Skip to main content

Ini alasan kenapa sendiri lebih baik

Jadi perempuan itu susah ya. Apalagi kalau sudah semakin berumur, dan kawan dekat sudah berkeluarga sedangkan dirinya belum.

Apalagi nih, kalau dia punya perasaan terhadap seseorang. Apalagii, kalau seseorang itu juga jadi satu-satunya orang yang paling mengisi hari-harinya, selalu ada jika dibutuhkan, dan seolah-olah memberi perhatian lebih.

Mau abai, takut dianggap tidak punya hati.
Mau peduli, takut salah sangka sehingga jadi terlanjur berharap.. padahal si laki-laki merasa tidak pernah memberi harapan.

Susah memang, apalagi jika berhadapan dengan laki-laki yang ramah.. ramah dalam artian sering ajak bercanda, sering nge chat, sering nelpon tiba-tiba, tapi ternyata dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Kan si perempuan yg tadinya biasa saja, begitu sering ditanya-tanya tentang kesehariannya, begitu si laki-laki itu mengirimi kalimat sederhana tapi manis semisal hati-hati ya pulangnya, atau jangan kerja terus nanti cepet tua, atau istirahat dong, yang semacam-macam itu, lalu perasaan yang tadinya biasa saja jadi mulai bertanya-tanya, dan disitulah adegan berbahaya mulai berdatangan.

Jadi perempuan itu susah. Karena ketika diperlakukan dengan sebegitu manis, dia tidak berani untuk sekedar bertanya apa maksud ini semua.. atau minimal.. bertanya apakah si laki-laki sudah punya seseorang lain di hatinya, (atau di agendanya). Tidak. Perempuan tidak berani bertanya. Dia takut dianggap salah sangka. Dia takut dianggap berpikir terlalu jauh. Jadilah dia diam. Sampai akhirnya sepucuk undangan sampai di mejanya.

Hhh...
Ribet memang.
Bahkan untuk bertanya bahwa dia sudah punya pasangan saja kita tidak berani.

Makanya untuk siapapun yang kelak akan membesarkan anak laki-laki, tanamkan di kepala mereka, untuk selalu bersikap dan tampil dengan jujur. Mean what you say. Jangan bilang iya tapi dalam hati ingkar. Bilang mau datang ternyata batal tanpa konfirmasi. Saya paling benci jenis laki-laki macam itu. Dan bersikaplah dengan jujur. Lugas menyimbolkan jika memang sudah punya tambatan hati, agar jangan ada perempuan lain yang terlanjur berharap oleh karena dianya yang hanya berusaha untuk bersikap ramah. Pun jika belum, sampaikan tanpa malu. Untuk apa ditutup-tutupi karena toh akhirnya akan mencari pasangan juga. Kalau memang belum punya pasangan tapi sedang tidak ingin mencari pasangan, juga sampaikan. Ada banyak media termasuk salah satunya.. deklarasi.

Sudahlah.
Saya semakin sebal jika membahas karakter laki-laki yang banyak ragamnya tapi sebenarnya berputar di situ-situ saja.

Belum lagi mereka yang suka nge chat perempuan single tengah malam, karena si laki-laki itu sedang kesepian.

Hmmmh.
Mengingat ini saya mengetik lebih cepat karena geram.

Sudah-sudah.
Jangan salahkan jika tembok kami makin tinggi.
Bukan kami pemilih, tapi beberapa kali terjadi, mereka yang datang hanya menjadikan kami sebagai pengisi hari kala sedang sepi, sebelum kembali pada sang kekasih hati yang asli.
Atau..
Mereka yang hanya ingin tubuh kami, tahu bahwa kami kesepian dan butuh teman, dan mereka bersedia menemani dengan bayaran satu ciuman.

Saya makin jijik jika mengenang itu semua.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …