Skip to main content

A life lesson from a wrecked love life

Bismillahirrahmanirrohim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

I whisper to my self as I stepped into the house, one that I just learned from countless series of youtube videos I’ve been watching lately.

Say basmalah and salam when you stepped into the house, because then syaithan will all escape from the house and have nowhere to rest nor nothing to eat.”

I took a deep breathe while switching on the lamps. It was almost dark, and I just got home. As always. Another day, another same old story. The weekend is getting closer, and I have nothing on my to do list (for the weekend).

I put my bag on the floor, walk straight into the kitchen because I forgot to take out the trash this morning. Hmm, I thought these will be like my ex(s). Take himself out. I can imagine my face while doing all the routine: poker-squidward-kind of face with two dashes as eyes.

I lock the gate, lock the doors, and I have like.. three layers of door, before I am completely alone. Surrounded by four walls I’ve built with half of my life as payment. I’m not complaining, no of course not. Because along the step, My Lord has helped me with His abundance gifts. I have nothing, and I cant do anything if it wasn’t from Him. For that, I’m forever grateful.

BANG!!
A heavy sound from the kitchen’s roof. I jumped my heart out, almost crying. I freaked out. Maybe that was the sound of syaithan leaving the house as they are angry you didn’t provide a homestay for the night. The naughty side of mine started to freaked me out even more. I poofed her. No place for fear in this empty house. You’re stronger than you know, braver than you were before. The good side of mine started to take place.

I took another deep breathe, and starting my after office routine. (This, I dont have to elaborate because it involves some nudity).

***
I saw this video tonight. About a confession of a woman who cheated on her boyfriend. She was bluntly asked to break up because there is someone closer who can be there whenever she needs. And the defenseless boyfriend just say yes, but after that he abort his mission to propose the girl.

Sad but true, because girl can be that impatient. (So if a girl can be very patient with you, trust me, never doubt her love for you).

There’s this fine line between waiting and take action. Because Allah won’t change our fate if we don’t. Some girls are trapped into making a move or just keep on waiting. That is undoubtedly ugly, stuck between not knowing when to stop waiting or wanna keep on waiting.

To this, I dont have any advice. But one thing for sure, we must do what we can do. Waiting sucks, but if you have a good book, or a good playlist, or series of meetings, then before you know it.. boom! He’s there.

***
(Aku benci sekali ketika punya bahan bagus untuk ditulis, dan itu terbersit dengan lugas dan indah pas duduk di toilet, lalu keluar dari toilet rencana tulisan itu menguap begitu saja dan jadinya malah meracau begini).

***
Memang ya, soalan cinta tidak akan habis dibahas sepanjang masa. Mulai dari kisah Nabi Adam dan Hawa, Fatimah dan Ali, Layla dan Majnun, Habibie Ainun, masih selalu menyentuh hati untuk dibaca, didengar, dan diresapi.

Karena manusia hidup butuh cinta.
Karena Tuhan titipkan cinta agar manusia merasa ‘hidup’ dan memiliki gairah untuk mengejar apapun yang telah ditetapkan untuknya.

Makanya semandiri apapun seseorang, tetap tidak akan pakai BNI.

Kriuk.

Makanya semandiri apapun seseorang, tidak akan pernah mampu hidup sendirian. Sudah begitu fitrahnya.

***
Saya rada geli sih kalau ingat jaman-jaman sekolah sampai kuliah dulu. Berita penangkapan seorang dosen yang dulu begitu menjadi idola saya membuat terkenang-kenang lagi dengan masa-masa di kampus.

Masa ketika kehadiran seorang laki-laki itu sebatas karena gue butuh. Butuh untuk didengar, untuk ditemani makan, temani belanja, antar jemput kuliah, dan semua ke-aku-an lainnya. Pokoknya udah kayak asisten merangkap babu deh punya pacar tuh.

Dulu, tidak pernah terpikir sama sekali di benak saya bahwa saya akan melayani seorang laki-laki. Ingin pun tidak. Seolah sayalah pusat tata surya.

Dan keinginan yang ada di benak saya saat ini, tentang hadirnya seorang laki-laki, justru berbanding terbalik dengan dulu. Justru sekarang ini saya ingin punya pasangan bukan supaya ada yang memeluk saya saat saya lelah, tetapi agar saya bisa memeluknya ketika dia hampir menyerah. Bukan supaya saya ada yang antar jemput kemana-mana, tapi supaya ada orang yang bisa saya perhatikan asupan nutrisi dan gizinya setiap hari agar dia bisa kemana pun yang dia mau.

Klise.

Tapi memang begitulah yang ada di benak saya setiap kali terlintas keinginan untuk menikah. Makanya tiap kali muncul perasaan itu, saya langsung buru-buru menikmati waktu saya: nonton, jajan, nonton lagi, jajan, baca buku, twitteran.. karena saya tahu, kalau dia sudah ‘datang’ nanti, seluruh waktu saya akan tercurah untuk merawat dan mendampinginya sampai saya mati. 

Rasanya indah aja gitu bisa seberguna itu buat orang lain, apalagi suami. Kebayang karunia dan ampunan dari Allah seberlimpah apa nanti. Bisa masuk surga dari pintu manapun yang disuka. Aih :’)

Jadi sudah tidak lagi ada angan-angan shallow semacam pingin terus ada yang mendengarkan keluhan, karena ada Allah Yang Maha Mendengar. Justru inginnya ada keluhan untuk didengar, apalagi kalau dia butuh pendapat kita, mendengar opini kita, duh itu rasanya jadi orang paling cerdas senegara.

Because I admire people’s mind. Dan saya ingin orang yang bisa saya kagumi jalan pikirnya, sebagaimana dia mengagumi jalan pikiran saya.

Susah bo cari orang yang kayak gitu, kayak jarum ditumpukan jerami.

***
Makanya saya tuliskan ini semua di blog ini. Semua. Tanpa ada yang ditutup-tutupi, tanpa ada yang dibumbu-bumbui. All truth, no lies. Biar apa? Biar menghemat waktu. Kalau memang dia penasaran dengan saya, silakan baca jalan pikiran saya. Disini saya sudah 50% naked. Kalau cocok lanjut, tidak cocok silakan cari orang lain. 30% nya kalau dia melihat cara saya berinteraksi dengan inner circle: orang kantor, teman kampus, teman SMA, dan 20% nya lagi.. well, tahulah ya di mana.

***
Saya tergerak untuk menulis karena mbak di video tadi mutusin pacarnya gara2 ada temen kampusnya yang dewasa, selalu ada, nganter kemana-mana.. padahal si pacarnya ini sudah siapkan surprise lamaran buat dia.

Padahal nih next levelnya; orang yang selalu ada bisa tergantikan dengan orang yang selalu asik. On and on, like a labyrinth. Teruuus aja ada orang yang lebih baik, lebih bagus, lebih mulus di sepanjang jalan.

Jangan tanya saya tahu darimana. Udah pernah ngelewatin itu semua!

Untuk itu pada akhirnya yang saya mau bukan lagi orang asik, atau selalu ada, atau dewasa, atau bisa anter kemana-mana.
Karena harga sebuah komitmen itu adalah two way tickets. Dua arah dan harus bisa saling jaga. Selama saya sendiri belum bisa menjaga komitmen saya, maka jangan harap ada orang yang bisa berkomitmen untuk saya. Begitu saya sadar tentang itu, memilih menunggu atau mengambil langkah bukan lagi menjadi kegamangan tersendiri. Karena belajar berkomitmen untuk diri sendiri saja sudah sangat menguras tenaga dan waktu.

***
Bogor, 3 Oktober 2019
Padahal tadinya bukan ini yang mau saya tulis. Ditengah jalan lupa apa yang mau ditulis. Gitu tuh ciri orang yang masih setengah-setengah dalam belajar berkomitmen.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …