Skip to main content

Bukankah ini yang kamu mau sejak dulu?

Hari ke-dua menjalani rutinitas commuter line pagi buta, (ga buta buta banget si sebenernya, cuma biar greget aja), menjelang hari ke-tiga gw sudah bernafas lega. Tiga hari. Cuma tiga hari mengikuti kelas workshop di Kemenaker, cukup untuk membuat bersyukur berkali-kali kantorku masih di Bogor. Di kota yang sama tempat sebuah bangunan kusebut sebagai rumah.

Tepat ketika si mbak announcer kereta mengumumkan kereta kami sudah tiba di stasiun akhir, Stasiun Bogor, isi kepala gw malah melayang jauh ke masa lalu. Memasuki kota masa kecil, tempat gw menangis meraung-raung di pinggiran stasiun, cuma untuk minta dibelikan jajanan tidak sehat yang mama larang demi keselamatan. Anaknya ini terlalu gampang sakit untuk dibiarkan jajan sembarangan, tapi terlalu keras kepala untuk dilarang. Jadilah keras kepala kami beradu. Dengan tangis keras yang bikin malu.

Haha..

Kota tempat gw kecil main di kali..
Tempat gw menyaksikan lalu lalang perempuan muda-dewasa menghabiskan hari-harinya. Mengamati mereka di angkot, yang.. sebagai anak SD, biasanya kalo ga ditaro di kursi ulang tahun, dipangku sama entah siapa aja yang mau mangku.

Sambil menelusuri koridor panjang menuju tapping tiket elektronik dan pangkalan ojek online, pikiran gw kembali mengingat-ingat apa yang ada di pikiran gw waktu kecil dulu.

Di benak masa kecil gw, definisi hidup ideal dan bahagia adalah: mandiri, punya gaji sendiri, punya kunci pintu sendiri (entah itu pintu kamar atau pintu rumah, yang jelas keluar rumah trus mengunci pintu, dan memasukkan kuncinya ke dalam tas itu adalah istimewa), single, bisa bangun siang, bisa tidur seharian kalau weekend. Agak gedean dikit, masuk usia SMP, gw tambahkan lagi satu kriteria; punya kendaraan sendiri. Mau motor, mau mobil, yang penting kendaraan.

Sekarang..

Look at me now.
Semuanya tercapai dong. Gw punya kerja, gw tinggal sendirian, ada rumah yang mesti gw kunci bolak balik.. tiga lapis pula.. kalo weekend apalagi pas lagi dapet gw bangun jam delapan, kalo ngantor pun bangun jam delapan (abis subuh tidur lagi karna bingung mau ngapain), dan gw punya kendaraan sendiri (meskipun akhirnya gw jual setahun lalu karna males ngurusin surat-suratnya).

Pada akhirnya apa yang ada di benak gw sebagai cita-cita, ketika terwujud rasanya tak seindah yang dibayangkan. Walaupun ttp sangat indah ketimbang kalau tidak terwujud. Haha.

Jadi setiap kali pikiran-pikiran macam: pulang kantor capek kerja sampe rumah, rumah kosong.. itu gue hempaskan jauh-jauh. Hush! Bukannya ini yang kamu mau dari dulu?! 

Biasanya kalau sudah begitu, gw akan berhenti mendamba masa depan. Berhenti menggambarkan masa depan yang ideal, supaya biar tetap jadi misteri. Let the surprise remain a mystery. Sehingga, kalau suatu nanti masa depan itu datang, gw gak perlu lagi sibuk meyakinkan diri bahwa ini seindah yang dibayangkan. Imajinasi kadang suka merusak realiti. 

Jadi untuk sekarang, pulang kantor rumah gelap, pulang commuting capek dan gak ada tangan-tangan kecil yang menyambut, yasudah biarkan saja. Toh.. begini kan yang kamu anggap ideal dan bahagia waktu kecil :)

***
Bogor, 24 July 2019
Am exhausted but so full of life

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …