Skip to main content

[Fiksi] Bunga

“Kita lihat bulan, yuk? Langitnya cerah sekali malam ini” ujarmu malam itu. Aku hanya termangu, terlalu malas untuk bergerak keluar rumah.
“Untuk apa?” Sahutku tanpa melepaskan pandangan dari layar ponsel.
Kamu bangkit berdiri, membuka pintu kamar dan mengenakan jaket pink kesukaanmu.
“Ayo. Pokoknya ayo!”
Setengah hati kupaksakan duduk, berdiri dan mengikuti langkahmu.

Ada sebuah taman di dekat rumah tempat kita tinggal. Taman itu sengaja dibuat menghadap ke langit lepas, dengan hamparan kerlip lampu rumah-rumah kecil yang berdesakan. Kalau malam tampak rupawan, karena atap kusam dan genteng serampangan itu tertutupi dengan sempurna.

Kamu memang perempuan yang jarang meminta sesuatu, karena hanya hal-hal seperti ini yang kamu inginkan. Duduk memandangi bintang, bulan, dan laut. Ya.. aku tidak akan pernah lupa betapa kamu sangat mencintai laut.

Tapi pekerjaan membuatku begitu malas. Begitu lelah sampai-sampai rasanya pulang ke rumah hanyalah untuk tidur dan beristirahat. Lupa bahwa kamu sepanjang hari berada di sini, mengurusi segala keperluanku, dan jarang sekali bisa menikmati suasana dibalik dinding-dinding ini.

“Bulan sabit” ujarmu sambil tersenyum lebar. Sangat lebar. Membuatku gemas ingin mencubit pipimu yang lucu. Tapi aku sudah lupa caranya meromantisir malam, bertutur dengan indah, setiap kali ada kalimat manis yang ingin kuucapkan, selalu tertahan oleh sesuatu yang entah apa. Aku hanya tersenyum sebagai balasan gumamanmu yang lincah. Terus menerus tersenyum seolah sedang berbalasan senyum dengan bulan.

Aku menyandarkan punggung ke bangku panjang, merentangkan lengan kiriku, memaksamu untuk bersandar di dadaku. Angin malam berhembus pelan. Tanpa kata, kamu menuruti lenganku, bersandar, sambil terus bertutur dalam diam dengan sang bulan.

“Kalau.. kamu bisa memilih profesi apaa saja di dunia ini, kamu ingin jadi apa?” Tanyamu masih dalam dekapanku.
“Hmm? Maksudnya?” Imajinasimu lincah sekali sayang, sekali waktu aku tertinggal jauh di belakang. Tapi kamu selalu sabar menjelaskan.
“Iya misalnya.. kalau aku bisa memilih sebuah profesi, aku ingin jadi stargazer! Jadi aku dibayar untuk melihat bintang-bintang” katamu bersemangat.
“Kamu jadi astronom aja kalau gitu”
“Iya juga ya. Hihihi.”
“Aku tidak tahu ingin jadi apa. Paling ya begini saja” ujarku hambar. Maafkan aku, sayang. Daya imajinasiku tidak sekaya dirimu. Bahkan untuk berpikir ke sana saja aku malas. Kepalaku terlalu ribut dengan tugas-tugas kantor yang belum terselesaikan, rapat yang harus kusiapkan, belum lagi laporan evaluasi yang masih harus kuhitung setiap detilnya.

Kamu hanya tertawa pasrah. Tidak menuntut, seperti biasa. Aku mendekapmu semakin erat. Sungguh beruntung aku menemukanmu. Seorang istri, yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan baik hati. Kamu tidak pernah memintaku untuk berubah, tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak mampu aku penuhi, bahkan kamu jarang sekali meminta apapun. Sebenarnya tanpa aku pun kamu bisa menghidupi dirimu sendiri. Dengan otak secerdas itu, kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau dan menjadi wanita karir yang melejit dengan pesat. 

Tapi kamu memilih mendampingiku. Seorang laki-laki dengan ambisi sederhana, gaji tak seberapa, dan sangat tidak bisa berkata-kata. Kamu selalu ceria meski wajahku ditekuk seperti payung lipat, dan wajah ceriamu selalu mampu meluruskan kembali bibir yang tadinya murung. Seolah-olah kamu memang hadir hanya untuk membahagiakanku, dan bukan sebaliknya.

Kita duduk selama tiga puluh menit sebelum akhirnya aku menyerah. Angin dingin mulai menusuk tulangku, dan aku lebih khawatir dengan kesehatanmu.

Kulihat ada sinar kecewa dari matamu untuk sesaat, yang buru-buru kamu sembunyikan.
“Kamu pasti lelah ya. Yuk kita pulang” ajakmu dengan bersemangat. Hatiku luluh mendengarnya, tapi angin malam terkenal sangat jahat. Aku tidak ingin dia menyakitimu.

***
“Sayang..”
“Ya?”
Kita duduk di ruang tengah menikmati sore. Kamu dengan bukumu, aku dengan ponselku.
“Kamu bahagia gak sih menikah denganku?” Tanyaku setelah hening sesaat. Kamu mengernyitkan kening menatapku curiga.
“Kok kamu bertanya seperti itu?” Ujarmu sambil menutup buku.
“Yaa penasaran saja.”
“Memang aku terlihat tidak bahagia?” Suaramu mulai bergetar. Aku menangkap nada ketakutan tersembunyi di sana “apa jangan-jangan kamu tidak bahagia?”
“Bukan.. bukan itu” sergahku cepat, buru-buru meletakkan ponselku, meraih tanganmu.
“Aku bahagia. Sangat bahagia. Justru aku merasa... aku kurang membahagiakan kamu. Aku tidak romantis. Aku tidak pernah memberimu hadiah. Bahkan membelikan bunga mawar kesukaanmu saja aku tidak sempat, padahal aku tahu secinta apa kamu sama bunga”
Matamu berkaca-kaca. Aku semakin merasa bersalah.
“Aku bahagia sama kamu, mas. Dan jangan tanya kenapa karena aku juga tidak tahu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah memutuskan akan bahagia jika dengan kamu. Rupanya Allah mendengar dan mengabulkan pintaku itu. Dan cukup bagiku saat ini.” Jelasmu membuat hatiku semakin tergetar.

Apakah aku memang pantas mendapatkan perempuan se istimewa dirimu? Gumamku dalam hati. Hanya dalam hati. Dan aku benci isi kepalaku sendiri. Yang terus menerus meneriakkan pertanyaan yang tidak perlu. Kamu milikku, titik. Kamu memilihku. Harusnya aku mampu menikmati itu. Tanpa perlu bertanya dan terus bertanya.

Harusnya aku mampu berbuat lebih, membahagiakan kamu. Memberikan hadiah-hadiah kecil kesukaanmu. Harusnya...

***

Aku kembali datang sore ini. Mengusir rumput liar yang tumbuh seenaknya. Mengganti mawar merah yang kubawa minggu lalu, dengan setangkai mawar putih yang masih segar. Minggu depan ketika dia layu, akan kubawakan lagi bunga yang baru. Lagi dan lagi. Karena sebanyak apapun bunga yang aku bawakan padamu kini, tidak akan mampu membayar rasa penyesalanku. Seharusnya bunga ini kuberikan ketika kamu masih di sini. Masih menarik-narik tanganku tuk melihat bintang dan bulan. Masih memaksaku membeli tiket kapal, dan pergi berlayar demi menikmati laut dan bintang.

Kamu pergi, dan aku yakin tempatmu di sana jauh lebih indah. Mungkin kamu sudah punya rumah yang ada balkon nya, seperti yang pernah kamu bisikkan padaku dulu. ‘Mas, suatu saat nanti, kita pasti bisa membangun rumah kita sendiri. Sekarang aku lagi nabung, dari uang belanja yang kamu kasih setiap bulan dan sedikit keuntungan yang aku sisihkan dari donat yang aku jual. Supaya kita bisa punya rumah yang ada balkon nya. Biar bisa lihat bintang dan bulan tapi tidak kedinginan.’ Kamu bersemangat sekali menceritakannya, seolah tanpa beban. Aku hanya menanggapi dengan senyum, sambil mengelus rambutmu yang halus. ‘Kenapa kok tidak kedinginan?’ Hanya itu yang keluar dari mulutku. ‘Karena, balkonnya nanti ditutupi dinding kaca. Jadi kita gak perlu keluar. Tinggal buka gorden.. keliatan deh’. Ooh kayak di hotel-hotel dong’ ujarku mencoba membayangkan. Kamu tertawa.

Iya sayang, nanti kamu akan punya rumah seperti itu di sana. Satu pintaku, sisakan ruang untukku ya.. aku mencintaimu.

Aku berdiri dan menepuk-nepuk lutut yang kotor dengan tanah. Pusaramu masih segar. Dan akan selalu segar. Karena aku berjanji akan terus membawakan bunga-bunga segar untukmu. Agar siapapun tahu, bahwa yang berbaring di sini adalah perempuan yang selalu menjadi sumber semangatku, penyejuk hatiku.

***
Bogor, 4 Oktober 2019
Tulisan ini terinspirasi dari Bulan Sabit yang bertengger indah di atas atap rumah, yang lebih cerah dari biasanya, sampai-sampai satu titik serupa bintang di sebelahnya ikut bersinar dengan terang. Tapi aku tahu itu bukan bintang. Itu adalah Mars. Atau Venus. Entah yang mana yang benar. Yang jelas mereka cerah sekali malam ini. Seolah ingin melengkapi bahagia Jumatku di awal Oktober. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert