelan.
HRD itu membalikkan badan, dan seketika jantungku lagi-lagi berhenti berdegup.

Hello, Stranger.
***
Bogor, 12 Okt 2019
Terinspirasi dari kemeja dengan kancing terbuka, atau kemeja lengan panjang yang digulung sembarangan. My definition of a sexy man.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …