Skip to main content

[Fiksi] The Day

November, 2019

Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dalam hidup Lana, selain hari di mana Hanas mengucap janji setianya di hadapan semua penduduk semesta. Kalimat yang lancar dan tenang mengalir dari suara teduh Hanas, suara yang selama dua puluh tahun ini selalu berhasil menjadi air kala ia sedang menjadi api.
Lana bangkit dari tempat duduknya, diapit oleh kedua ibu yang hari itu nampak cantik dengan kebaya silver yang berkilau jika terkena cahaya lampu. Lana berjalan pelan, diiringi oleh dua ibu, tertunduk malu, menghampiri lelaki yang kelak akan menghabiskan sisa hidup bersamanya.

Tatapan mereka beradu. Keduanya sama-sama tertunduk malu, mengulum senyum. Hanas mengulurkan tangan, disambut oleh Lana yang mencium tangannya khidmat. Air mata nyaris menetes saat bibirnya menyentuh tangan Hanas. Rasanya masih seperti mimpi. Namun sorakan dari para hadirin, dan kilatan lampu kamera menyadarkan dirinya bahwa inilah nyata yang selama ini ia damba. Angan yang akhirnya terwujud nyata.

***

September, 1999

“Kamu tidak apa-apa?” seorang anak laki-laki menghampiri Lana yang sedang meringis kesakitan. Sepeda yang ia naiki mendadak hilang kendali. Lana oleng dan jatuh terjerembab di antara rerumputan. Anak-anak laki yang sedang bermain bola di dekatnya, malah tertawa terbahak-bahak.

Lana hanya menoleh sebentar ke arah anak laki-laki itu, lalu matanya mulai memerah. Ia duduk sambil terisak memegangi lututnya yang berdarah.

“Ayo sini, biar kubantu” ujar anak laki-laki itu lagi, mengulurkan tangan ke arah Lana, yang menangis semakin kencang.
Anak laki-laki itu meraih lengannya, merangkulkan ke lehernya, dan memapah Lana berjalan ke bangku taman. 

“Tunggu di sini yah, rumahku dekat sini. Aku akan ambilkan obat merah untuk lukamu. Jangan kemana-mana”
Lana masih belum menjawab, hanya air mata yang terus mengalir deras.

Hanas berlari sekencang yang dia bisa, secepat kilat kembali dengan membawa alkohol, kapas, obat merah dan plester.

“Tahan ya, ini akan sakit” ujarnya sambil menuang cairan alkohol ke atas kapas. Lana memejamkan mata, memegangi lututnya yang perih.

“Aaaaaahhhh….” teriak Lana kesakitan begitu alkohol menyentuh lukanya. Ia menangis semakin keras.

“Kan aku bilang juga sakit, tapi ini bagus untuk lukamu, biar cepat sembuh dan tidak terkena infeksi.” 

Lana tidak peduli, tangisnya semakin keras. Hanas meraih obat merah dari dalam kotak obat, menuangnya ke atas kapas dan menempelkan pelan-pelan ke lutut Lana. Terakhir, ia membalut luka itu dengan plester, dan tangis Lana perlahan mulai reda.

“Masih sakit?” tanya Hanas, masih berlutut di depan Lana yang menunduk. Lana mengangguk. “nanti, kalau kamu mandi, plesternya diganti ya. Lukanya akan cepat kering jika diobati dengan baik.” ujarnya lagi tersenyum. Lana masih menunduk, mulai menyeka wajahnya yang basah.

“Oya, kita belum berkenalan. Kamu baru ya di kompleks sini? Namaku Hanas” ujar Hanas lagi sambil tersenyum, lagi-lagi mengulurkan tangan.
Ragu-ragu Lana menyambut uluran tangan itu, menjabatnya pelan..

“Lana” ujarnya lirih. 
“Hmm.. Lana. Lucu juga namamu. Rumahmu di mana?”
Lana menunjuk ke arah Utara, masih terlalu malu untuk bicara.
“Mau aku antar pulang? Mereka akan terus menertawakan kamu kalau kamu berjalan sendirian dengan kaki seperti ini” ajak Hanas sambil berdiri.
Lana mengangguk patuh. Perlahan mencoba berdiri, lututnya masih sakit, dan kini lebih sakit lagi dengan adanya plester yang menempel erat di lukanya.
“Kapan-kapan kita main bareng, yah.. kalau kakimu sudah sembuh” ujar Hanas sambil menuntun Lana. 

Gadis kecil dengan rambut dikepang dua, mengenakan kaos biru muda bergambar boneka beruang itu mengangguk. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan, perasaan aneh yang mengitari perutnya. Antara bahagia dan terkesima dengan kebaikan anak laki-laki yang baru dikenalnya. Yang membalut lukanya tanpa ragu, dan menuntunnya pulang. 

Hanas tersenyum lebar, senang mendapat teman baru yang lucu. Kaos bola yang ia kenakan masih basah oleh keringat, namun lelahnya sudah hilang karena hari ini ia merasa sudah berguna. Kalimat bapaknya berseliweran dalam benak Hanas, ‘kamu itu laki-laki. Harus jadi orang yang berguna. Kalau belum bisa berguna buat negara, ya minimal untuk teman dan keluarga’ begitu pesan bapaknya sebelum meninggal dua tahun yang lalu.

“Kamu kelas berapa?” tanya Hanas ketika mereka sudah tiba di persimpangan blok. Tinggal lima rumah lagi, mereka sampai di rumah Lana.
“Kelas dua..” jawab Lana pelan, masih tertunduk.
“Oh.. aku kelas lima”

Mereka sampai di rumah putih milik Lana. Ibunya yang khawatir buru-buru keluar melihat anaknya berjalan dengan dipapah.

“Ya ampun Lanaaa… kamu kenapa sayang?” Ibunya buru-buru menggendong putri semata wayangnya,
“Jatuh dari sepeda, tante..”
“Duh.. tuh kan.. Ibu sudah bilang, kalau naik sepeda pelan-pelan” ujar Ibunya khawatir, “makasih ya nak, sudah bantuin Lana. Ayo ayo masuk dulu”
“Ah.. terimakasih tante, tapi tidak usah”
“Looh kenapa.. ayo masuk tante sedang buat bolu coklat, ayo..”
“Nanti saja tante, saya mau ambilkan sepeda Lana dulu. Masih tertinggal di lapangan” ujar Hanas sopan. Ibu Lana tersenyum.
“Siapa namamu, Nak?”
“Hanas, tante”
“Terimakasih ya, Nak Hanas. Lana ini memang anaknya susah dibilangin, kalau sudah jatuh begini mungkin baru dia kapok main sepedanya ngebut-ngebut. Yasudah, kamu tolong ambilkan dulu sepedanya, nanti kesini lagi tante buatkan coklat hangat yah?”

Hanas mengangguk semangat. Coklat panas adalah kesukaannya. Coklat panas, diminum sambil menonton kartun kesayangan. Ia pamit dan lari secepat mungkin ke arah lapangan. Lana menyaksikan punggung yang menghilang di persimpangan itu dengan mata yang masih basah. Hidupnya selalu berpindah-pindah, mengikuti kedua orang tua yang selalu ditugaskan ke daerah-daerah. Dia tidak pernah benar-benar punya teman, apalagi teman sebaik Hanas, yang menolongnya bahkan ketika pertama berjumpa.
Lana masih berusia tujuh tahun. Masih belum mengerti apa-apa tentang cinta. Masih belum tahu perasaan apa yang tengah dia rasakan. Yang dia tahu, dia senang bermain dengan Mas Hanas. Dia senang setiap kali Hanas main ke rumahnya sore sepulang les, dan mengajarkannya bermacam-macam hal tentang benda langit.

Hanas juga senang mendapati teman perempuan yang ternyata begitu enerjik, periang, dan mudah mengerti apapun yang dia ceritakan. Meskipun usia mereka terpaut tiga tahun, namun Lana bisa memahami cerita-cerita Hanas tentang planet-planet dan asteroid. Tentang komet yang ekornya panjang, dan tentang gerhana yang langka. Sudah lama ia ingin punya adik perempuan, namun semenjak bapaknya meninggal, ibu tidak lagi berniat untuk menikah lagi. Dia punya dua orang adik laki-laki, namun tidak ada yang bisa menyamai kelucuan Lana.

Sejak hari itu, mereka menjadi teman akrab. Hanas senang mengajari Lana bermacam-macam hal dari yang ia pelajari di sekolah, dan Lana pun senang menceritakan mimpi-mimpinya jika ia dewasa kelak. 

***

November 2019,

“Sampai hari ini, aku masih bersyukur sore itu aku jatuh dari sepeda” ujar Lana pelan setelah mereka masuk ke dalam mobil. Hanas hanya menjawab dengan tersenyum. “kalau saja hari itu aku tahu, bahwa dua puluh tahun kemudian aku akan menikahi laki-laki yang mengobati luka di lututku…”

“Kalau kamu tahu, maka hari ini tidak akan seindah ini. Karena semua sudah terprediksi..” jawabnya pelan.
Lana menggenggam tangan Hanas. Memorinya melayang pada sepuluh tahun terakhir, sepuluh tahun terberat yang pernah ia rasakan, ketika ia menyangka sudah kehilangan Hanas selamanya.

“Aku berbicara pada Tuhan, bahwa aku tidak ingin kehilanganmu” bisiknya pelan, bersandar di bahu Hanas.
I promise. You won’t..” Hanas membalas, mengecup keningnya.

***
(terinspirasi dari cerita orang, tadi pagi)

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert