Skip to main content

Azzam Perjuangan: Untuk Perempuan

September, 2019

Menjelang pergantian masa kepemimpinan, masyarakat dibuat resah oleh Rancangan Undang-Undang yang sepintas terlihat ngawur. Petaka bermunculan karena keresahan itu terbaca oleh pihak-pihak tukang gelitik, yang senang dengan kekacauan, didukung dengan budaya masyarakat minim baca tapi haus informasi, mengutip sumber dari media 280 karakter dan dijadikan referensi acuan untuk turun ke jalan.

Terus terang saya tidak suka dengan sikap pemerintah saat ini, yang terkesan tidak tegas, tidak memperlihatkan taring, dan seolah iya-iya saja pada semua pihak. Wajar publik menjadi gemas. Tapi yang tidak kalah menggemaskan adalah, aktivis-aktivis kampus yang sangat diharap-harapkan, ternyata tampil kurang yakin ketika dihadapkan dengan para pakar, profesor, dan perumus rancangan undang-undang yang mereka perdebatkan itu. Kenapa mereka kurang yakin? Sederhananya karena mereka kurang baca. Jadi kesan yang didapat oleh pikiran-pikiran tua yang sudah usang ini, adalah mereka turun ke jalan tanpa 'bekal' yang cukup, sehingga timbul pertanyaan, bekal belum cukup kok sudah berani turun ke jalan? Siapa yang mem back up? 

Kenapa pertanyaan seperti ini muncul? karena mereka yang ada di kursi pemerintahan ataupun parlemen saat ini, dulunya adalah aktivis kampus juga. Sudah kenyang mereka dengan doktrinasi para senior dan alumni yang datang membawa kepentingannya masing-masing. Walau ternyata pada akhirnya mereka bergerak dengan nurani, mereka sudah kepalang mendeteksi bahwa aksi doktrinasi itu memang eksis di dunia aktivis-dan perpolitikan.

Malam ini saya menyaksikan dua hal yang membuat cringe sendiri: yaitu budaya mendengar dan budaya berbicara. Seorang aktivis yang sudah ada rambut putih nya sedikit, berbicara lantang di hadapan para profesor dan Pak Menteri, sembari menunjuk-nunjuk mereka dengan jari telunjuknya. Bagi saya, anak muda yang masih memegang budaya Indonesia, berbicara dengan orang yang lebih tua sudah sepatutnya ber-etika. Meskipun orang yang lebih tua itu keras kepala bukan main, tapi tidak menjustifikasi adab buruk saat berbicara - apalagi saat mendebat- nya. Kami yang pernah diajari tata cara berdebat, pasti bergidik ngeri melihatnya mendebat Pak Menteri. Apalagi disaksikan puluhan pasang mata di studio.

Pun mendengar, ada beberapa gestur yang saya sayangkan dari adik-adik mahasiswa, saat Pak Menteri atau Pak Professor berbicara, mereka sibuk menelaah apapun yang sedang muncul di layar ponsel mereka, atau menunjukkan ekspresi tidak suka dengan seringai mengejek. Duh.. bukan begitu karakter pemimpin yang baik. Hanya Ketua BEM UGM saja yang saya lihat masih punya kesantunan untuk mendengar, menyimak, dan membantah ketika gerakannya dipertanyakan.

Yang lain? Hmm..

Saya masih ingat bagaimana dulu di kampus, saya terlibat dalam organisasi intra dan ekstra kampus. Berkutat dengan banyak sekali ragam mahasiswa, mulai dari senior sampai junior, presiden mahasiswa, ketua umum pecinta alam, dengan karakter dan cara berpikir mereka masing-masing.

Dari situ sebenarnya sudah bisa tergambar sebenarnya betapa ruwet bangsa ini untuk diatur oleh satu lembaga kepemimpinan bernama pemerintah, yang harus berkordinasi dengan tiga elemen lain yaitu wakil rakyat, presiden dan jajaran, serta pers dan media yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Itu ruwet sak ruwet-ruwetnya.

Jadi mestinya wajar kalau tidak ada yang mau jadi Presiden di negeri ini, seruwet ini kok mau-maunya mimpin. Gak wajar itu kalau orang berebutan jadi Presiden. Biar apa sih? Emang sanggup dimaki-maki dua ratus juta penduduk kalau ada satu saja kebijakan yang ngawur? Butuh kelapangan hati seluas enam kali Nusantara untuk bisa tetap tenang dan tidak tergesa ambil keputusan.

Tampil di depan tivi, pemerintah dengan tulus menyampaikan bahwa mereka bekerja untuk rakyat. Begitupun Ketua DPR. Mahasiswa tidak kalah tulus menyuarakan aspirasi rakyat. Semua mengklaim sedang mewakili rakyat. Padahal peluang ditunggangi dua-duanya ada saja. Yang satu dituduh ditunggangi korporasi, yang satu lagi dituduh ditunggangi pihak oposisi.

Kemudian ada dua orang aktivis yang ditangkap. Kalau yang satu saya rada maklum, soalnya memang blio ini rada kontroversial sedari lama. Tidak semua pendapatnya saya setuju, bahkan mungkin banyakan gak setujunya sama blio. Yang satu lagi musisi yang juga aktivis, juga wartawan juga fotografer, jadi rada multitalent, (yang saya tahu orang multitalent itu adalah orang yang bingung dengan dirinya sendiri, trust me, i'm there). Ketika yang kedua ini ditahan, barulah saya meradang. Ini atas dasar apa aparat bisa menciduk orang dini hari di kediamannya, seolah-olah dia teroris yang meresahkan masyarakat. Di sini saya meradang.

Tapi marah saja tidak cukup.
Aksi demonstrasi yang digawangi mahasiswa pun melebar kemana-mana. Bahkan ketika tuntutan sudah dipenuhi, aksi bakar membakar justru semakin panas, yang itu terbaca oleh para petinggi sana sebagai sudah bukan lagi gerakan mahasiswa, tetapi oknum yang memanfaatkan situasi. Wajarlah, dimana-mana pihak oposisi itu akan selalu ada. Mau ditekan dengan undang-undang seperti apapun oposisi akan terus merajalela. Melabeli diri sendiri dengan kaum garis kiri, pemberontak, rebel rebel, atau apapun yang membuat mereka merasa bangga karena melawan tirani. Lupa bahwa mungkin sekarang yang dihadapi bukan lagi tirani, melainkan kerani #eh.

Saya tidak ikut turun ke jalan, sedari dulu pun begitu. Saya sadar kemampuan saya, sehingga turun ke jalan tidak pernah menjadi opsi utama. Saya selalu memilih berdiri di balik layar, berdiri dibelakang para pengambil keputusan, dan ikut mencampuri cara mereka berpikir dan menelaah masalah. Boy I'm good at that. Sejak kuliah sampai sekarang masih begitu. Kenapa tidak turun? Karena, tidak seperti mbak-mbak cantik nan tangguh itu, walaupun saya dulunya mapala, tapi saya tidak pernah tahan seharian di bawah matahari dan akan langsung menyerang organ dalam dan pencernaan yang membuat saya tumbang berhari-hari. Lebih tidak efektif jika dibandingkan dengan ciutan suara yang tidak seberapa terdengar.

Jadi dengan menyadari keterbatasan itu, saya ber azzam. Azzam itu adalah keinginan yang dipeluk dengan erat, ada lawan katanya yang saya lupa apa istilah Bahasa Arabnya, yaitu keinginan yang munculnya hanya sebentar-sebentar. Azzam adalah keinginan yang diyakini, dipeluk erat, dan dijadikan pedoman dalam melangkah.

Saya ingin kelak nanti menjadi bagian dari pelahir generasi pemimpin. Orang-orang yang akan membela negara dan agama kami di tanah ini. Menegakkan bendera Islam sekaligus menjunjung tinggi hukum yang berlaku di negara. Mereka akan saya bekali buku-buku perjuangan sejak dini, tentang founding fathers dan cara mereka memilih ideologi, cara mereka memecahkan masalah, bernegosiasi, sehingga tidak menjadi serigala ompong yang hanya gede suara aumannya saja. Tapi juga bernas, bukan mencari referensi dari kitab twitter dan menghabiskan terlalu banyak waktu mendownload gambar-gambar lucu dan nyeleneh untuk dibagikan di grup-grup whatsapp.

Honesty, Empathy, Integrity, adalah kunci yang harus mereka cermati sejak dini. Kita sudah cukup kekeringan anak muda yang berjiwa pemimpin sejati. Sudah langka tergerus dengan meme-meme receh yang mudah ditertawakan. Padahal tertawa sejatinya mematikan hati. Bercanda boleh, berlebihan jangan, nanti bodoh. Saya tidak suka orang bodoh. Apalagi orang yang masa bodoh.

***

Bogor, 27 September 2019
Kepada para mahasiswa,
Yang merindukan kejayaan,
Kepada rakyat yang kebingungan
di
Persimpangan jalan

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …