Skip to main content

Ini semua bermula dari sebuah jerawat

Satu bintik kecil di dahi, satu bintik kecil di lekukan hidung, dan beberapa bintik kecil bergerombol di garis rambut. Jerawat yang biasanya tidak ada, kini muncul tiba-tiba. Heran, pikirku geram. Sekali muncul kenapa banyak sekali.. kecil-kecil dan mengganggu. Memang tidak terlalu terlihat di bawah make up, tapi hadirnya yang bisa kurasakan cukup bisa membuat jariku sulit melepaskannya.

Memencet jerawat adalah favoritku.
Dan aku tahu itu dilarang.
Aku tahu semua yang menjadi kesukaanku selalu terlarang.

Hmm..
Aku mencoba berpikir muasal si jerawat-jerawat kecil ini. Muncul tiba-tiba dan langsung bergerombol.. boleh jadi karna faktor polusi. Terpapar udara Jakarta seharian penuh, apalagi di ruang terbuka, memang selalu membuatku sakit keesokan harinya. Belakangan baru kutahu, tingkat polusi di sana tinggi sekali.

Sepuluh tahun lalu saat kali pertama ku kembali ke pulau ini, dijemput oleh Om ku dari bandara, dalam hening mobil aku bergumam.. langitnya coklat. Karena aku sedang mencocokkan fakta dengan buku yang tengah aku baca, seputaran climate change dan pemanasan global.

Kemarin bukan hanya langit coklat yang kulihat, tetapi keruh seperti diliputi asap. Tidak ada sinar matahari yang menembus, kota ini bagai kota yang sedang sekarat.

Kembali ke cermin di mana aku sedang mengamati jerawat-jerawat kecilku..
Mungkinkah.. mereka ini tanda?
Tanda bahwa aku memang merindukan suasana desa? Suasana tenang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan, tapi tidak terlampau sepi?

Mungkin aku memang ingin segera pergi dari sini.
Tapi tunggu dulu..
Untuk pindah ke desa.. akupun tidak bisa tinggal dalam rumah kayu beratap daun rumbia.
Tidak juga di rumah batu tetapi campuran pasir nya tidak seimbang, sehingga dindingnya retak-retak.
Aku tidak masalah tinggal di rumah kecil, asal setiap sudut punya makna. Setiap warna, setiap bentuk, semua ada rasa yang diwakili.

Meski begitu, aku tetap ingin pergi dari sini.
Ke kota lain yang udaranya bersih, langitnya biru, dan airnya melimpah ruah.
Membangun rumah kecilku sendiri, dengan warna yang tidak salah beli cat lagi.

Aku ingin..
Ya Tuhan.. akankah Engkau izinkan?

***
Bogor, 26 September 2019
Seharusnya matikan lampu itu mulai dari luar dulu, baru ke kamar. Kalau dari kamar dulu, begitu lampu terakhir di matikan, rawan kejedug pintu pas mau balik lagi ke kamar. Karena gelap. Apalagi kalau kamu tidak suka pasang lampu tidur. Ga nyambung.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …