Skip to main content

So this is the weird dream was all about

Pantas saja tadi malam tiba-tiba saya ingin menuliskan tulisan I remember. Alih-alih menuangkan pikiran tentang ketidak sinkronan perjuangan adik-adik mahasiswa, saya justru menye-menye mengenang sang mantan. Sebelum tertidur dan bermimpi aneh sekali. Mimpi yg tidak bisa saya katakan sebagai mimpi buruk, tapi tidak baik juga. Aneh saja.

Rupanya sore ini sebuah gambar melintas di halaman kenangan facebook. Sebuah penanda berakhirnya hubungan kami. Sebetulnya saya lupa tanggal berapa persisnya kami berpisah, padahal biasanya saya ingat semua tanggal. Yang saya ingat, saya sampaikan kalimat pisah itu di sana, di sebuah daerah di Kalimantan Tengah, malam-malam berdiri di depan rumah tempat kami menginap, dengan sinyal yang terbata-bata, meminta kami menyudahi hubungan ini.

Entah apa yang merasuki saya malam itu, yang jelas saya sudah tidak tahan lagi. Meski itu bukan kali pertama saya mengajukan pisah, tapi itu adalah satu-satunya ajuan yang tidak pernah saya tarik lagi. Saya tidak peduli bahkan jika barang-barang saya ada yang masih dia simpan. Saya tidak berminat memintanya kembali. Pun dia juga sama. Detik itu juga kami berpisah, dan tidak pernah ada komunikasi lagi. Sepatah katapun. (Kecuali waktu saya dirawat di rumah sakit), dia mencoba menghubungi tapi tidak saya respon. Ya iyalah susah mau nge-chat, orang tangan diinfus. Kecuali niat nge-chat sih pasti saya balas.

Saya bersyukur malam itu saya mengajukan pisah. Memutuskan untuk memulai hari baru, dan mendengar lagunya Monita Tahalea setiap pagi.

Matahari, sudah di ujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama,

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan lahan menghilang 
dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah
Pergi
Kau pun tak lagi kembali

Sejak hari itu saya membulatkan tekad untuk kuliah lagi. Cita-cita yang memang sedari awal saya niatkan, tapi belum sampai saya azzamkan.

Sepulang dari sana, ikutlah saya ke sebuah pameran pendidikan terbesar, mengantri panjang seperti sedang menuju pintu surga. Namun setelah berhasil masuk.. jeng jeng..

Rupanya kampus yang saya pegang erat memiliki kriteria lain yang membuat saya ilfil se ilfil nya. Batal. Rencana kuliah batal. Pacar pun tak punya. Saya tidak punya rencana cadangan lain, selain menjalani pekerjaan yang kepalang saya terima.

Bergelut di sana hingga tiba-tiba..

Tiga tahun sudah berlalu.
Tanpa ada tanda usaha mencari target kampus pengganti, atau bahkan sekedar berbekal diri. Meski sempat melamar di satu beasiswa, saya sendiri tidak begitu kaget begitu mendapat surat penolakan. Toh effort nya biasa-biasa saja.

Apalagi pacar. Yang mau menggantikan datang bergantian, tapi tidak ada yang serius benar-benar ingin menetap. Ketika saya tutup semua pintu dan jendela, membangun tembok yang tinggi sekali, semua menyerah dan tidak ada yang berusaha menerobos masuk.

Ya sudah apa mau dikata.
Saya berusaha santai sambil terus menerus berusaha mendekati Sang Pencipta. Sambil sesekali menikmati cemilan kering yang saya tumpuk di sudut rumah, menyeruput minuman kemasan yang saya tumpuk di dalam kulkas. Seperti yang saya cita-citakan waktu kecil, ingin menjadikan rumah seperti minimarket, di mana semua cemilan dan minuman tersedia tinggal comot.

Sesekali memang saya mendengar suara di kepala saya berkata do something, Mim. Allah tidak akan mengubah nasib mu kalau bukan kamu yang ubah. Lantas saya akan kembali bersemangat, sebelum akhirnya hilang arah lagi. On and on. Pun mimpi saya semalam juga seperti ingin menyuruh saya pergi dari sini, tapi kaki saya terikat rantai panjang, yang kuncinya saya pegang.

Kalau kamu juga sedang terjebak dalam situasi yang sama, bertarung antara memperjuangkan mimpimu atau mengemban tugasmu, maka mesti kita sama-sama tanamkan di pikiran bahwa tidak semua hal menjadi tanggung jawab kita.

Mungkin.
Karena saya masih sering merasa demikian.
Ada beban-beban moriil yang jika saya tinggalkan membuat saya merasa amat bersalah. Padahal tidak berdosa juga jika saya tinggalkan.

Menulis sebagai regulator emosi, adalah cara terbaik untuk bicara dengan diri sendiri.
Dengan begini saya jadi ingat untuk bangkit dan melakukan sesuatu untuk mimpi.
Tentu saja..
Agar bisa minggat dari sini.
Mungkiin.. dengan begitu saya jadi bisa tinggal di kota yang masih menjanjikan bintang?

***

Bogor, 29 Sept 2019
Petrichor is in the air. And I cant help but to sit in front of the house, thanking my Lord for giving us the rain that we’ve longed for

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …