Skip to main content

Nada [Fiksi]

"Aku merindu kamu. Di sudut kafe, di pojok kamar, di jalanan, dan di ruang-ruang kantor. Tidak sedetik pun pikiran tentangmu lepas dari sini. Isi kepala yang dipenuhi bebayangmu sudah menjadi santapan sehari-hari. Semula aku pikir itu bahagia, lambat laun itu membuat sesak. Terlebih jika kubayangkan kau tengah bermesraan dengan orang lain kini. Atau lebih parah, dan ini yang ku amit-amitkan selalu di dalam hati; melihatmu berdiri di pelaminan bersama orang lain. Aku tidak mau. Sungguh aku memohon pada Tuhan, aku tidak mau. Pun kalau itu terjadi, aku ingin diberi kekuatan yang berlipat ganda dibanding dengan yang kumiliki saat ini. Aku tidak mau. Aku takut.

Tapi nampaknya Tuhan pun masih belum ingin memberikanmu untukku, masih ingin memberikan ruang sendiri bagiku dan bagimu, agar kita bisa saling memenuhi diri masing-masing, agar menjadi utuh sebelum bersatu. Padahal aku ingin.. ingin sekali.

Ingin selalu duduk di sampingmu, melihatmu mengguratkan garis demi garis dalam layar yang sedang kau kerjakan itu. Mungkin sesekali menyuapi dengan potongan-potongan buah kesukaanmu, atau sekedar menyeduh coklat hangat untukmu. Aku tahu apa makanan kesukaanmu, dan aku habiskan waktuku mempelajari resepnya. Aku mencintaimu, jauh sebelum aku mencintai diriku sendiri.

Mengenalmu membuatku belajar menemukan diriku. Mencintaimu membuatku belajar rasanya mencintai diriku. Kamu, membawaku pada diriku sendiri. Kamu, dan sejumlah misteri yang selalu kau bawa kesana kemari. Bisakah kau berhenti, melintas di dalam pikiranku? Tolonglah, aku lelah."

Nada menutup layar laptopnya pelan. Menarik napas panjang, sebelum akhirnya memutuskan untuk berkemas. Raj yang berjanji akan menemuinya tidak kunjung datang. Nada tidak mengerti, lelaki India itu tidak pernah berhenti mengingkari janjinya. Tapi yang lebih Nada tidak mengerti lagi adalah kenapa ia terus menerus mempercayainya.

Cerita fiksi yang tengah ia tulis belum setengah jalan, namun ia sudah bosan duduk menunggu di kafe yang sama sejak pagi. Sudah tiga gelas kopi dihabiskan, dan itu cukup membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Nada melangkah gontai keluar kafe. 

“Nada!” panggil seseorang dari kejauhan. Raj. Nada mendengus kesal, wajahnya ditekuk. Raj berlari-lari kecil menuju Nada. 
You’re late!” 
I’m terribly sorry, sweetie. I was in a meeting, and..” 
Okay, enough. This isn’t your first time, and I’m sick of your excuses. Now if you would excuse me,” Nada mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk meninggalkan Raj, laki-laki India yang ketampanannya melebihi Sahruh Khan. Nada tahu titik lemahnya, yaitu jika Raj sudah meminta maaf, memelas dengan wajahnya yang manis itu. Tapi tidak untuk kali ini, dan kali esok, dan seterusnya. Nada ingin berhenti. Menunggui Raj, menelan mentah-mentah alasannya tiap kali ingkar, Nada ingin menghentikan itu semua. Dia bukan opsi, dia bukan pilihan kedua yang bisa ditemui jika Raj sedang bosan dan senggang, dan tidak tahu bagaimana menghabiskan waktunya. Biar bagaimanapun, Nada ingin dinomor satukan. Ingin menjadi yang pertama.

Honey, please.. listen to me.”
“No! You listen!” Nada melepas genggaman tangan Raj dengan kasar, berdiri menghadapnya di trotoar jalan yang dilalui orang “I’m done, okay. I’m done waiting for you, for hours and hear nothing from you but excuses. I’m done with your sweet words which you never keep. I’m done!” 

Nada melangkah menjauhi Raj yang dengan cepat meraih tangannya kembali. Ditariknya tubuh Nada mendekat, sampai jarak mereka tinggal satu langkah. Raj memamerkan wajah memelasnya yang ia tahu tidak akan pernah bisa ditolak oleh Nada. Namun di luar dugaan, Nada justru menghempaskan lengan Raj sekuat tenaga, membalikkan badan, dan melangkah menjauh.

Nada! Please!” Nada tidak menggubris. Dia terus berjalan. Dari belakang, dia tahu Raj masih mengejar.
Nada, please. Wait, I can explain.”
“With what? meeting?”
“Actually, it’s my wife..”
Raj berkata pelan. Telinga Nada makin panas mendengarnya “she’s in the hospital, and I have to wait until the doctor came in..” 
“You said you don’t love her!” 
I do.. I mean.. I don’t..” Raj gelagapan. Nada semakin kesal.
Enough! I’m sick of being your number two. I wanna be your number one, once and for all. Like what you promised me. Can you do that? Because if you can’t.. never call my name ever again!”


***

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert