Skip to main content

I remember..

I remember back in the days when I had a boyfriend. Last week was intense that some of my coworker started to remind me of him -unintentionally- (but I hate it) and I cant help but to hear.

Well, things are better now. And I’m truly grateful Allah has saved me from a wrong marriage.

Because now I remember..
How I used to like a man wears cap, but he never liked it. I bought him one, then he lost it. Even if he was truly apologizing, and I forgave, I was never again try to make him wear a cap. I tried to live with that., half-heartedly.

Then the political situation is getting hot. I was involved in some organisations that required me to read everything on the media. I got hooked by twitter, and started to fancy several things including smart guys out there. I really want my man to be a twitter savy, which.. he’s not. He’s in fact,. Doesn’t really care on what’s going on in the world. Nothing wrong with being realistic, but there’s a thin line between realistic and apathy, and I dont want that. I want someone I can talk about the world with. About politic. About our opinion. Or where we stand. He was barely using his account that he didn’t notice when I cheated on him with a twitter guy. I ended it badly by confessing after a year of communication-relationship, and I truly hurt that twitter guy. One that I regret more than how I’ve hurt my ex.

Move along, I remember how I save some movies. Some movies that I wanna watch so badly. Because those are special movies and I wanna experience it with him. But he got no time. No.. he got no interest. He wasn’t into the movies. He frequently fell asleep during our movie time together in the organisation’s house. He never liked watching movie and cant stand watching with me. He’s not into movie, while I speak movie quotes and song lyrics.

And he didn’t like the song. He wasn’t into songs that I like. He barely understand the feeling of my favorite song that he thought its lame.

Putting this together than I think to my self.. why would I fell for him in the first place?

But nothing goes in vain. Five years together and now we’re close to five years being apart. I am truly grateful and that’s the best thing that ever happened to me. Because maybe this is my chance to get the kind of man I really like. That suits me better, that can tolerate our ugliness together.

Life isn’t perfect, so do I. But Allah does. His plan is the best, and He never wronged His slaves. So now I wait. I wait and wait and am no tired of waiting. Because in the end, I believe it’ll all be worth it. And in the mean time, I can watch zillions of movie that I want, spent the whole weekend for Netflix or iTunes. I can sing I can dance, I can be whoever I wanna be.

***
Bogor, 28-09-2019
I think I’ve build this skill to keep my head and heart happy in a blurry day. Because today is a good day, one that will be gone and never return. Enjoooy

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …