Skip to main content

Bye Bye Bye, Shoe!

Sejak mengenal, memahami, dan mencoba mendalami minimalism, saya sudah lebih mampu mengatasi rasa kehilangan. Kalau dulu sedikit-sedikit takut ditinggal, takut berubah, terlalu lengket sama situasi yang ada sekarang, kalau punya barang tidak boleh ada yang hilang, maka sekarang sudah berkurang drastis.

Mengurangi rasa keterikatan dengan benda ataupun manusia, (atau apapun yang bersifat keduniawian), membuat saya lebih santai jika ada sesuatu yang rusak atau hilang. Ah, sudah waktunya rusak. Ya sudah, nanti kalau sudah butuh baru beli lagi. Begitu pikir saya ketika smoothies blender saya rusak. Nyatanya sampai sekarang belum beli baru lagi, karena memang belum butuh. Begitu seterusnya, sampai hari ini, saya disentil oleh Allah dengan satu pengingat halus. Allah Maha Halus.

Sepatu kesayangan saya rusak dalam perjalanan pulang dari mall. Rusaknya karena tergesek dudukan kaki yang kurang proporsional pada motor ojek online yang saya tumpangi. Pengendara motornya sempat nyaris menabrak mobil saat sedang melaju dengan kecepatan tinggi, akibatnya saya sampai harus menurunkan kaki kanan refleks untuk menahan motor yang oleng. Sejak awal berkendara pun kaki saya tidak berpijak sempurna pada dudukan itu, karena heels nya akan membuat tumit saya menjadi lebih tinggi dari telapak kaki. Pegel, bo. Jadi saya biarkan menggantung kedua tumit itu sepanjang jalan.

Sampai di rumah baru saya sadar kain halus yang membalut heels itu robek, tapak nya juga bergeser, dan rupa-rupa kondisi yang membuat saya sedih. Ini adalah sepatu kesayangan, kalian pasti tahu rasanya punya sepatu kesayangan, dan rusak karena sesuatu yang sembrono. Dan bukan mudah juga kan menemukan sepatu kesayangan. Proses pencarian hingga menemukan yang benar-benar pas dari segi warna, tone, ukuran, kenyamanan, itu kalau diulang kan sangat melelahkan. Yaa, sebelas dua belas sama jodoh lah kalau mau dibilang.

Saya sedih se-sedih sedihnya. Saya juga heran kok bisa sesedih itu, padahal biasanya kalau ada yang rusak atau hilang saya selalu meyakinkan diri bahwa memang sudah ajalnya. Tiap benda kan punya ajal. Semua punya ajal, termasuk kita juga. Jadi kalau sudah rusak saya selalu bilang oh sudah waktunya. Tapi tidak untuk yang ini.

Akhirnya sore tadi setelah sedikit misuh-misuh di internet, video chat dengan adek-adek, mandi, mencoba menyelesaikan sedikit kerjaan, saya menyerah. Lampu saya matikan, berselimut menuju tidur. Padahal baru pukul setengah delapan. Satu setengah jam kemudian saya menyerah juga, karena pura-pura tidur ternyata lebih susah, ke dapur, masak indomie, pakai sayur pakcoy yang banyak, pakai telur, pakai kecap.

Barulah di situ my conscious is clear. 

Saya sedang ditegur oleh Allah. Setelah tadi sore, melakukan kebiasaan yang sudah lama saya tinggalkan, yaitu belanja impulsive dan membeli barang-barang karena ingin bukan karena butuh, Allah masih mau mengingatkan untuk jangan mengulanginya lagi nanti. Sebenarnya ini sudah sangat kemajuan sih, karena terakhir saya belanja-belanja seperti ini adalah delapan bulan lalu. Sudah delapan bulan lamanya saya berhasil menahan diri, kalau ke supermarket yang dibeli benar-benar yang ada dalam list belanja saja, tidak pernah beli apapun yang kemudian berakhir di tempat sampah tak terpakai. Semua yang saya belanjakan benar-benar terpakai dan saya butuhkan selama delapan bulan terakhir, kecuali tadi siang. Dan ganjarannya langsung datang.

Karena sejatinya Minimalism adalah ajaran Islam dengan nama yang berbeda, yaitu Zuhud. Allah senang dengan orang-orang yang Zuhud. Dengan berkurangnya keterikatan pada dunia, membuat seseorang banyak-banyak merindukan akhirat. Allah juga yang menjanjikan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik, dan sia-sia lah orang yang terlalu berfokus dengan kehidupan di dunia dan lupa membawa bekal ke akhirat.

Saya nyaris lupa dengan konsep ini dalam beberapa minggu terakhir (atau bulan), dan puncaknya adalah kehilangan kendali diri di mall tadi.

Beruntungnya pengingat itu datang di Hari Jumat, sehingga saya punya dua hari untuk kembali memilah-milah, alias decluttering. Sudah sekian abad tidak di declutter ini rumah, walau penambahan barangnya tidak signifikan, tapi menghilangkan kebiasaan yang sedang coba untuk dibiasakan itu dampaknya bukan main-main.

Sepatu kesayangan saya, bahkan pada akhir masa nya masih bisa menyuntikkan rasa percaya diri untuk saya dengan cara yang berbeda. Benda itu mengerti ketika dia disayangi, ketika dia sudah tidak diinginkan lagi, mereka bisa ikut merasakan. Ada benda yang pergi tanpa pamit, seperti Al-Quran hijau toska saya, dan ada yang pergi pelan-pelan, berpamitan, sembari meninggalkan kesan mendalam.

Oya, saya ingin mengenang sedikit tentang Al-Quran hijau toska itu. Ramadan kemarin, sempat terbersit di pikiran saya ingin berhenti menggunakan Al-Quran hijau toska bukan karena sudah tidak suka, tapi karena saya punya dua. Satu lagi Al-Quran ungu hadiah ulang tahun dari sahabat saya, Amani. Al-Quran ungu ini sejak dibelikan dua tahun lalu, jarang sekali saya pakai. Karena bagaimana caranya pakai dua Al-Quran sekaligus kan, repot. Saya kemana-mana selalu bawa yang hijau toska, karena dua-duanya ukurannya sama: travel size. Jadi saat itu saya berpikir, kalau saya berhenti memakai si toska, mau di kemanakan dia? Masa dibiarkan begitu saja? Atau saya hibahkan? Ke siapa?

Sambil terus bertanya-tanya seperti itu, saya melakukan perjalanan mudik lebaran membawa si toska. Ternyata penerbangan saya dimajukan, jadwal yang seharusnya berangkat pukul sepuluh malam berubah menjadi pukul tujuh malam. Yang semestinya saya menunggu dua jam untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya, menjadi empat jam. Empat jam itu saya manfaatkan untuk istirahat, taraweh dan tadarus di mushola bandara yang nyaman luar biasa.

Padahal saya tidak terburu-buru. Mengenakan kerudung selepas solat dan mengaji pun dengan perlahan dan santai. Memang ada rasa mengganjal di hati karena ini kali pertama saya mudik dan si toska saya bawa di koper kabin, biasanya masuk di bagasi. Alasannya kali ini dibawa di kabin, karena akan menunggu empat jam itu. Itu artinya si toska akan ikut saya bahkan sampai ke toilet. Di situ saya benar-benar was-was karena si toska masuk ke toilet. Boleh tidak, kalau tidak boleh ditaro di mana.. 

Saya keluar dari mushola, menggeret koper seperti biasa, sama sekali tidak terburu-buru, menyempatkan ke toilet dulu sebelum penerbangan panjang selanjutnya. Sambil deg-degan karena bawa si toska.

Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Si toska sudah tertinggal di dalam mushola, tempat saya meletakkannya sementara berganti kerudung dan menyimpan mukena. Dia sudah tertinggal di situ bahkan sebelum saya masuk ke toilet dan duduk di kursi tunggu. Saya baru ingat tentang si toska ketika menunggu keluarnya koper dari bagasi, kayaknya si toska ketinggalan di mushola. Syukurlah, semoga di sana dia lebih bisa dimanfaatkan banyak orang, dan syukurlah berarti saya tidak masuk ke toilet dengannya tadi. Saya bisa setenang itu walau dia pergi tanpa pamit. Karena saya tahu dia tahu bahwa saya sudah ingin menggantinya, jadi dia pergi dengan cara yang santun, di tempat yang sudah semestinya dia bernaung.

Karena benda mati pun bertasbih kepada Allah. Artinya mereka bukan benar-benar benda mati yang tidak tahu apa-apa. Mereka tahu, mereka menyerap energi kita, mereka menularkan energinya pada kita, pertukaran energi itu yang membuat kita lekat dan bisa memiliki rasa keterikatan satu sama lain.

Minimalism mengajarkan untuk memilah dengan siapa kita memiliki keterikatan yang sedemikian dalam. Karena satu ikatan saja sudah cukup merepotkan, apalagi kalau banyak. Memilah agar kita terikat hanya dengan yang benar-benar sejati, dan bukan benalu yang butuh terus menerus dirawat dan dijaga dengan menguras kesabaran kita. Memilah dengan siapa kita terikat, agar jika jumlah nya sedikit, melepasnya pun akan lebih tidak menyita emosi.

Minimalism melatih diri untuk bisa memilah mulai dari hal-hal kecil yang dialami sehari-hari, sehingga perlahan mulai belajar untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan harus mempunyai dasar, dan dasar pengambilan keputusan bagi jiwa kita adalah bahagia kita, pikiran kita, yang semuanya harus bermuara pada tujuan kita. Tahu apa yang membuat kita bahagia, tahu bagaimana cara kita mengambil keputusan, yang pada akhirnya tahu apa yang menjadi tujuan kita.

Satu memutuskan mau beli baju atau sepatu, lalu memutuskan beli baju yang merah atau biru, besok saat bertemu persimpangan kita harus bisa memutuskan akan terus lurus atau membuat jalan baru. Begitu seterusnya, hingga kita mampu membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup. And until that happen, my friend.. kita belum menjadi dewasa. Minimalism membantu kita agar menjadi dewasa, dan bisa membuat satu keputusan besar dan penting dalam hidup. Keputusan yang mengarahkan pada tujuan. Untuk bisa mengambil keputusan besar itu, kita harus tahu dulu apa tujuannya.

Baru kemarin saya mendengar ceramah Ust Hannan Attaki tentang Life Goal. Hari ini saya sudah diingatkan kembali melalui sepatu saya yang robek heelsnya kiri dan kanan. Allah Maha Baik, Maha Tahu.

***


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …