Skip to main content

Pillow Talk

Aku sudah tidak lagi tertarik pada obrolan basa-basi. Tidak tentang kehidupan orang lain, apalagi kemewahan hidup artis masa kini. Aku tidak tertarik tuk membicarakan cerita fiksi, apalagi dongeng-dongeng masa kecil.

Pada titik ini aku hanya peduli dengan tujuanku berjalan di muka Bumi. Menggali, dan membahas hal-hal yang memperkaya keyakinanku, menguatkan keteguhanku, akan jalan yang aku pilih.

Jadilah malam ini, ketika seorang sahabat lama tanpa sengaja memilih bermalam di rumah, kukisahkan padanya tentang semua yang aku ketahui. Semua yang menghantui pikiranku. Tentang Ruh dan penciptaannya. Tentang alam Ruh dan perjalanannya. Tentang dunia yang hanya senda gurau. Tentang waktu yang berjalan secara berbeda di setiap alamnya. Tentang pengumpulan di Hari Akhir, tentang Barzakh dan Alam Akhirat. Tentang perjalanan ke dalam diri sendiri. Tentang menjadi ibu.. dan melahirkan Generasi Penakluk Roma. Tentang bisyarah Rasulullah SAW yang tidak pernah bohong, tentang penaklukan Konstantinopel dan perjalanannya. Tentang cahaya Ruh yang menuntun dalam perjalanan ini. Dan tentang sumber cahaya serta hati yang menjadi ‘gelas’ tempat Ruh berada.

Semua berakhir pukul satu lewat tiga belas menit. Ditutup dengan meyakinkan diri sendiri bahwa tujuan adalah menjadi seorang Ibu bagi generasi yang kelak akan menjadi bagian dari kejayaan Islam di muka Bumi. Sesuatu yang pasti akan terjadi.

Jika sudah begitu.. tujuan-tujuan lain menjadi nampak kecil dan tidak berarti. Berkarir tinggi, bergaji besar, belanja sepuasnya, sudah tidak lagi membahagiakan dan tidak lagi memuaskan hasrat. Semua mendadak jadi biasa saja terasa, karena yang kita damba hanyalah agar membuat Allah bangga. Dia dan hanya Dia.

Aku tidak lagi tertarik pada mereka yang mencoba menggoda dengan cara yang biasa-biasa. Dengan mengajak menghabiskan waktu di ruang gelap, ramai bersama khalayak, menyaksikan manusia berkostum merah biru dengan kekuatan laba-laba menyelamatkan bumi.

Bukan dia yang akan menyelematkan Bumi. Tapi anak-anakku dan generasinya nanti. Bukan saja menyelamatkan Bumi dari tangan-tangan serakah perusak alam, tapi juga menyelamatkan Bumi dari manusia-manusia yang ingin meracuni pikiran. Membuat orang menyembah sesama manusia, mendewakan artis idola, sampai mengikuti jejak cara hidup yang kadang justru konyol.

Aku ingin anak-anakku kelak mengidolakan Rasul mereka. Mengidolakan Khulafaur Rasyidin, dan meniru kegigihan Muhammad Al-Fatih. Aku ingin mendidik anak seperti cara Al-Fatih dididik. Dikisahkan peperangan yang gagah berani. Keistimewaan menjadi seorang ksatria Muslim. Dan menanamkan rasa bangga di dalam dirinya jika kelak ia disandingkan dengan keberanian mereka.

Untuk bisa demikian, aku harus belajar kisah-kisah Nabi dan para sahabat dalam kegigihannya berperang. Mempelajari kecerdikan Al-Fatih dalam menyusun strategi, untuk kuceritakan pada mereka nanti setiap pagi dan petang. Kalaulah aku masih terkesima dengan manusia laba-laba, bagaimana mungkin anak-anakku akan jatuh hati pada para Ghazi.

***
Hidup di dunia ini hanya senda gurau.
Jangan terlalu serius mengejarnya. Biasa saja.

***
Bogor, 14 July 01.28
Kusenang kalau ada yang nginep. Ga sendirian di rumah deh. Yaay

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …