Skip to main content

The blessings that taken for granted

The airport seems empty, it was only us and some other passengers from another plane. Each walk to their own destination; exit door, or transit gate. My boss and I, we took a couple of pictures before stepping our foot into the next X-ray to the transit gate.

Sepinggan Airport is one of my most favorite airports. The signs are easy to understand, the facility is almost complete (they even have one-stop shopping facility inside), plenty and plenty food outlet. My most favorite outlet is Mantau, a rounded bread with unique texture in its bite. Best combo with black pepper beef, and if I buy one of those in take away, I sure hell will buy another one to dine in. It tastes amazing.

The airport has everything, I only notice this because I was once trapped there for ten hours delay. We fly with the best airplane company in this country, and yet it still unable to manage the hectic season. It was the end of the year, the peak of the peak season. So here is the blessing that I took for granted:

My boss and I were on a pretty tight schedule. Before we landed that morning, we were in several flight back and forth. We didn't managed to stay at home for even 4 hours. The routes are: Berau - Bogor (home to switch suitcase) - Sentul - and then Berau again.

Jadwal itu saya atur dengan sangat rapih, yaitu assessment di Berau dalam beberapa hari, kemudian kembali ke Bogor lalu lanjut ke Sentul untuk meeting dalam beberapa hari berikut, selepas meeting kembali ke Bogor malam hari, dini harinya berangkat lagi ke Berau agar bisa mengikuti meeting terakhir pukul 9 pagi.

Kami berangkat pukul dua, lepas landas dari Soekarno-Hatta pukul enam, lalu tiba di Sepinggan pukul delapan. Seharusnya kami terbang lagi ke Berau pukul sepuluh, tapi Allah punya rencananya sendiri.

Allah tahu kami lelah. Allah tahu disamping jadwal padat yang mengejar-ngejar, kami punya beberapa tugas laporan yang harus diselesaikan. Dan Allah tahu, betapa si pemberi laporan itu sangat berharap kami segera menyelesaikannya.

Jadilah hari itu, kami duduk menunggu pesawat, dengan muka datar tanpa marah-marah, karena bisa duduk bersisian mengerjakan laporan yang lama tertunda hingga selesai. Setelah itu saya masih punya waktu untuk berjalan-jalan, mengidentifikasi satu per satu jajanan yang ada di bandara ini, bahkan menikmati fasilitas bioskop bandara yang memutar film Captain America. Beristirahat.

Pukul tujuh tiga puluh kami masuk ke pesawat dan tidak lama kemudian lepas landas. Jadwal meeting yang semula pukul sembilan pagi, batal total karena kami justru baru mendarat di Berau pukul sembilan malam. Sejak itu saya belajar bahwa dalam menyusun perencanaan apapun itu, termasuk jadwal yang sepertinya pasti sekalipun, jangan pernah lupa mengucap 'Insya Allah'. Saya memohon ampun pada-Nya atas kealpaan saya saat itu. Benar-benar jangan pernah lupa, dan baru kemarin saya ketemu ayatnya di dalam Al-Quran, tapi saya lupa ayat berapa, kalau gak salah di surah Al-A'raf.

So what's the blessing that taken for granted?

Yaitu untuk bisa membuat kami menyelesaikan laporan itu dan menikmati waktu untuk beristirahat sejenak, Allah mengirimkan kehendak-Nya untuk kerusakan pesawat. Dibalik itu, tentu ada seseorang yang berbuat kesalahan. Pada bagian mekanik, atau teknis lain. Orang itu mestilah punya alasan kuat kenapa dia berbuat kesalahan. Kenapa bisa terluput darinya bahwa ada hal yang harus diperbaiki sebelum memutuskan pesawat itu digunakan. Allah membuat orang itu punya masalah, dan dibalik itu ada sekelumit alasan demi alasan yang akhirnya membuat dia membuat kesalahan tersebut.

Jadi, supaya bisa membuat kita menyelesaikan tugas, ada sepasukan orang yang Allah kerahkan, dengan skenario beragam, agar bisa membuat pesawat kami gagal terbang dan kami.. juga digiring sedemikian rupa agar bisa menumpang pesawat itu. Masya Allah.

***

Restoran hotel lengang di satu sisi, dan ramai di sisi lain. Kami, saya dan salah seorang trainer yang kami hire untuk mengisi pelatihan yang kami buat, memilih untuk makan siang di sisi yang lengang. Kami tahu meja itu tidak diperuntukkan bagi para tetamu, karena tidak ada gelas air putih yang tersedia di atasnya. Kami tidak peduli. Tetap duduk dan menikmati piring demi piring yang kami ambil silih berganti. Sambil sesekali berbincang mengenai hal ringan seputar pemilihan hotel dan perbandingan hotel demi hotel.

Sampai pada satu topik di mana trainer tersebut berkata, bahwa sebenarnya jadwalnya berbenturan. Tapi beruntung (katanya) pihak sebelah membatalkan jadwal tersebut dan menggesernya ke hari lain. "Tadinya saya mau nelpon habis lebaran, bilang kalau saya tidak bisa isi training ini. Tapi di sananya keburu membatalkan" 

Dalam hati saya bersyukur.
Tidak terbayang bagaimana paniknya saya, jika selepas lebaran mendapat telepon seperti itu. Karena urusan yang sedang saya urus bukan hanya satu training itu, melainkan ada training lain, dan ada pengaturan beberapa project yang harus saya selesaikan. Ponsel saya penuh dengan dering telepon silih berganti, dan pesan tak henti-henti sampai saya harus mematikan nada karena toh walaupun tidak berbunyi, ponsel itu selalu dekat dengan saya dan saya periksa setiap menit. Tidak perlu rasanya saya menambahkan bunyi hanya untuk tahu bahwa ponsel itu sedang berisi pesan yang menunggu untuk dibalas.

Lalu saya membatin,
Oh berarti.. ketika saya memohon pada Allah agar pelatihan ini sukses, yang Allah bantu bukan hanya tentang jumlah peserta yang masih terus bertambah hingga hari-hari terakhir, bukan juga kemudahan yang didapat dari pihak hotel yang menyediakan layanan, bukan saja tentang vendor-vendor yang memberikan hasil terbaiknya untuk kami bagikan ke peserta.

Tapi kehadiran orang per orang pun adalah karunia-Nya.
Untuk bisa membuat satu pelatih itu hadir dalam acara kami, ada orang di sana yang berdebat mengenai jadwal mereka. Yang untuk berbagai alasan, harus diundur, berbagai alasan yang Dia kerahkan agar tidak jadi jalan. Agar bapak ini bisa memenuhi janjinya pada kami yang sudah diikrarkan sejak berbulan lalu.

Masya Allah.

Sungguh benar bahwa Dia senantiasa dalam kesibukan, walau tidak pernah merasa disibukkan. Selalu menolong kita-kita di sini tanpa kita tahu. Mungkin sebenarnya ada mobil yang mau menabrak kita, tapi di sadarkan pengemudinya agar tetap awas dalam berkendara. Mungkin ada ranting yang hendak jatuh menimpa kita, tapi ditahannya sampai kita lewat baru dibiarkan jatuh. Mungkin, dan hanya mungkin. Kemungkinan yang pasti mengarah pada kebersyukuran, bahwa betapa kita ini selalu selamat karena Dia senantiasa melindungi kita bahkan dari marabahay sekecil apapun.

Jikapun pada akhirnya ada musibah yang menimpa, jika itu adalah fisik maka itu cara-Nya melindungi hati kita untuk tetap dekat dengan-Nya. Jika kita kehilangan organ tubuh, adalah cara-Nya mengurangi kita dari beban hisab yang akan memberatkan. Jika kita kehilangan nyawa, adalah cara-Nya menyudahi kita menambah timbangan dosa dan meringankan timbangan kebaikan. Allah Yang Maha Baik, selalu ingin hamba-Nya selamat, He wants us to make it in this world. Allah Maha Merencana, selalu ingin hamba-Nya berpikir dan tidak bodoh apalagi membodohi diri sendiri, bahwa every turn of event, there His blessings and His plan. And He is the most perfect planner of all. 

kulla yaumin huwaa fii sya'n

***

Bogor, 19 Juni 2019
Selesai sudah satu training, and now am home to Netflix. Netflix, here I come.

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…