Skip to main content

Merauke

And tonight.. I wanna tell you a little sweet story. About a town, that doesn't wanna be found. In the Eastern side of Indonesia, and it fills with hope.

***

Kota kecil itu begitu sepi, jalan raya yang disebut sebagai jalan utama hanya cukup untuk dilewati dua mobil. Jika malam tiba, jalanan gelap itu menjadi cara bagi para ibu menakut-nakuti anaknya yang ingin main keluar. Tak ada lampu jalanan, tak ada hingar bingar kota. Sepi.

***
Tiang berwarna kuning itu menjadi pusat perhatian. Semua orang bangga melihatnya. Menyaksikan betapa jalanan kecil kini telah tumbuh menjadi lebih besar. Rupa-rupa kendaraan bisa lewat dengan leluasa, ditambah lagi dengan adanya tiang kecil yang menampilkan lampu warna-warni. Merah, kuning, hijau. Semua orang senang dengan hadirnya si tinggi pengatur jalan. Adalah hal paling baru di kota ini.

***

Sampai di situ, saya berhenti mengikuti perkembangan. Tidak pernah saya menyaksikan, bagaimana jalanan yang lebar itu semakin menjadi lebar. Bagaimana tugu-tugu diperindah, patung-patung ditegakkan, dan bangunan demi bangunan bermunculan. Yang saya tahu, setiap kali saya kembali, pulang bukanlah kata yang tepat. Saya seperti menjejakkan kaki di tanah yang asing, namun begitu familiar.

Masa kecil yang saya habiskan di sana memang terlalu singkat. Tapi cukup untuk membuat saya mengerti sedikitnya perbedaan dalam bahasa anak-anak. Apa yang dulu saya kenal sebagai permainan sembunyi-sembunyi, mereka di sini pun mengenalnya dengan petak umpet. Aturan permainan berlaku universal, meski dalam bahasa dan nada yang berbeda. Anak kecil, berpencar di seluruh muka Bumi Pertiwi, namun menyuarakan bahasa yang sama. Bahasa kegembiraan. Bahasa Harapan.

***

Perpustakaan daerah masih berdiri tegak, bahkan lebih baik dari yang pernah saya ingat. Tiang bendera merah putih menjulang bangga, seolah berkata di sinilah anak-anak kami dapat membaca. Saya meminta secara khusus untuk berhenti di depannya. Untuk menyapa secara sembunyi-sembunyi, lalu mengabadikannya dalam satu dua potret yang saya simpan sendiri. Di perpustakaan itu pertama kali saya mengenal kata Geisha. Mengenal ada makhluk bernama Hobbit, dan bertualang memasuki lorong-lorong Diagon Alley. Dari perpustakaan itu saya turut memecahkan kasus demi kasus di Baker Street, mempelajari kata sumpah serapah, dan memimpikan bahwa suatu hari.. pasti suatu hari, saya akan menjadi seorang penulis. Sebuah cita-cita yang sudah saya utarakan jauh hari, sebelum mengenal buku tanpa gambar.

***

Merauke sudah bukan lagi kota kecil yang tidak ingin ditemukan. Kini, siapa saja bisa menjejakkan kaki di sana, bahkan mereka yang datang jauh dari negeri antah berantah pun memilih menetap di sana. Menjadikannya sebuah kota yang penuh harapan, menjanjikan pundi pundi rupiah dan minyak bagi siapapun yang mau berjuang.

Wajah-wajah asing selalu saya temui di setiap sudut kota. Nyaris tidak ada lagi yang saya kenal, apalagi mengenali saya. Tidak ada kawan lama yang menyapa tiba-tiba, lalu berpelukan erat dan takjub dengan metamorfosa masing-masing. Tidak ada sapaan yang menyambut untuk menikmati kenangan masa kecil, karena saya begitu terasing di kota ini, bahkan sejak masih bersama dalam kumpulan anak sekolah.

Jalanan kecil kini membelah hingga jauh. Menembus hutan, rawa, dan sungai. Menyatukan mereka yang tidak pernah tersentuh sebelumnya. Teknologi, arus listrik, budaya, informasi, baur membaur bagai air bah yang deras menyerbu. Setiap orang menyambutnya dengan sukacita, tanpa tahu bahwa itulah sumber bencana. Ketika menerima sesuatu yang baru dengan tangan terbuka, tanpa pengetahuan yang terjaga.

Ada titik nol kilometer yang menjadi perbatasan negeri. Ada rumah semut yang hanya ada di dua tempat di dunia. Ada keunikan langka yang kita tidak tahu betapa berharganya dia sampai orang asing nanti datang dan mengaku menemukannya. Di sanalah surga ilmu pengetahuan bagi para tetumbuhan langka. Bagi para pencari burung, bagi para penikmat reptil. Setiap orang ingin mengunjunginya, sebagai pencapaian titik terjauh dalam jelajah Nusantara. Bangga ketika bisa berfoto bersama mereka yang masih menoreh-norehkan cat putih di tubuh. Berpose di rumah Honai, lalu pulang membawa setangkup sarang semut.

Hei,
Saya belum menyebutkan kayu putih yang tumbuh di kiri kanan jalan?
Kini mereka mengolah dan mengemasnya dengan begitu apik, sehingga pantas untuk dibawa kembali ke tanah Jawa. Memaksa setiap orang tuk menggunakannya, karena begitu ampuh mengentaskan angin-angin jahat di dalam tubuh.

Saya tertawa mendengarnya. Bagi saya masih sama, tidak ada angin jahat. Yang ada hanyalah pencernaan yang kurang terawat.

***

Malam ini, tiga hari selepas saya bertolak menggunakan burung besi dari kota itu, menempuh perjalanan yang seperti seabad lamanya, mencoba menikam mati pertanyaan-pertanyaan kusut tentang esok hari. Membungkam pikiran agar pergi bersembunyi. Malam ini, saya ingin bercerita tentangnya. Tentang kota yang menjadikan saya sebagai seorang asing. Seorang yang jika ditanya berasal dari mana, harus terdiam sejenak untuk berpikir dan menimbang. Untuk memilah mana yang perlu disebut dan mana yang disimpan saja.

I am from nowhere, to everywhere. 

Karena bahkan berada di sana pun, saya tidak merasa seperti sedang berada di rumah. Kota itu tidak pernah mengijinkan saya untuk menyebutnya sebagai rumah. Saya hanya berada di dalam satu kotak, bersama dengan orang-orang yang telah menjadi rumah. Kami hanya memiliki satu sama lain di sana. Tanpa sanak saudara, tanpa orang-orang yang bisa saya panggil om dan tante, paman dan bibi. Tidak ada rumah yang wajib kami kunjungi selepas sholat Idul Fitri. dan tidak ada pula ramai celoteh anak-anak kecil yang mengerumuni rumah kami seperti semut mengerumuni tetesan madu.

Lalu saya bertanya sendiri,
Bahkan sejak masih berada di sana pun, saya begitu terbiasa menyendiri. Beramai-ramai di siang hari, lalu mengunci kamar sekembalinya ke rumah. Hidup bersama kertas kertas yang saya susun menjadi kumpulan berita-kejadian-menarik. Menyimpannya dengan sepenuh hati. Lalu beralih ke buku demi buku, tenggelam dalam cerita yang menjanjikan dunia baru.

delapan belas? tujuh belas? tahun berlalu. Saya menemukan situasi yang serupa terjadi lagi. Ternyata jawaban dari pertanyaan mengapa saya begitu betah hidup sendiri, selama ini terjawab sekembalinya saya dari kota itu. Berikrar kali ini menyudahi kesenangan ini. Ya, sendiri itu menyenangkan. Tapi tidak membawa kemana-mana. Tidak ada ibadah yang bertambah, tidak ada berkah yang mudah di jala. Semuanya serba tantangan. Benteng dibangun tinggi pun kadang ada yang nakal sanggup menerobos. Mencoba bersembunyi pun saya tetap harus muncul di permukaan untuk tetap bisa bernafas. Jika tidak pandai-pandai berkilah, mudah sekali kaki ini terpeleset di jalan licin yang kerap saya lewati. Maka diam adalah satu hal yang paling pasti. Pasti menjaga, walau rasanya sepi.

Sekembalinya dari sana, saya tahu saya ingin menyudahi kebiasaan ini. Kebiasaan menarik diri. Kebiasaan bersembunyi karena takut ditinggal pergi.
Saya hanya tidak tahu mesti memulai dari mana, maka saya coba bercengkrama dengan Bulan. Temaramnya lembut menyembul belum sempurna. Saya bertanya pada Bintang, karena mereka bilang semua sudah tertulis di sana.

'Betapa senang hatiku,
Saat melihat wajahmu'

Menunggu untuk bertemu, atau dipertemukan.
Seperti Merauke yang dulu tidak ingin ditemukan namun kini sudah ramai dengan pendatang.
Saya pun demikian.
Hanya saja, saya tetap tidak ingin ramai.
Saya tetap ingin sunyi, yang bisa dinikmati tidak sendiri.
Atau tertawa pada satu dua hal yang tidak semua orang mengerti.
Untuk kemudian terdiam lagi.

Bukankah hidup ini hanya senda gurau?
Untuk apa tertawa berlebihan jika kita tahu memang ini hanya gurauan belaka.
Diam, sungguh lebih baik.
Menikmati setiap desir yang Dia beri, berfikir, tentang bagaimana penciptaan dan jalan yang tadinya sempit bertumbuh lebar dan membesar.
Meresapi, pada apa yang kita sebut dengan normal dan rutin.

Dia tidak ingin hamba-Nya bodoh. Dia ingin hamba-Nya berfikir. Memikirkan tentang-Nya. Tentang penciptaan-Nya. Tentang keteraturan-Nya. Keseimbangan-Nya.
Maka datanglah kemari..
Duduk di sini.
Kita resapi bersama pertanyaan-pertanyaan yang menari.
Dalam hening dan sunyi,
Mencari jawab, untuk apa kita hidup di Bumi.

***

Bogor, 14 Juni 2019
Hidup bagi saya selama ini, adalah berpindah dari satu kota ke kota lain. Lahir, besar dan tumbuh di tempat berbeda-beda. Menjadikan saya mengerti, bahwa perjalanan ini tanpa titik berhenti jika masih berakhir di sini. Nanti. Kelak akan datang suatu perhentian pasti. Dan berapa banyak dalam sehari, saya mengingat hari nanti. Hari yang sudah dijanjikan akan pasti terjadi.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …