Skip to main content

Bahwa kita semua nanti akan mati, itu betul

Tapi kebanyakan dari kita terlalu lengah sampai ketika bencana alam datang, semua berbondong-bondong lari keluar ruangan, mencoba menyelamatkan dari apa yang paling pasti akan datang menjemput: kematian.

***

Baru kali ini saya mengalami guncangan sehebat petang tadi. Saat sedang menikmati musik yang mengalun agak rapi dari band kafe, gempa hebat yang bersumber dari Banten datang dengan begitu cepat. Ketika semua orang sibuk berhamburan, saya hanya terdiam mematung, menghitung sambil mengira-ngira kapan guncangan akan reda. Setelah beberapa detik tidak juga reda, perlahan saya bangkit dari kursi, meraih kunci kendaraan atasan saya yang dia biarkan tergeletak di meja (sedangkan pemiliknya sudah lari duluan), dan menyusul ke luar bergabung bersama pengunjung kafe lain. Seolah berjalan dengan tenang, padahal dalam hati sedang menghitung-hitung, jika ini adalah menit terakhir yang saya miliki di muka bumi, amal soleh apa yang sudah saya kerjakan.

"Hilma mah paling tenang.." ujar salah satu atasan saya, yang juga ikut makan malam bersama petang tadi. Saya hanya tersenyum. Karena bukan tenang yang sejatinya sedang saya alami, tapi mengingat-ingat, kesempatan berbuat baik apa yang sudah saya lewati dan tidak akan kembali lagi.

***

Pada beberapa titik dalam hidup, kita -manusia- terlalu sibuk mendamba. Memimpikan hal-hal yang tidak kita miliki, sibuk berangan, dan bahkan menghabiskan berjam-jam hanya untuk menyusun skenario jika nanti keinginan itu terjadi. Padahal, jika diingat kembali, seberapa sering kita memimpikan sesuatu lalu kemudian terwujud, dan ternyata yang kita dapati adalah kenyataan yang tidak seindah kita impikan. Karena memang selalu demikian. Apa-apa yang kita angankan, hanya indah ketika di dalam angan. Karena hanya di dalam angan, kita tidak begitu memperhitungkan resiko yang akan terjadi, atau kalaupun diperhitungkan, kita tidak pernah membayangkan rasa sakitnya ketika faktor resiko itu bermunculan. Angan dirancang sedemikian indah, agar manusia mempunyai hasrat tinggi untuk menemui matahari.

Tanpa kita sadari, justru dengan tidak memiliki hal yang kita miliki itulah sebenarnya hidup kita menjadi lebih mudah. Baik di sini maupun di kehidupan mendatang. Ketika kita tidak punya mobil, lantas mendamba sebuah mobil, lalu seluruh tenaga dan waktu dikerahkan agar bisa membeli mobil, tanpa sadar kita sedang menggadaikan sesuatu yang paling berharga yang tidak akan kita dapati lagi: waktu. Saking sibuknya mengejar mimpi, lupa mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya. Lantas ketika mobil impian akhirnya menjadi nyata, kita makin disibukkan dengan perawatan. Biaya-biaya yang tadinya tidak ada, menjadi ada. Jika tadinya kita cukup hanya dengan berjalan kaki tanpa ongkos, kini harus merogoh kocek tuk beli bensin, ganti oli, perawatan, mengurus perijinan, tol, parkir, dan Pak Ogah.  Kelak di akhirat, pertanggungjawaban yang harus di jawab juga berkaitan dengan si mobil. Dari mana uang untuk membelinya, diperlakukan dengan baik atau tidak selama dimiliki, digunakan untuk kebaikan atau keburukan, kenapa pada hari sekian jam sekian ada orang bukan muhrim yang berdua-duaan di dalamnya.. serentetan pertanyaan itu tidak perlu kita jawab jika kita.. tidak punya mobil.

Terlalu sibuk mengejar mimpi, padahal sebetulnya mimpi-mimpi itu akan terwujud sendiri, jika kita pantas menerimanya. Tuhan selalu punya cara untuk memantaskan seseorang menemui hidup ideal yang dia deskripsikan. Jika sabar, kita akan menemui mimpi kita itu sambil mengumpulkan bekal yang cukup untuk kehidupan mendatang. Jika tidak sabar,. well.. kita akan disibukkan dalam sibuk yang sia-sia.

***
Terus terang saya belum pernah segalau ini sebelumnya. Pertarungan batin antara ingat pasti akan mati, dan mati-matian mengumpulkan amal soleh, dengan melawan hawa nafsu yang kian kuat menggerogoti.

Beberapa hari lalu saya menghadiri perhelatan musik terbesar di Indonesia. Jazz Gunung yang digaung-gaungkan oleh para pecinta, penikmat, atau pemotret musisi. Setelah dua bulan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan musik dari hidup saya, dua malam itu sanggup menyingkap semua tabir yang coba saya selubungkan.

Pasalnya, saya adalah orang yang mudah tersentuh oleh musik. Oleh lirik indah, atau nada yang mengalun rapi. Ada kan orang-orang yang tidak tergerak sama sekali, nah saya yang termasuk mudah terbawa suasana dengan musik. Saya bisa mengungkapkan perasaan lewat lagu, dan menerima ungkapan perasaan lewat lagu dengan hati yang penuh terbawa rayu. Di sisi lain, saya sadar betul pengaruh musik terhadap keseimbangan otak itu seperti apa. Saya sulit menghafal ayat kitab suci, lalu jika sudah hapal, mudah sekali tersapu bersih hanya dengan mendengarkan satu lagu.

Maka malam itu, demi mengikuti keinginan massa di kantor, saya menghadiri perhelatan musik di malam pertama, dengan air mata menggantung. Antara senang dengan alunannya, dan tidak rela jika baris-baris ayat yang sudah saya hapalkan mati-matian hilang bersih dan harus mulai dari nol lagi.

Lalu saya kembali teringat dengan mati.. meski kita tidak bisa mengatur bagaimana kita ingin mati, tapi saya takut jika kematian saya justru terjadi di tempat yang begitu sia-sia. Di perhelatan ini, misalnya. Saya takut sekali. Gempa tadi juga mengingatkan, karena ketika itu terjadi, saya tengah bergoyang kecil sambil bernyanyi. Saya mohon ampun pada Sang Maha Kuasa.

Jika sudah begini, ketakutan demi ketakutan ini saya bungkus dengan rapi, dan saya simpan di catatan ini. Sebagai pengingat, jika kelak suatu nanti saya melenceng lagi, ada tulisan ini yang akan membantu mengingatkan, betapa saya pernah ingin sekali berubah menjadi orang baik. Saya ingin berubah, sebagaimana musim yang terus berganti. Namun sulit, jika saya terus menerus sendirian. Melawan arus bukan hal mudah. Saya butuh teman.

***

Bogor, 2 Agustus 2019
Perempuan tidak diciptakan untuk berdiri sendirian, karena Hawa pada dasarnya ada karena Adam kesepian. Tuhan tidak pernah mengisahkan suatu cerita tanpa makna. Maka pasti. bahwa itu adalah pasti, seorang perempuan kelak akan diutus untuk menemani lelakinya. Tapi untuk bisa sampai ke sana, seorang perempuan harus menempuh serangkaian 'persiapan', dan disitulah ketika dia diuji dengan berbagai hal. Karena untuk menjadi seorang teman, pendamping, penguat langkah, dan penyetara, perlu latihan yang tidak sebentar, dan tidak main-main. Saat latihan ini harus serius, jika hasilnya nanti ingin serius juga. Pertama, kita harus bisa berdiri di kaki sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert