Skip to main content

12:111

Disusun dengan begitu indah, surah ke-12 di dalam Al-Quran ini terdiri dari 111 ayat. Yang setelah ditelaah oleh Ust Nouman Ali Khan, surah ini ternyata simetris. Jika ceritanya dibagi berdasarkan kejadian maka akan terdapat 12 kejadian, satu kejadian menjawab kejadian yang lain sehingga jika diurutkan akan menjadi enam bagian:
Satu, Nabi Yusuf bermimpi
Dua, Saudara-saudaranya menyusun rencana jahat untuknya
Tiga, Nabi Yusuf digoda oleh istri menteri
Empat, Nabi Yusuf digoda oleh perempuan-perempuan yang mengiris tangannya
Lima, Nabi Yusuf dipenjara
Enam, Raja bermimpi.

Lalu bagian selanjutnya tersusun sebagai akhir dari cerita tadi, tapi secara diagonal.
Tujuh, Nabi Yusuf menafsirkan mimpi raja (menjawab bagian enam)
Delapan, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara (menjawab bagian lima)
Sembilan, para perempuan itu bersaksi akan keshalihan Nabi Yusuf yang tidak sedikitpun menggoda mereka, (menjawab bagian empat)
Sepuluh, Istri menteri mengaku bahwa dialah yang merayu Nabi Yusuf (menjawab bagian tiga)
Sebelas, saudara-saudara Nabi Yusuf mendapati pelajarannya setelah bertemu kembali dengan Nabi Yusuf (menjawab bagian dua)
Dua belas, Mimpi Nabi Yusuf tentang sebelas bintang dan bulan bersujud padanya tertafsirkan, (menjawab bagian satu).

Dan sebagaimana Allah mengisahkan cerita ini dengan begitu indah, Nabi Yusuf pun terkenal dengan ketampanannya. Ketampanan yang menurut manusia semestinya beliau adalah malaikat, saking tampannya.

***

Itulah kenapa saya ingin sekali menjadi seorang storyteller. Karena pelajaran paling mudah meresap jika diajarkan melalui cerita. Al-Quran sendiri mengandung banyak cerita untuk kita petik pelajarannya.. Kisah para nabi dan rasul, semua dituturkan dengan bahasa yang indah, Bahasa Pemilik Semesta.

Semakin saya sadar dengan banyaknya cerita indah yang dikisahkan Al-Quran, semakin saya ingin mendengar dan membaca lebih banyak, dan semakin ingin saya kisahkan juga pada keturunan saya kelak.

Mereka tidak akan saya ceritakan dongeng putri raja yang mendamba pangeran. Karena itu hanya akan membuat mereka berangan-angan tentang pernikahan sejak usianya masih sangat dini. Tidak juga akan saya ceritakan kepahlawanan palsu seperti pria bertopeng, karena itu hanya akan memotivasi anak untuk berlaku jahat meski niatnya baik.

Kita punya banyak kisah kepahlawanan yang asli, nyata terjadi. Kisah para sahabat Nabi di medan peperangan, seperti Khalid bin Walid sang pedang Allah, atau Umar bin Khattab yang sangat keras wataknya, Utsman bin Affan yang pemalu, Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan luwes dalam bergaul, serta Abu Bakar ash Shiddiq yang lembut hatinya. Kita punya banyak contoh, dan bisa menanamkan idola itu jika diceritakan dari mereka kecil. Alangkah indahnya (dalam bayangan saya) jika anak kita nanti mengidolakan salah satu atau beberapa sahabat nabi, dan bertekad untuk tumbuh besar sepertinya..

Untuk bisa menceritakan itu semua pada mereka kelak, maka saya harus memperbanyak bacaan tentang kisah-kisah tersebut. Makanya saya bersyukur masih diberi keleluasaan waktu hingga sekarang, untuk bisa menggali segala ilmu yang kelak akan berguna bagi mereka.

***

Sudah dua hari saya terkapar di tempat tidur. Berusaha sambil menyelesaikan pembuatan video yang entah kenapa sulit sekali dimulai.. saya bahkan tidak tahu mau mulai dari mana. Dua hari melawan rasa sakit yang tiba-tiba datang lagi, entah kenapa, padahal saya pikir pola makan saya sudah teratur, tidak aneh-aneh, tidak terlalu melanggar aturan kecuali sambal petis setengah jar yang habis sama saya sendiri dan yah.. entahlah. Mungkin memang mesti begitu, ada dosa-dosa yang saya tidak sadar telah saya lakukan atau sebenarnya sadar tapi pura-pura gak sadar sehingga mesti diingatkan dengan sakit berturut-turut ini.

Alhamdulillah sore ini sudah berangsur pulih, meski masih ada cekit-cekit dan perih-perih tapi saya anggap itu biasa. Tidak mau terlalu ambil pusing karena toh bukan pertama kali. Makanya saya bersyukur jadi orang yang gampang sakit, dengan begitu saya jadi mudah sekali bahagia jika sedang sehat walafiat, bisa lincah, enerjik, antusias, dan membahagiakan banyak orang dengan energi yang kelebihan berlimpah itu.

Karena sakit itu tidak bisa kita rencanakan, datangnya juga kita tidak tahu kapan. Makanya saya kesal sekali tadi waktu mbak-mbak telemarketer (yang sumber datanya datang dari kartu kredit yang sama) nelpon lagi, padahal kemarin sudah saya blok nomornya hari ini dia telpon dengan nomor berbeda. Saya bilang saya lagi sakit, mbak! dengan ketus tapi suara lemah. Mbaknya malah nanya baik kapan kalau gitu bisa dihubungi lagi? langsung saya tutup gak jawab. Ya pas sudah sembuh lah. Kalo ditanya kapan sembuh ya gak tahulah. Maunya sih sekarang juga sembuh! Kesel.

Mungkin bisa jadi juga sakit ini datang karena beberapa hari lalu sempat ngediemin telepon mbak mbak marketer dari kartu kredit yang sama, dia tidak mau ditutup dan terus berbicara jadi saya biarkan dia berbicara, dan handphone saya taruh di meja. Setelah dia sadar saya tidak mendengarkan, dia tutup sendiri. Jahat? Iya. Mungkin itu juga sebab saya sakit dua hari ini. Yang jelas, datangnya sakit itu karena dosa, dan dengan izin Allah, sakit pun juga adalah penggugur dosa. Makanyaaa, sekali lagi saya bersyukur bisa dapat sakit, Insya Allah dosa saya digugurkan. Karena dosanya banyak, jadi sakitnya sering. Hehe.

***

Menjadi storyteller banyak caranya. Bisa dengan lisan, berdongeng, bisa dengan menulis, bisa juga dengan membuat video. Semuanya saya suka. Apapun saya suka asal itu nantinya membawa pesan-pesan kebaikan untuk banyak orang. Semua saya lakukan sebagai ajang latihan. Supaya nanti, keturunan saya tidak akan kekurangan asupan cerita dan pelajaran hidup yang terkandung di dalamnya. Insya Allah.

***

Bogor, 08 Agustus 2019
Random sekali tulisan hari ini, karena kepala saya masih sakit, tapi ingin menulis.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …