Skip to main content

Penurut

Sejak dulu, kriteria yg saya dambakan hanya satu: orang yang bisa saya turuti.

Saya tidak pernah menjadi anak yang penurut. Menjadi anak sulung perempuan juga berarti menjadi tuan putri dalam keluarga. Semua yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tumbuhlah saya dengan menyandang stubborn sebagai nama tengah. Tidak sahabat, tidak teman, bahkan tidak orang tua bisa membuat saya benar-benar menuruti sebuah perintah tanpa banyak bertanya.

Sebagai seorang remaja SMA karakter saya kacau sekali. Ditekan dengan beragam peraturan justru membuat jiwa liar saya berontak. Peraturan sana sini saya langgar. Menjalani hukuman setiap minggu menjadi wajar. Terkenal di kalangan para pengajar. Saya tahu sekarang betapa bodohnya tindakan saya dulu.

Tapi itu semua saya lakukan karena satu hal: saya merindukan sosok seorang pemimpin. Sosok yang mestinya saya dapatkan dari ayah saya, tapi gagal karena saya kelewat keras kepala sehingga ayah saya cenderung menuruti semua kemauan saya. Saya rindu dipimpin. Saya rindu diatur-atur. Tapi tidak semua orang bisa mengatur saya. Tidak semua orang saya percaya untuk memberi arahan pada saya.

Saya tahu itu terdengar agak cocky. Dalam beberapa kasus, sering saya berdebat dengan laki-laki yang tengah mendekat. Hal-hal sepele dan tidak berguna, tapi sulit sekali untuk saya menuruti saja apa pendapat mereka. Saya selalu punya pikiran sendiri, dan tidak pernah bisa mengikuti jalan pikiran mereka.

Akhirnya satu per satu mereka mundur. Sampai malam ini terulang kembali. Kali ini saya yang memilih mundur, agar bisa berpikir. Apa memang saya yang terlalu sombong? Ataukah memang cara mereka menyampaikan yang kurang tepat?

Bukan berarti saya tidak bisa menuruti orang sama sekali. Ada beberapa orang yang bisa saya turuti tanpa banyak bertanya. Ada, walau sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Jari tangan kanan. Telunjuk dan jari tengah.

Sedikit sekali, tapi dengan orang-orang itu saya bisa manut betul-betul manut. Entah sihir apa yang bisa membuat saya begitu patuh, saya pun tak tahu dan tak ingin menduga.

Orang jenis itulah yang kemudian saya inginkan tuk menjadi pemimpin bagi kekeras kepalaan ini. Kenapa? Karena saya sadar akan kemampuan saya dalam mengambil keputusan. Kadang gegabah, kadang tidak menyeluruh. Dalam perjalanan panjan g seperti ‘hidup’ ya pasti kita butuhlah ya seorang pemimpin. Seorang navigator yang mengarahkan jalan. Seorang yang bisa kita tanyai pendapatnya dan kita percaya dengan keputusannya. Sungguh saya rindu.

Saya rindu bertanya. Saya rindu meminta ijin. Saya rindu dilarang.

Tapi malam ini, ketika ada yang mencoba mengatakan pada saya sesuatu yang harus saya lakukan, darah saya naik sampai ke ubun-ubun. Dont you dare to tell me what I can or cant do. Rasanya ingin membalas dengan seperti itu. Tapi saya memilih diam. Dia tidak salah. Satu-satunya kesalahan yang ada adalah karena dia peduli, itu saja. Dan saya terlalu keras kepala.

Saya ingin menjadi penurut, itu saja.
Menurut tanpa gundah.
Menurut tanpa tanya.
Mudah.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …