Skip to main content

Inner Battle

"Baiklah, sekarang gw akan donasiin duit seratus ribu gw. Hmm.. kemana ya.. ke orang yang minta-minta, apa ke mesjid aja? Kalo ke orang yang minta-minta, ga jamin juga dia sebenernya pengemis apa bukan. Ke mesjid aja deh." Lalu dia berjalan ke masjid. Melepas alas kaki, dan menitipkan di tempat penitipan. Selesai mengambil air wudhu, bergegas masuk dan sholat.

'Allahu akbar'
'Hmm.. habis ini ditaro di mana ya baiknya. Ada banyak kotak-kotak sih. Taro di yang kecil apa yang gede ya? Eh tadi di depan ada yang ngasong-ngasong bawa kotak sumbangan bukan? Katanya itu buat perbaikan atap mesjid..'

'Allahu akbar'
'Sama gak ya sama yang di kotak-kotak dalam ruangan ini?'

'Sami'allahulimanhamidah'
'Tapi kalo ditaro di yang ngasong-ngasong itu malu keliatan orang yang bawa kotak asongannya. Di dalem aja lah'

'Allahu akbar'
'Oke fix taro di dalem. Cuma mesti cari tahu pastinya kotak itu isinya bakal dipake buat benerin atap apa bukan'

'Allahu akbar'
'ya liat ntar deh.. pokoknya jangan sampe gak jadi lagi aja' 

***

Bahkan untuk mau melakukan perbuatan baik saja, kita mudah sekali mengiringinya dengan perbuatan dosa. Abai dalam solat, sampai lupa rakat hanya untuk merencanakan memberi sedekah kepada siapa setelah ini.

Jangan dipikir jika kita sudah sering solat, ngaji, sering puasa dan ikut kajian ceramah, itu kita benar-benar sudah aman dari api neraka. Jangan senang dulu. Bisa jadi malah makin berat godaannya. Tergoda untuk pamer, sedikit pamer saja sudah riya, dosanya besar. Atau kalau bukan pamer, memandang rendah orang lain yang dinilai tidak sama amal ibadahnya dengan kita, masuk ke sombong. Dosanya.. besar juga.

Setelah sedekah itu diberi pun, otak masih mengingat-ingat pemberian itu. Kalau dibilangnya Ust Khalid Basalamah, itu sudah mengalir di dalam darah, menunggu sewaktu-waktu untuk keluar. Harus buru-buru dihapus dengan istighfar dan ta'awudz. Bahaya kalau sampai keluar dan terekspresi. Amal ibadah sehabis membangun mesjid pun bisa langsung tersapu bersih kalau sesudahnya jadi sombong dan mengecilkan orang lain.

Sungguh ya, dunia ini benar-benar cobaan. Segala bentuk tes dari yang paling sepele dan kasat mata sampai yang raksasa tapi transparan, ada semua. Ngeri kalau dibayangkan di hari perhitungan nanti, timbangan kita ternyata imbang.. amal baik yang susah payah dikumpulkan, bangun solat malam jadi imbang karena paginya ngomong dengan maksud untuk pamer bahwa semalam kita tahajud. Padahal melawan untuk tidak pamer itu juga susahnya minta ampun.

Siapa bilang ikhlas itu gampang. Pelajaran seumur hidup yang levelnya naik terus. Level legend baru bisa diraih kalau maut sudah dekat. Dan kalau sudah dekat, ya sudah.. tamat.. sudah gak bisa lagi menikmati keberhasilan berhasil ikhlas.

Kenapa sih kita diuji terus.. Allah ga pengen apa kita hidup bahagia..

Justru Allah pingin kita hidup bahagia, yang selama-lamanya di akhirat sana. Jadi dibikin biar jangan betah-betah amat di Bumi.

Kenapa makin kesini orang makin cepet mati? Dulu Nabi Adam umurnya bisa sampe ribuan tahun.. Nabi Musa juga.. kenapa sekarang orang umur empat puluhan aja udah banyak yang meninggal karena penyakit..

Yaa gak tahu, mungkin karena hidup makin kesini makin enak. Dunia makin mudah di akses, dan Allah saking sayang sama hamba-Nya, gak mau hamba-Nya keenakan terlena di dunia. Kalau dulu kan Nabi Adam, mau makan aja mesti berburu.

Dunia itu seperti ujian praktikum, yang mestinya gampang untuk lolos. Tapi yang bikin susah justru datangnya dari hal-hal sepele.. semacam suka menunda-nunda, malas, malas ibadah, mudah terdistraksi, lebih banyak mikirin level game daripada Allah.. memandang enteng ibadah.. ngerasa kalau ibadah yang penting solat udah cukup.. padahal bisa jadi impas. Solat cuma untuk menyeimbangkan dosa yang dibuat di antara dua waktu solat, dan seterusnya.. kapan nabungnya.

Semisal mencari tujuan juga mestinya gampang: Allah. Menjadikan Allah sebagai tujuan, kedengarannya sederhana dan semua orang juga tahu. Tapi bo, prakteknya.. fiuh.

Sesimpel dapat kepercayaan beli souvenir kecil-kecil saja, yang mestinya dipakai untuk keperluan kantor, lalu ada orang luar kantor, kenalan dekat, yang pingin minta. Itu kalau dikasih.. bukan hak kita, bukan punya kita, kalau gak dikasih bakal disangka pelit amat kecil gitu doang, tapi kalau dikasih bisa jadi itu jadi bahan hukuman nanti di kubur.. dan kalau dibalikin lagi ke tujuan, misal tujuannya Allah gitu ya.. berarti menolak untuk memberi souvenir itu ke yang minta.. dengan resiko dijauhi karena pelit.

Kalau saja semua orang ingat sakitnya rasa potong tangan apalagi di kubur yang nanti disiksanya berulang-ulang, pasti gak ada orang berani korupsi.

Itu kalau potong tangan. Kalau ternyata hukumannya ditimpa tameng captain america sampe tulangnya remuk, terus disatuin lagi, trus disiram air mendidih, sampe kulitnya melepuh dan habis, trus balik lagi, and repeat.. gimana. T.T

Takut bet lah.

Kalau lagi begini, gw suka merinding sendiri. Merinding sekaligus jengkel sama orang-orang yang kalau ngomong suka seenaknya, meskipun cuma bercanda. Jadinya makin jengkel karena, kenapa sih orang mesti bercanda dengan hal-hal bodoh nan tidak perlu. Ngapain sih gak berbobot dipiara.. lalu gw dicap sebagai si kaku yang ansos dan ga asik.

Hoaa entahlah.

Menyamakan tujuan, dan kalau tujuannya itu adalah Allah, terdengar sedap dan indah dijanjikan nanti diakhirnya. Tapi perjalanannya di dunia ini pasti penuh resiko, duri, kerikil, ups and downs, unless ups nya setinggi Everest dan downs nya sedalam palung Sulawesi. Hiks.

***
Beruntunglah kalian yang sudah menemukan pasangan, dan kalian sevisi. Ingin di jalan Allah dan berusaha mati-matian untuk istiqomah. Kita semua tahu hijrah itu mudah, yang sulit itu ya bertahannya. Kita semua tahu memutuskan untuk membeli gamis panjang itu mudah. Yang sulit itu ya mengenakannya apalagi kalau belinya cuma satu dan harus dipake terus-terusan. Bau bo.

Tapi jangan takut.. jangan khawatir. Selagi masih ada umur, berarti masih dikasih kesempatan untuk kembali lagi, ke jalan yang dijadikan tujuan. Kalau udah timeout, itu baru khawatir. Eh tapi udah gabisa ding, kan udah timeout gimana mau khawatir.

***

Ketidakjelasan ini kita akhiri saja sampai disini,
Karena semakin malam rasanya otak gw makin kacau, sibuk berteka-teki kenapa begini dan kenapa begitu.
Allah punya banyak rahasia yang gw ingin tahu kenapa Dia rahasiakan, dan apa makna-maknanya.
Karena ternyata..
Semakin gw mencari..
Semakin gw sadar apa-apa yang dulu gw pikir gw tahu, itu tidak ada arti apa-apa.
Seperti misteri box, yang ada lagi ada lagi kalau dibuka.

Goodnight

***
Bogor, 9 Juli 2019
5 tahun yang lalu gw bersukacita pas tahu hasil quick count yang menang Jokowi. Sekarang.. gw menyesal setengah mati.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …