Skip to main content

Blackout Sunday (yang di post Selasa karena baru normal sinyal dan listriknya)

Setelah bermalas-malasan seharian Sabtu kemarin, akhirnya tadi pagi terkumpul juga niat untuk keluar rumah, belanja bahan makanan. Saya sudah berniat ingin masak gado-gado, bikin clovertaart, dan cemilan sore seperti pisang goreng. Tapi kemarin, rasanya terlalu malas bahkan hanya untuk menjemur pakaian di garasi rumah. Pintu pagar (kemarin) seharian tidak saya buka gemboknya. Saat abang go-food datang mengantar makanan, makanan saya minta diserahkan lewat atas pagar. Tapi pagi ini, saya berhasil beranjak dari kasur pukul sepuluh, berganti baju, dan baru mulai memanaskan motor pukul sebelas. Sambil meninggalkan mesin cuci yang masih berputar, saya keluar untuk membeli tahu susu, pisang, sayuran, dan beras. Toko kue yang dituju untuk membeli alat serta bahan baku clovertaart rupanya sedang tutup, jadi hari ini saya putuskan untuk urung bikin kue. Eh.. ternyata..

Sesampainya di rumah, memang saya tidak akan bisa bikin kue. Masak nasi pun tidak jadi. Listrik mati sejak pukul dua belas, dan sampai tulisan ini ditulis pukul 18.36, masih belum nyala juga. Saya urung masak gado-gado, dan beralih bikin bihun goreng dan tahu susu goreng saja. Cukup sebagai pengganti nasi, karna dimakan pakai kering kentang favorit sejuta umat yang tinggal sedikit lagi mau habis.

Lewat waktu ashar, seakan melengkapi penderitaan para makhluk jomblo single, sinyal ikut-ikutan menghilang. Hal ini mengingatkan saya akan dua tahun yang lalu, di Kalimantan Tengah, saat sedang melakukan assessment di salah satu kebun kelapa sawit milik negara tetangga. Di sana mereka punya menara sinyal sendiri, yang pada suatu hari, menjelang kedatangan Sri Paduka Sultan Pemilik Negara Kebun, listrik dipadamkan dan menara sinyal ikut kehilangan daya. Ada mungkin dua hari kami tidak bisa mengakses dunia luar, terkurung di mess, dengan jemputan yang entah datang entah tidak. Menjadikan penilaian itu seperti ajang bercanda saja bagi kami. Mau marah tidak ada guna, saya melapor pada atasan, yang kemudian berbicara pada kantor pusat, dan barulah para manajer sibuk menelpon saya untuk meminta maaf. Tapi di situ,, saya ingat bagaimana saya akhirnya kehilangan.. atau menghilangkan.. sebuah ikatan yang membelenggu, atas rasa cemburu. Dua hari hilang sinyal, seorang laki-laki yang sedang berusaha mendekati saya, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Akhirnya memilih berpaling dengan perempuan lain, yang pekerjaannya tidak membuatnya jauh dari ponsel dan naungan sinyal. Untuk yang itu saya bersyukur, karena saya kehilangan kekuatan jika dihadapkan dengannya, tidak kuasa menolak meski hati berontak. Dengan dia yang memilih pergi, itu rasanya seperti duri yang melepaskan diri.

Tapi kali ini berbeda. Tidak ada orang yang mengkhawatirkan saya, kecuali mama yang bertanya dengan sebaris kalimat tanpa emoji: di Bogor mati lampu? yang juga saya jawab dengan datar: iya, mati lampu. 

Di sinilah yang ingin saya ceritakan. Selama dua jam pertama setelah sinyal benar-benar hilang dari ponsel saya, dan kegelapan tanpa listrik mulai menjelang, saya mulai membuka youtube dan memilah-milah video yang sudah di download sebelumnya untuk menemani makan siang yang kesorean. Pilihan saya jatuh pada ceramah Ustadz Salim A Fillah, dengan judul Mendidik anak ala Rasulullah. Sebuah seri parenting, yang sejak dulu memang sudah senang saya geluti.

Saya punya alasan yang cukup kuat kenapa saya gemar sekali mendengar ceramah parenting: yaitu karena saya tidak mempunyai figur orang tua dan cara mendidik anak yang benar dari pengalaman saya sendiri. Saat kuliah, saya mengambil kesempatan yang diberikan oleh tiap mahasiswa untuk bisa mengikuti kelas manapun yang dia suka, dan saya memilih kelas Psikologi Anak, Pendidikan Holistik, dan Pengembangan Karakter. Yang tentunya tidak ada kesinambungan sama sekali dengan mayor saya yang adalah Fakultas Pertanian. Dari tiga kelas itu, saya mendapat kesimpulan, bahwa saya adalah sebuah produk gagal. Produk dari hasil bad parenting. Saya tidak ingin menyalahkan orang tua saya, karena biar bagaimanapun saya tetap memuliakan mereka. Namun sekeras apapun saya mencoba untuk melenturkan kembali hubungan kami yang terlanjur kaku, masih saja hasilnya belum seperti yang diharapkan. Mungkin karena effort nya hanya sepihak. Mungkin karena sudah terlanjur mengakar. Namun saya lihat, orang tua saya berhenti memperlakukan anaknya sedemikian kaku pada anak kedua, jadi hanya saya dan adik saya saja yang kena giliran bad parenting, dan adik ketiga dan keempat saya, mereka semua tumbuh dengan kadar kasih sayang yang berhamburan.

Saya tidak ingin menyalahkan mereka, karena toh jika diingat, mereka memiliki saya saat usianya masih sangat muda. Saat mimpi ibu saya masih begitu menggebu, namun harus tertahan karena ada bayi cengeng yang cerewet dan tidak berhenti mengoceh dan bertanya. Masih jelas di rekaman ingatan saya, kemarahan demi kemarahan yang mereka layangkan pada saya, dan semua terekam jelas, hingga saat saya menulis inipun, air mata saya tidak berhenti mengalir mengingatnya.

Di ceramah itu Ustadz Salim mengajarkan cara berkomunikasi dengan anak, ibu sebagai pemerkaya kosa kata, dan ayah sebagai penanam falsafah kehidupan. Bahwa cinta pun perlu dikomunikasikan, meski si anak tahu kita mencintainya, kita masih tetap perlu menyampaikan padanya. Jika itu kini saya lakukan pada kedua orang tua saya, tentu rasanya geli dan risih. Aneh kan. Tapi begitulah adanya, dan saya tidak ingin itu nanti terjadi pada anak saya, maka saya perlu belajar dengan lebih giat lagi agar bisa mempraktekkan teori-teori kebaikan itu nanti.

Ustadz Salim juga mengungkit tentang anak yang kecanduan gadget, sebabnya ialah gadget merupakan barang yang responsif. Di tekan langsung menghadirkan apa yang si anak inginkan, sedangkan orang tua, kalau belum nangis anaknya belum mau di dengar. Kalau dipanggil sekali, tentu tidak menyahut, dengan alasan sibuk, dengan alasan urusan orang tua lebih penting. Saya jadi ingat ketika pertama kali masuk asrama, lalu mendapat kesempatan pulang ke rumah, saya pulang dengan sebongkah oleh-oleh cerita yang ingin sekali saya tunjukkan dan perlihatkan pada ayah saya, but he barely have time for that. Yang saya pikir mereka akan antusias setiap saya bercerita, ternyata responnya datar dan biasa saja. Yang saya pikir cerita saya menarik dan perjuangan saya itu lucu, bagi mereka itu tidak patut. Keluarga saya memang bukan keluarga komunikator yang baik, tapi saya bersyukur karenanya, saya bisa belajar menjadi seorang komunikator yang baik, bisa belajar memahami perasaan orang lain, dan termotivasi untuk terus belajar teori-teori  parenting yang baik.

Sekarang saya sedang senang belajar teori parenting dari sisi Islam. Kalau dulu saya belajar teori-teorinya orang bule melalui dosen yang mengajar Psikologi Anak (yang sebenernya dosen UI). Ternyata meneladani Rasulullah saja sudah cukup untuk bekal menjadi orang tua yang penuh kasih, yang ingin anak-anaknya kelak tumbuh besar menjadi seorang khalifah. Karena itu tujuan saya kini.

***
Pukul 18.57 dan listrik masih padam. Sinyal masih belum datang. Dan saya mulai gelisah. 

Ini adalah momen di mana saya duduk di sudut kamar, takut dengan setiap suara. Maka saya memilih menulis, karena dengan menulis saya seolah seperti punya teman bicara. Usia saya memasuki kelas empat SD waktu itu, saat saya menunjukkan hasil tulisan saya, cerita tentang seorang anak yang kabur dari rumah lalu gantung diri di bawah jembatan, dan berkata pada setiap orang bahwa saya ingin jadi penulis. Namun menurut ibu saya, penulis bukanlah profesi yang akan mendatangkan uang banyak, pendapat yang diamini oleh ibu-ibu tetangga yang kebetulan sedang main ke rumah dan melihat hasil karya saya. Jadi pramugari saja, kata mereka selanjutnya. Lalu saya sepakat, dan berubah haluan, bercita-cita menjadi pramugari. 

Tentu tidak kesampean, but I do flying a lot, for work. 

Jika ada yang bilang saya hebat karena sudah membeli rumah sendiri meskipun masih single, itupun karena orang tua saya yang menginginkan anaknya tinggal di rumah. Mereka ingin punya tempat singgah, jika harus menengok orang tuanya di Subang, atau sekedar ingin berlibur dari tanah Papua. Jadilah saya beli dengan menyisihkan sepertiga tabungan setiap bulannya untuk melunasi cicilan. Namun malam ini, justru ketika saat-saat sendirian seperti inilah rasanya saya ingin menangis.

Saya takut sendirian di rumah. Saya tidak pernah menjadi anak pemberani, kecuali ketika memutuskan untuk ikut organisasi pecinta alam. Itu pun karena saya kepalang basah, saya pikir itu bukan organisasi yang sedemikian menyeramkan. Saya pikir itu adalah organisasi yang kerjanya me reduce, reuse recycle, segala yang baik untuk Bumi dan menghentikan pemanasan global. Saya tidak pernah menjadi anak yang kuat, bahkan waktu SMA setiap kali jam olahraga dan harus lari sekedar keliling lapangan atau bahkan cross country, saya selalu menjadi yang paling belakang. Nilai olahraga saya di batas nilai kompeten, tidak pernah lebih baik dari itu, kecuali jika ada ujian teori. Saya mudah sakit, apalagi jika menahan rindu yang teramat sangat. Dulu waktu masih kecil, kami tinggal di Bogor dan ayah saya kerja di Papua, hanya pulang sebulan atau dua bulan sekali, saya selalu sakit jika sudah memasuki minggu ke-dua. Demam tinggi, sampai waktu kepulangan beliau tiba. Di situlah mengapa kami semua memutuskan pindah ke Papua, agar saya tidak sakit-sakitan menahan rindu pada ayah saya, lelaki pertama yang saya cintai, dan sekaligus lelaki pertama yang pernah membuat saya patah hati, lalu memaafkan lagi dan mencintai kembali.

Kini, saat usia saya sudah memasuki usia muda-dewasa. Saya mendapati semua yang saya impikan waktu kecil.. rumah sendiri, hidup mandiri, penghasilan sendiri, waktu yang bisa fleksibel, jam tidur yang bebas kapan pun saya mau, makanan cemilan yang bisa saya makan di atas kasur.. bersyukur? Tentu saja. Masih ada yang kurang? Pastinya. Pasti akan selalu ada yang kurang, bukan?

Namun yang paling terasa sekarang adalah.. saya takut. Saya takut jika gelap ini berlangsung lebih lama, dan baterai laptop saya menyerah. Saya takut jika tidak ada lagi tontonan di download list youtube yang bisa saya tonton, atau powerbank saya kehabisan daya.

Saya takut dengan gelap terisolasi seperti ini..
Padahal kubur nanti, akan seperti ini.
Tapi.. saya masih juga takut..

Ya Allah..
Saya takut.. :’(

***

Bogor, 4 Agustus 2019

Kalau sudah begini ingin rasanya marah dan kecewa berat sama pemerintah, tapi apakah ini karena mereka memang tidak becus? Apa ini karena mereka abai terhadap maintenance? Ataukah memang murni kecelakaan? Semoga Allah merahmati dan melindungi pemerintah yang baik, dan menghukum pemerintah yang dzolim. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …