Skip to main content

Reset Button [Fiksi]

"You never loved me," dia berkata dengan dingin. Suaranya tenang, seolah tidak ada emosi di sana.
"Kenapa kamu bilang begitu?" nadanya tidak terima.
"Because you never loved me. I'm only good for your ego. Aku cukup membanggakan untuk kamu tunjukkan ke teman-teman dan keluargamu. Prestasiku, bisnisku, kreasiku, semua membuatmu bangga bisa menaklukkan perempuan seperti aku."
"Dengan cara apa aku harus meyakinkan kamu? Sudah lima tahun kita menikah dan.."
"And all you talk about is to make money!!" suaranya meninggi, nyaris menggebrak meja.

Pasangan itu duduk di sudut cafe, dengan musik mengalun merdu. Mestinya menjadi latar romantis sebuah adegan percintaan, ketika sepasang suami istri dengan fisik yang nyaris sempurna dan saling melengkapi satu sama lain, duduk berseberangan menikmati cokelat hangat dan caramel latte.

Pelayan datang membawakan sepiring penuh bola-bola ubi, meletakkan piring dengan canggung, lalu berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun. Aura dingin di meja itu membuatnya takut berlama-lama.

Senandika hanya menatap bola-bola ubi kesukaannya dengan tatapan dingin. Tidak berselera sama sekali untuk menyentuh apalagi menyantapnya. Randy meremas jari, melihat polah istrinya yang kesekian kali. Biasanya Senandika hanya akan bersikap seperti ini jika sedang ada masalah dengan mitranya, atau penjualan sedang anjlok, atau masalah-masalah kerjaan lain yang bisa dia tenangkan dengan memeluknya erat. Tapi kali ini, jangankan dipeluk disentuh pun dia menepis.

"Seriously, what did I do wrong?" Randy benar-benar kehabisan alasan untuk diam. Sejenak hening tadi digunakannya untuk mengingat-ingat kesalahan yang dia perbuat selama ini.

"Nothing. Tapi itu yang aku rasakan, bahwa kamu tidak pernah mencintaiku. Tidak sejak awal pernikahan kita."

"Tapi apa yang membuatmu berpikir begitu?"

Mata Senandika memerah mendengar pertanyaan tak bersalah itu. Dia pikir aku bodoh, batinnya geram. Diraihnya ponsel yang sedari tadi ikut membeku di atas meja, lalu disodorkan dengan kasar ke arah Randy.

"Di gallery itu, ada bukti obrolan mu dengan teman sekantormu - siapa namanya? Julie? - dan kau, sedikitpun selama lima tahun ini, kau tidak pernah berkata semanis itu kepadaku. Setulus itu."

Randy menghela napas dalam. Cemburu, rupanya. Harus dia akui, sebagai laki-laki masih sulit baginya untuk hidup hanya dengan satu perempuan. Tapi itu tidak berarti cintanya pada Senandika berkurang. Dia mampu mencintai lebih dari satu perempuan bersamaan, dengan tanpa mengurangi kadar cintanya untuk satu sama lain.

Julie, datang membawa perasaan baru. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan jika sedang bersama dengan Senandika. Julie periang, perhatian, dan selalu bahagia dengan apapun yang Randy berikan. Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes, dan tidak pernah bertanya jika Randy memintanya melakukan apapun. Ah, sweet Julie. 

"Alright, alright.." Randy mulai mencoba meluruskan situasi tanpa membaca gallery yang berisi potongan percakapannya dengan Julie "she's my coworker, okay. And she needs me that time. Tidak lebih. Hanya sebatas itu saja. Dia butuh bantuanku, dan aku ingin menolongnya."

"Bullshit!" Senandika benar-benar meneteskan air mata kali ini "jangan pikir aku tidak tahu cinta ketika ia berkata. Jangan pikir aku tidak bisa membaca air wajahmu ketika namanya disebut. Jangan pikir aku tidak tahu, bagaimana perempuan itu memperlakukanmu dan apa yang kamu rasakan terhadapnya. Kita sudah saling kenal selama delapan tahun, Rand! Cukup untuk aku tahu how does she make you feel!" suaranya bergetar menahan marah.

"Aku ingin pisah" Senandika melanjutkan "sebaiknya kali ini kita bawa ini ke pengadilan. Biar hakim yang memutuskan, apakah pernikahan kita pantas untuk diselamatkan atau tidak."

Senandika meraih cepat ponselnya yang masih mematung di hadapan Randy, menyambar tas mungil dan kunci mobil.

"Nan! Nan!" Randy mencoba mengejar. Beberapa pasang mata menoleh menyaksikan pasangan bertubuh semampai itu berkejaran hingga ke parkiran. Senandika lebih gesit dari Randy, dengan cepat membuka pintu mobil dan menguncinya dari dalam.

"Nan! Nan!" Randy mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan cepat, Senandika tidak peduli. Dinyalakannya mesin mobil, bergegas meninggalkan area parkir.

Damn! Randy merutuk dalam hati.

***

Biasanya sepagi ini anak-anak sekolah ramai melintasi toko roti kecil milik Senandika. Toko roti yang ia buka setahun setelah keputusan perceraiannya dengan Randy dikabulkan oleh pengadilan. Toko roti manis di sudut Kota Tua. Senandika tidak pernah menyesal memilih bercerai, walau itu artinya bisnis yang sudah ia rintis selama lima tahun terakhir harus berakhir menjadi milik Randy dan dia mendapat kompensasi sebagai gantinya. Bagi Senandika, inilah impian masa kecilnya. Ketika ia dan sang Ayah pertama kali mengunjungi kota ini.

"Kota ini seperti Nenek, Nan.." ayahnya berujar suatu pagi, saat mereka hendak mengunjungi bangunan peninggalan sejarah dengan naik becak. Senandika hanya menatap ayahnya dengan tatapan bingung, "maksud Ayah, kota ini seperti seorang Nenek yang seolah selalu siap menyambut cucu-cucunya yang lelah dari perantauan. Kota ini seperti tempat untuk pulang, padahal Ayah tidak pernah benar-benar tinggal di sini." 

"Tapii.. Eyang buyut kan dari sini, Yah?"  tanya Senandika mengenang cerita tentang Eyang Buyut yang belum pernah bertemu dengannya.

"Iya. Tapi Eyang buyut juga merantau sejak usianya masih sangat muda. Menikah dengan Nenek buyutmu di tanah Sunda, lantas tidak pernah kembali lagi menjejakkan kakinya ke kota ini. Hanya Ayah yang selalu merasa ada bagian dari diri Ayah yang berasal dari sini. Walau Ayah sendiri tak yakin di mana." Ucapan Ayahnya membuat Senandika semakin bingung, dahinya mengerucut lucu, lantas kemudian mengangkat bahu. Terserahlah, toh nanti dia akan mengerti sendiri.

"Pagiii, Bu Nandi" sapa Anya salah seorang karyawan pramusaji yang dia rekrut sejak awal toko ini berdiri.

"Pagi, Nya. Ceria sekali rupanya," Senandika tersenyum, memegangi halaman buku yang sedari tadi ia baca sambil sesekali memperhatikan anak sekolah yang lalu lalang di depan tokonya.

"Another morning, another beginning.." ujar Anya ceria membentangkan tangannya. "hahha! Aku bersih-bersih dulu ya" Anya meletakkan tas dan jaketnya, dan menghilang dibalik pintu dapur. Senandika hanya tersenyum sambil geleng-geleng. Anak muda yang penuh antusiasme, batinnya lembut.

Setidaknya setelah perceraian itu, dia kini bisa membantu dua orang bangkit dari keterpurukan. Anya, yang ditinggal mati oleh tunangannya, dan Bu Desi yang harus bekerja sambil merawat suaminya yang sakit parah sekaligus membiayai dua anaknya yang masih kuliah dan SMA. Senandika seperti magnet bagi para perempuan dengan daya juang yang kuat, dia bertemu Anya dalam perjalanan kereta dari Jakarta, dan bertemu Bu Desi di salah satu pameran yang ia hadiri untuk membunuh waktu.

Mungkin begitu cara Tuhan mempertemukan jiwa-jiwa yang sedang saling membutuhkan. Karena sejatinya, Ruh ini tahu jalannya, dia tahu hendak ke mana dan dia tahu siapa yang dia inginkan. Dia tahu siapa yang sedang mengalami hal yang sama dengannya, siapa yang bisa mengertinya, dan siapa yang bisa membantunya. Tapi seringkali otak dan hati berkonspirasi untuk membungkamnya, tidak mau mendengarkan suaranya, dan mengacuhkan apa-apa yang dia tunjuki. Sehingga lama kelamaan dia menjadi padam, lantas mati. Satu tahun proses perceraiannya dengan Randy, Senandika banyak belajar untuk membersihkan kembali koneksinya dengan Ruh nya sendiri. Yakin pada suatu pilihan tanpa alasan, hanya karena dia merasa yakin itu adalah pilihan yang benar. Dan sejauh ini, Senandika belum pernah dikecewakan dengan keputusan-keputusan yang dia ambil dengan cara itu.

Senandika menutup buku yang tidak benar-benar dia baca karena pikirannya sibuk melanglang buana. Dia menarik napas dalam, melempar pandangan ke langit-langit dengan dekorasi khas anak muda. Kutipan-kutipan di dinding, perabot yang ditata sedemikian rupa, sungguh dia tidak pernah membayangkan bisa benar-benar membuka toko roti di kota ini.

"Ayah.. ayah kok bisa menyamakan kota ini dengan nenek-nenek sih? Memangnya kota ini ber-uban?" Tanya Senandika, saat mereka menyusuri bangunan tua yang terkenal dengan pintunya yang banyak. Usianya baru delapan tahun saat itu.

"Bukan nenek-nenek, tapi seorang Nenek. Beda loh, sayang." Ujar Ayahnya gemas sambil mengacak-acak rambut putri sulungnya itu. "itu adalah cara Ayah untuk mengungkapkan sebuah tempat untuk pulang. Kota yang menjadi tempat istirahat, bagi mereka-mereka yang sudah lelah dengan hiruk pikuk Ibu Kota. Ayah sering kesini dulu. Dan disini juga Ayah bertemu dengan almarhumah Ibumu," Ayah terlihat berusaha tersenyum ketika nama Ibu  disebut. Senandika tertawa.

"Oooh jadii, Ayah suka pulang ke sini, karena ingat Ibu yaaa.." dia belum mengerti artinya ditinggal pergi "Ibu pasti senang kalau tahu Ayah suka kesini. Berartii, Ayah ingat terus sama Ibu. Ibu pasti sedih kalau dilupakan, jadii kalau Ayah ingat terus kan Ibu bahagia di sana" ujarnya menggemaskan. Ayah memeluk Senandika erat.

***

Tempat pulang, Senandika membatin. Seharian ini pengunjung tidak terlalu ramai. Sampai sore hanya ada satu-dua kursi yang bergantian diisi. Senandika mafhum, ini bukan musim liburan. Seorang mahasiswi yang perlahan mulai menjadi teman bagi Senandika sudah pamit pulang. Dia rajin menghabiskan berjam-jam waktunya di toko roti ini. Memesan caramel latte dan sepotong dua potong roti, untuk memanfaatkan koneksi internet gratis. Senandika tidak keberatan, bahkan belakangan mereka menjadi akrab.

Senandika masih belum bisa merumuskan tujuan yang sedari dulu ingin dia temukan. Tentang mengapa dia ditugaskan turun ke Bumi, mengapa dia lah yang dipilih untuk kembali ke Kota ini. Kenapa langkahnya begitu mantap meminjam dana tambahan dari bank, membuka Toko Roti berwarna putih di sudut Kota Tua ini. Yang dia tahu kini, dia semakin mengenal dirinya sendiri. Dia tahu apa yang dia inginkan, dan dia tahu apa yang membuatnya bahagia. Menghabiskan lima tahun hidup bersama seseorang yang terus menerus ingin dia menjadi seperti orang lain telah membuatnya kehabisan tenaga. Dia hilang arah. Dia tidak kenal lagi siapa dirinya.

Kini, semua itu telah dia lalui. Seperti menekan reset button, dan semua dimulai dari awal lagi. Senandika melangkah keluar toko, mengambil rute yang biasa dia lalui jika hendak membeli bahan roti. Melewati bangunan-bangunan yang telah berdiri ratusan tahun lamanya, yang di dalamnya menyimpan gurat asa dan kenangan sesiapapun tokoh yang pernah menuliskan namanya di kota ini.

Randy memang sosok yang nyaris sempurna. Dia baik dan sangat perhatian. Dia lebih bisa memasakn ketimbang Senandika, dan lebih pintar dalam segala hal. Tapi bukan itu yang Senandika butuh dan inginkan. Dia ingin merasa dibutuhkan, dia ingin menjadi yang lebih unggul dalam memenuhi kebutuhan suaminya. Dia ingin merasa bisa melayani suami dengan baik, dan merasa bisa diandalkan untuk meredakan emosi Randy. Selama ini yang terjadi justru kebalikannya. Senandika ingin menjadi yang paling lihai dalam urusan dapur, sehingga suaminya puas dengan apapun yang dia masak untuknya. Dia ingin.. ah.. sudahlah. Dulu Senandika belum tahu bagaimana caranya bertanya pada dan mempercayai diri sendiri. Hal paling penting yang ia ketahui kini, dan dia bertekad tuk menjadikan ini sebagai pelajaran pertama untuk diajarkan pada anaknya nanti.

Ya, inilah reset button yang dia cari. Setelah semua ini dimulai kembali, dia tahu tujuan itu akan datang kepadanya. My soul will lead the way, to find my purpose here on Earth. 

***

Mengenang perjalanan ke Semarang, yang ternyata sudah empat tahun lalu lamanya. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …