Skip to main content

Hi Mecca

Tulisan kali ini akan berisi hal yang sangat pribadi, lebih baik jangan baca kalau kamu hanya mencari fiksi.

***
Ada masa di mana manusia bertanya ‘untuk apa saya diciptakan?’ Lalu berkelana dalam jawaban yang mengawang-awang. Mencoba membayangkan entitas ketuhanan, sebagai segala mula dan muara segala akhir. Pada manusia yang menghendaki jawab, tanya itu akan mengambang. Sukar dicerna, apalagi di nalar.

Termasuk saya, seorang anak perempuan yang terlahir keras kepala. Berjiwa pemimpin, tapi tak punya pasukan. Selalu merasa ingin menang, tapi lemah terhadap bentakan. Saya bertumbuh besar dalam kubangan tanya. Kenapa Kami harus ada? 

Tanya yang membawa saya pada sebuah perjalanan. Perjalanan menemukan Tuhan, untuk kembali pulang dengan setangkup pelajaran. Saat itu saya pikir saya sudah punya cukup. Hingga ternyata, Tuhan saya kembali menghantamkan saya pada kenyataan demi kenyataan yang sulit sekali saya telan.

Proposal penelitian saya ditolak mentah-mentah. Sekali, dua kali, tidak berhenti saya ajukan judul yang berbeda-beda, hingga kali ke sembilan menemukan satu yang paling sesuai.

Tuhan saya tahu, saya bukan anak rajin yang sanggup menghitung jumlah benih. Tuhan saya tahu, saya tidak akan sanggup berpanas-panas di ladang padi ataupun kebun kelapa sawit. Tapi Tuhan saya juga tahu, untuk merogoh kantong yang sebegitu dalam demi penelitian akhir kuliah meneliti segerombolan bunga yang rawan mati -yang artinya harus mengulang semua dari nol termasuk pembiayaan- saya juga tidak akan sanggup. Tuhan saya tengah mengajarkan saya untuk sabar. Dan berusahalah saya untuk sabar.

Saya melepas satu persatu teman kuliah -bahkan adik kelas- menuju gerbang wisuda. Berfoto dengan mereka yang bertoga, sedangkan saya masih mencari bahan topik penelitian. Saya baru sadar sekarang, rupanya saat itu Tuhan saya sedang menggerus kekeras kepalaan saya, agar mau menerima apa yang tengah Dia siapkan untuk saya.

Proposal kesembilan saya ajukan. Profesor saya mempertemukan saya dengan seorang kepala balai penelitian pertanian, yang merupakan mantan anak didiknya. Beliau memberikan satu peluang penelitian di rumah kaca tempat beliau memimpin. Semua biaya gratis, ditanggung balai. Yang perlu saya lakukan hanyalah mendampingi peneliti ahli, dalam merawat tanaman yang hendak dia teliti. Satu kali briefing sudah cukup untuk membuat saya paham kemana arah penelitian ini, dan apa manfaat yang melatarbelakangi.

Presentasi hasil saya lakukan sembilan bulan kemudian. Lulus di akhir Bulan Juni, sebagai hadiah untuk ayah saya. Padahal tugas saya dalam penelitian ini mudah sekali. Hanya datang setiap hari, ke rumah kaca tanpa perlu berpanas-panasan di bawah matahari, tidak perlu mencangkul, hanya perlu mengisi polibag dengan media tanam buatan yang sudah dihitung kadarnya.

Lalu setiap hari saya tengok bibit-bibit jahe kecil itu, saya ukur tingginya, hitung daunnya, memastikan kecukupannya, dan selesai. Pembimbing saya cukup banyak, sehingga saya tidak pernah kehabisan tempat untuk bertanya.

Saya menanti selama satu setengah tahun untuk bisa sampai ke tahap itu. Yang lalu Tuhan saya tuntun saya ke jalan selanjutnya: pekerjaan.

Menyaksikan kawan-kawan lain sudah bisa menikmati hasil jerih payah mereka sendiri, tidak lagi perhitungan dalam mentraktir makan kami-kami, membuat saya cukup iri dan ingin segera berada di level itu.

Tapi Tuhan saya berkata.. tunggu dulu. 
Lantas saya mulai mencoba peruntungan. Tugas akhir belum selesai, pun surat pernyataan kelulusan belum di dapat. Saya adalah satu dari sembilan mahasiswa terakhir di angkatan saya yang belum mendapatkan toga dan ijazah. Tapi saya sudah ingin bekerja dengan benar. Cita-cita saya -yang sangat saya yakini- adalah bekerja dengan organisasi non pemerintah tingkat internasional. Tak tanggung, saya membidik UNDP dan FAO. Di mana saya yakin sekali bahwa saya cocok di sana.

Surat lamaran saya layangkan, surat penolakan saya tak kunjung terima.

Meski begitu saya masih punya pekerjaan yang sudah saya geluti selama dua tahun, sebagai anak bawang di studio dokumenter. Mengenangnya, mata saya panas. Karena terlalu dalam koneksi yang saya bangun dengan atasan saya waktu itu, sehingga ketika hubungan percintaan saya berakhir, sekaligus saat mengakhiri hubungan kerja dengan mereka, saya menghilang hingga kini. 4 tahun lamanya kami tidak bertemu. Pun saya menghindar. Maafkan.

Tuhan saya tengah mengajari saya untuk sabar kali itu. Lagi-lagi tentang sabar. Saya jalani pekerjaan saya, sembari mengurus administrasi kelulusan, sambil mencari-cari pekerjaan yang cocok untuk saya. Beberapa interview saya jalani, termasuk melalui video chat dengan salah satu wedding organizer Jepang. Clueless. Benar-benar clueless. Tapi ditengah kegamangan itu saya tetap yakin Tuhan saya punya sesuatu., meski rasanya.. kok lama sekali..

Sampailah kita di masa di mana saya dipertemukan dengan pekerjaan yg sekarang. Sebagaimana halnya rumah kaca untuk penelitian, pekerjaan ini hadir membawa semua yang saya inginkan-dan butuhkan. Ruang kerja, sekaligus tiket menjelajah nusantara. Saya bisa sesekali kerja di dalam ruangan sebagaimana orang kantoran, tapi bisa juga menyambangi daerah-daerah remote nan terpencil sebagaimana wartawan. Profesi yang kerap saya jalani semasa dalam organisasi mahasiswa.

Tuhan saya menyediakan apa yang saya inginkan sekaligus saya butuhkan, dalam bentuk yang tidak terduga.
Ada kalanya saya yakin akan sesuatu, tapi ternyata bukan sesuatu itu yang pantas untuk saya.

Dua tahun lalu saya tinggal serumah dengan seseorang yang pernah direkrut langsung oleh FAO. Ujarnya kondisi lingkungan kerja nya tidak sesuai dengan kultur kita berdua-saya dan dia- maka bersyukurlah saya tidak harus ‘terjerumus’ dalam lingkungan kerja yang berpotensi merusak iman.

***
Kali ini, dalam beberapa hari terakhir, saya terus bertanya.. apa selanjutnya? Rasanya hidup tidak bisa begini-begini saja. Rasanya ada yang lebih yang harus saya capai, tapi apa? 

Tapi kali ini saya tidak lagi tertarik dengan pekerjaan bonafide, gaji selangit, atau hal-hal printil macam kerja di gedung tinggi dan bergelut dengan macetan ibu kota.

Lalu saya menemukan cuplikan video, tentang mati di tanah suci. Tentang janji hari akhir, ketika kita semua dibangkitkan kembali. Sungguh bukan suatu pikiran yang menyenangkan untuk dipikirkan.

Akhirnya, setelah melalui malam-malam penuh tanya, saya menemukan lagi apa yang saya inginkan.

Kelak, jika tunai sudah tugas saya, atau saya merasa tunai dengan segenap kemampuan saya, saya akan bertolak ke tanah suci.

Dan ketika itu terjadi,
Hanya ada satu damba saya di sana: mati.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …